Whatsapp Share Like
Simpan

Usia 1-3 tahun sering disebut sebagai fase aktif si Kecil dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Pada usia itu si Kecil seringkali penasaran dengan banyak hal. Rasa penasaran yang tinggi tersebut menyebabkan si Kecil umumnya tidak mengetahui tindakan atau perilaku yang benar dan salah. Sebagai orangtua, Ibu perlu mengarahkan si Kecil untuk berperilaku yang positif. Ibu berhak melarang si Kecil dalam beberapa hal dengan cara yang benar. Cara yang benar mampu membuat si Kecil berpikir pintar dan mengasah kecerdasan si Kecil.

Cara orangtua melarang si Kecil dapat mempengaruhi sikapnya dikemudian hari. Oleh karena itu, orangtua perlu mengetahui cara yang tepat untuk menolak permintaannya. Anak usia 1-3 tahun tidak menyukai kata larangan ‘tidak’ atau ‘jangan’. Kata larangan seperti itu memiliki konotasi negatif dan berpotensi membuat si Kecil memiliki kemampuan bahasa dan berkomunikasi yang kurang daripada anak lain yang sering menerima kata positif dari orangtuanya. Dengan mengatakan ‘tidak’ atau ‘jangan’ untuk melarang si Kecil, akan membuat si Kecil seringkali tidak mengindahkan larangan tersebut dan sebaliknya dengan sengaja melakukan hal yang kita larang.

Saat dilarang, si Kecil pada usia 1-3 tahun yang telah memiliki kemampuan berbahasa verbal seringkali bertanya ‘Kenapa?’ pada Ibu. Ketahuilah Bu, pertanyaan tersebut benar-benar diungkapkan si Kecil karena rasa penasarannya. Penting bagi Ibu untuk mengidentifikasi dulu tindakan yang telah dibuat si Kecil, lalu Ibu bisa menjelaskan dampak dari perbuatan yang telah si Kecil lakukan. Lalu, Ibu juga perlu mengetahui cara melarang anak dengan baik. Berikut merupakan cara-cara yang bisa Ibu lakukan untuk melarang si Kecil tanpa menyakiti perasaan dan mempengaruhi sikap si Kecil:

  • Gunakan kata lain selain ‘tidak’ dan ‘jangan’

    Menggunakan kata lain selain ‘tidak’ dan ‘jangan’ diharapkan bisa mengurangi si Kecil mengatakan kata yang sama. Ibu perlu berpikir lebih positif dan memberikan kepercayaan padanya sehingga si Kecil juga akan mempercayai Ibu. Mulailah mengganti kata larangan menjadi kalimat positif. Misalnya, daripada mengatakan “Jangan bermain di luar” lebih baik mengatakan “Mari main di dalam saja”. Ketika si Kecil merengek meminta sesuatu lebih baik mengatakan “Kita bisa melakukan itu nanti” daripada “Tidak boleh”.

  • Melarang dan Bernegosiasi

    Dalam melarang si Kecil, orangtua juga perlu sesekali bernegosiasi untuk meringankan pelarangan terhadap si Kecil dan mendengarkan pendapatnya. Misalnya, saat si Kecil tetap ingin bermain padahal sudah memasuki waktu tidur mereka, Ibu bisa mengatakan “Baik, Adik boleh bermain tapi hanya sebentar, kemudian Adik harus tidur ya!”. Namun, perlu diperhatikan juga kapan Ibu bisa bernegosiasi. Hindari negosiasi dengan anak jika memang tidak ada pilihan, misalnya, saat si Kecil harus benar-benar tidur.

    Artikel Sejenis

  • Berikan pujian pada perilaku yang benar

    Perlu bagi orangtua untuk memberikan pujian jika si Kecil melakukan sesuatu yang benar. Ibu sebaiknya memfokuskan pada perilaku si Kecil yang baik daripada fokus pada kesalahan si Kecil dan menghukum terus. Misal, saat si Kecil mulai bisa bermain pada tempat yang benar Ibu bisa memujinya dengan mengatakan “Wah, Adik pintar sudah bisa bermain bola diluar. Ibu jadi tidak perlu melarang Adik main bola lagi”.

  • Hindari menyogok

    Melarang si Kecil melakukan sesuatu dengan menawarkan imbalan lain membuat si Kecil menaati larangan karena imbalan akan sesuatu daripada karena si Kecil menyadari perilakunya. Misalnya, hindari untuk mengatakan “Kalau Adik tidak main bola di malam hari, Ibu akan berikan permen” dan gunakan “Main bolanya cukup di siang hari saja, jika di malam hari nanti tidur Adik bisa berkurang”.

Jika saat Ibu melarangnya, si Kecil menjawab dengan perkataan ‘Tidak mau,’ atau ‘Tidak bisa,’, jangan terburu-buru untuk menghukumnya. Ibu hanya perlu meyakinkan si Kecil bahwa ia bisa. Memberikan negosiasi pada si Kecil lebih menyenangkan dibandingkan si Kecil harus melakukan sesuatu secara otoriter.

Perlu juga bagi Ibu untuk selalu mengajarkan si Kecil rasa tanggung jawab atas perbuatannya. Misal, saat si Kecil menumpahkan sesuatu, beri si Kecil lap dan mintalah ia untuk membersihkannya. Selain meningkatkan perilaku baik pada si Kecil, hal tersebut juga meningkatkan kepintaran si Kecil.

Melarang si Kecil dan mendidiknya dengan cara yang benar mampu membuat si Kecil menghargai perilaku yang kooperatif. Kepintaran si Kecil akan membuatnya menyadari pentingnya mendengarkan dan saling berkompromi terhadap sesuatu. Pentingnya komunikasi orangtua dalam mengajarkan perilaku yang benar dan salah pada si Kecil juga menjadi cara yang utama. Berkomunikasi dengan si Kecil tersebut juga bermanfaat bagi pengembangan keterampilan sosial dan kognitif si Kecil.