Share Like
Simpan

Belakangan ini, saya makin takut Bu, kalau nonton tv atau baca koran. Soalnya fenomena bullying pada anak sedang ramai dibicarakan. Kasus-kasus yang terjadi pun terbilang cukup mengerikan. Langsung saya teringat si Kecil. Mungkinkah si Kecil bisa terkena bullying? Atau lebih parah lagi, mungkinkah saya sedang membesarkan seorang yang suka mem-bully? Ah, membayangkannya saja sudah membuat bergidik, Bu!

Saya jadi ingat cerita tentang seorang anak teman saya bernama Raina, usia 4 tahun. Suatu hari ia pulang dengan mata sembab. Sang Ibu bertanya padanya, apa yang terjadi? Raina pun menjawab, “Aku dibilang jelek sama Dino!’’

Ada lagi, Ibu Mila yang sedang berada di rumah, menerima telepon dari sekolah anaknya, Rafi. Gurunya  mengatakan bahwa Rafi mengejek salah satu murid dan menertawakannya di depan teman-teman yang lain hingga membuat murid tersebut menangis.

Kedua kejadian tersebut sebenarnya sering terjadi. Inikah yang dinamakan bullying? Setahu kita kan, bullying hanya bisa terjadi pada anak yang lebih besar. Lalu, apa namanya yang dilakukan Rafi dan dialami Raina? Biar semakin jelas, simak penjelasannya di bawah ini!

 

Fenomena Bullying Pada Anak 

Sebelum kita mengetahui cara menghindari bullying, ada baiknya untuk tahu apa sih, arti bullying itu sendiri.

Bullying pada anak adalah perilaku dari seorang anak untuk menakuti atau membahayakan anak lain. Pelakunya biasanya anak-anak atau remaja yang memilih anak lain yang lebih lemah, mengganggunya, dan mengulanginya setiap ada kesempatan. Bullying sering ditemui pada sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, sementara di tingkat sekolah menengah atas lebih jarang ditemui.

Fenomena bullying mulai terangkat beberapa tahun lalu. Namun, sebenarnya fenomena bullying sudah ada sejak dulu. Jujur saja, saya dulu sempat mengalaminya di SMP. Tapi karena perilaku tersebut belum terlalu umum, saat itu orang tua dan guru menyebutnya dengan istilah “menggencet” dan tidak dikategorikan sebagai sesuatu yang serius.

Seiring berkembangnya waktu, perilaku bullying semakin meluas dan dampaknya pun semakin parah. Salah satu contoh kasusnya yang sering muncul di media, Bu. Bullying dapat memakan korban jiwa, dan  jika tidak, bullying terbukti dapat membuat seorang anak merasa depresi, kepercayaan diri rendah, ketidakinginan untuk sekolah dan beraktivitas sehingga prestasinya menurun. 

Lalu, mengapa anak bisa menjadi bully? Padahal, rasanya kita tak pernah melakukan kekerasan kepada si Kecil. Ada banyak faktor Bu, yang mempengaruhi. Di keluarga, hal ini bisa terjadi karena kurangnya kehangatan dan keterlibatan orang tua, didikan yang sangat keras, atau malah bisa karena orang tua yang sangat permisif, atau keadaan di mana saudaranya menjadi bully terlebih dahulu.

Selain keluarga, faktor pertemanan juga bisa menyumbang pada perilaku bullying si Kecil. Dalam pertemanan, pastinya ada kan keinginan untuk diterima, memantapkan posisi dalam pertemanan, dan sebagai suatu bukti bahwa ia pantas menjadi pemimpin. Terutama bagi anak laki-laki. Tak dapat dipungkiri juga, media seperti film dan video games juga berperan dalam fenomena ini.

 

Bullying Pada Balita, Apakah Ada?

            Dengan pengertian tersebut, seharusnya kan, bullying dilakukan oleh anak yang lebih besar atau minimal duduk di sekolah dasar. Tapi dengan peristiwa ‘’aku dibilang jelek” tadi, apakah itu bullying?

Ada beberapa pemahaman dari beberapa ahli nih, Bu. Menurut Dr. Heather Wittenberg, psikolog anak dari Maui sekaligus ibu dari 4 anak, seorang bully menyakiti atau mengintimidasi orang lain yang mereka lihat lebih lemah. Nah, seorang anak yang masih sangat kecil, menurutnya tidak memiliki kemampuan kognitif untuk secara sengaja menyakiti atau berkuasa.

Kalau menurut Dr. Heather, bullying melibatkan rencana dan pemikiran yang kompleks. Sedangkan kemampuan untuk membedakan benar salah (atau mempermalukan orang lain) tak akan muncul hingga ia berumur 6, tambah Dr. Heather. “Kita sering salah paham dalam membedakan bullying dengan agresif,” tambahnya lagi.

Ada alasan apa di balik perilaku kurang menyenangkan tersebut ya? Alasan seorang balita melakukan bullying bisa berbagai macam Bu, mulai dari meniru orang lain atau mendapatkan perhatian. Namun ada juga anak yang bertujuan mem-bully adalah untuk menyakiti anak lain. Nah, perilaku ini haruslah segera dihentikan.

 

Bagaimana Menjauhkan Anak dari Perilaku Bullying?

            Terlepas dari ada tidaknya perilaku bullying pada balita, usia tersebut adalah saat yang tepat bagi kita Bu, untuk mengawasi dan membentuk perilaku anak untuk tidak menjadi bully. Selain itu, kita juga harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan si Kecil menjadi korban bully dan cara-cara menghadapinya.

Mari mulai dengan menanamkan sifat positif pada anak dan sebisa mungkin hindari hukuman fisik dan kekerasan di rumah. Berikan ia kata-kata yang baik dan perhatian cukup, agar ia tak perlu lagi mencari perhatian di luar rumah. Paling penting lagi, usahakan agar Ibu tak berharap terlalu tinggi dari si Kecil, namun juga jangan terlalu rendah. Hal terakhir ini agak sulit ya, tapi itu dia tantangannya, Bu!

Empati juga dibutuhkan dalam mencegah perilaku bullying. Apapun yang sedang dirasakan si Kecil, katakanlah bahwa Ibu juga merasakannya, dan dengarlah alasannya. Kemudian berikan penjelasan dan solusi untuk meredam emosinya.

Lalu, bagaimana jika si Kecil menjadi korban bullying? Pertama, harus dari Ibu sendiri. Sekesal apa pun hati Ibu, selalu usahakan untuk segera menghilangkan perasaan shock dan dendam supaya Ibu tak merespon negatif. Nah, jika Ibu sudah tenang, tularkan pada si Kecil. Ajarkan ia untuk selalu tenang dan percaya diri. Jika level bullying yang dideranya masih belum parah, coba minta ia untuk pergi saja jika ada yang mengganggunya. Ajarkan kata-kata, “Aku tak takut padamu!”, atau, “’Akan aku adukan pada guru!”

Namun jika bullying sudah terjadi pada level yang benar-benar mengganggu dan menyakitinya, selalu yakinkan bahwa Ibu ada untuknya. Berikan ia pengertian bahwa akan ada teman-teman yang menyayangi dan menghargainya di lingkungan lain. Kalau memungkinkan, ajak ia mencari teman lain di tempat lain. Atau Ibu bisa membicarakan hal ini kepada guru atau siapapun yang memegang kendali di lingkungan tersebut.

Memang tak mudah ya, Bu, menghadapi bullying yang sekarang semakin umum di kalangan anak. Pastikan saja Ibu memberikan cinta yang cukup untuknya dan ketenangan di dalam rumah. Lingkungan positif dan selalu mendengarkan akan membuatnya menjadi pribadi yang positif pula, Bu. Semoga kita semua selalu jauh dari bullying ya, Bu!