Share Like
Simpan

Sudah menjadi sifat anak-anak senang menjelajah, bereksperimen, dan menemukan sesuatu hal yang baru atau menarik baginya. Mereka belajar tentang dunia dari sekeliling mereka, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Adakalanya dalam kegiatan mereka ‘terselip’ kegiatan yang sangat baik, karena di dalamnya tercipta kreativitas maupun inovasi yang kelak sangat berguna.

Sebenarnya apa itu kreativitas dan inovasi bagi anak-anak? Kedua hal itu adalah dua sisi berbeda dari satu koin. Kreativitas adalah kemampuan untuk berkreasi, sedangkan inovasi adalah kreasi yang dihasilkan dari pembelajaran dan pengalaman. Pada dasarnya, inovasi adalah penerapan praktis dari kreativitas. Anak yang diajarkan sejak dini akan mungkin menumbuhkan imajinasinya, dan akan memberikan stimulus baru pada cara-cara yang mungkin tak terduga.

Anak bisa saja tidak memiliki inovasi tanpa kreativitas. Ia tidak menyadari dirinya penuh kreativitas potensial jika tidak melakukan inovasi. Kedua hal itu adalah keahlian-keahlian penting yang akan sangat berguna di masa depan, karena di dalamnya memunculkan kekuatan dan kepercayaan diri.

Menurut para ahli, kegiatan kreativitas dalam masa anak-anak akan mengingatkan kembali otak anak untuk berpikir keluar dari dalam boks (thinking out of box). Kenyataannya, analogis, bermain, intuisi, dan imajinasi adalah kunci untuk memecahkan problem-problem rumit. Sebagaimana pentingnya mengajarkan anak-anak menjadi kreatif dan tetap menjaga semangat kreatif itu sepanjang hidup mereka, penting pula mengajarkan inovasi sebagai suatu bagian dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Economic Development Quarterly, diketahui orang yang berkecimpung dalam kegiatan seni saat anak cenderung mampu memiliki bisnis dan paten saat dewasa. Latar belakang artistik mengajarkan tahapan berpikir yang tak biasa. Mereka telah menggunakan keahlian-keahlian ‘artistitik’, seperti analogi dan imajinasi, dalam memecahkan masalah yang ada.

Suatu studi dari Michigan State University menemukan bahwa partisipasi dalam seni dan craft dalam masa kanak-kanak cenderung akan mengarahkan mereka pada inovasi. Para peneliti mendapati kesimpulan bahwa orang-orang yang punya bisnis sendiri atau hak paten saat dewasa memiliki kesempatan dalam hal seni hingga delapan kali lebih baik pada masa anak-anaknya dibandingkan orang lain.

Latihan musik pada masa anak-anak terbukti juga sangat penting menanamkan suatu pemikiran kreativitas dan inovatif. Bukan suatu kebetulan kalau Albert Einstein bermain biola secara teratur sejak masa anak-anak.

Contoh lain adalah dari Steve Job, pendiri ‘Apple’. Ayahnya bekerja sebagai seorang mekanik dan tukang kayu yang mengajarkannya cara-cara bekerja dengan tangannya. Sejak masih muda, Steve Job bekerja sebagai ahli elektronik di dalam garasi rumah orang tuanya. Sebagai hasilnya, ia mengembangkan suatu hobi teknis tanpa keahlian sama sekali. Dan akhirnya ia hanya sekolah selama enam bulan, namun selama 18 bulan belajar di kelas kreatif dan menjadi terobsesi dengan kaligrafi. Semua itu ternyata menjadi dasar baginya menciptakan komputer Apple.

Tentu tak ada salahnya bila Ibu mulai mengajarkan si Kecil untuk berpikir secara kreatif, yakni dengan:
• menggunakan teknik-teknik kreasi ide
• menciptakan ide-ide baru dan bermanfaat
• menguraikan, menyaring, menganalisis, dan mengevaluasi ide-ide asli mereka agar bisa memperbaiki dan memaksimalkan usaha-usaha kreatif.

Biarkan si Kecil berkreasi dengan apapun yang ia mau. Tugas Ibu adalah mengarahkannya, sekaligus memberinya dorongan dan semangat agar minat itu terus tumbuh dan berkembang sepanjang berdampak positif baginya.