Share Like
Simpan

Orangtua mana yang tidak mau memiliki anak yang mudah diberitahu dan mau mendengarkan perintah dengan baik. Rasanya, sifat si Kecil yang seperti itu adalah impian semua orangtua.

Pada dasarnya, anak-anak telah dibekali dengan sifat dan karakter yang berbeda-beda sejak lahir. Perbedaan inilah yang menyebabkan adanya anak yang mudah menurut dan ada pula anak yang aktif mengeksplorasi hal baru, sehingga kadang tidak langsung mengikuti perkataan orangtua.

Dulu, saya selalu berharap kalau anak saya bisa menjadi seseorang yang bisa menuruti perintah orang tuanya. Namun, semuanya itu berubah ketika ada teman saya yang bercerita kepada saya, “Anak saya kok apa-apa menurut saja ya? Apa nantinya ia akan punya inisiatif sendiri?” Setelah dipikir-pikir, iya juga ya, Bu.

 Pertanyaan tadi mungkin muncul di benak para ibu yang memiliki anak penurut. Jika ia benar-benar mengikuti semua kata orangtua dikhawatirkan akan menjadi individu yang tidak berinisiatif dan sulit mengambil keputusan.

Penurut dan hormat

Ternyata, dalam mendidik si Kecil, Ibu harus membedakan yang namanya penurut dan hormat. Menurut seorang psikolog anak, Toge Aprilianto, mendidik anak agar bersikap patuh dan menuruti segala yang dikatakan orangtua sama halnya dengan mengendarai delman, semua serba dikendalikan.

Lain halnya dengan mendidik anak untuk bersikap hormat dan menghargai perkataan orangtua. Ia lebih cenderung untuk diberikan pilihan, jika ia tidak mau melakukan yang kita minta, maka harus siap untuk menerima konsekuensi nantinya. Memberikan pilihan juga akan membuat anak merasa lebih dihargai.

Inilah sebabnya ketika mendidik si Kecil, saya selalu berusaha untuk memberikannya pilihan. Misalnya, setiap ia menolak makan, saya akan tawarkan apakah ia mau makan es krim. Nah, setelah ia menjawab “mau” saya akan mengatakan “Oke, tapi makan dulu ya?” Cara seperti itu dapat membuat ia tahu keuntungan yang akan didapatkan jika melakukan apa yang saya minta.

Apabila jurus tawaran tersebut tidak mempan, biasanya saya akan berikan pilihan juga, bedanya pilihan yang satu lagi adalah risiko yang harus ia tanggung. Misalnya, ketika ia menolak makan malam. Saya akan memberinya dua pilihan “Kamu mau makan malam, nggak? Kalo nggak, malam ini ngga ada acara nonton TV, ya.

Selain dua jenis pilihan di atas, Ibu juga bisa memberikan pilihan yang sifatnya netral, yakni pilihan yang tidak mengandung risiko maupun keuntungan. Misalnya, saat meminta ia untuk tidur siang, Ibu bisa memberinya pilihan mau tidur siang sekarang atau nanti sepulang dari supermarket.

Terbiasa mengambil keputusan

Mendidiknya dengan memberi banyak pilihan, dapat mengasah kemampuannya untuk cermat dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, jika si Kecil selalu diarahkan menjadi anak yang penurut dikhawatirkan nantinya ia tidak mampu untuk berinisiatif dan mengambil keputusan sendiri.

Jika ia sudah terbiasa untuk menerima segala hal yang dipilihkan untuknya, ketika tumbuh nanti ia akan sulit menjadi dewasa dan mengatur diri sendiri. Berbeda dengan didikan untuk menjadi anak yang menghormati perintah orangtua. Secara langsung ia akan mengerti seberapa penting ia harus melakukan hal tersebut.

Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan menghormati orang lain apabila ia pun diperlakukan dengan cara serupa. Oleh karena itu, sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai tersebut pada si Kecil sejak dini, Bu.

Apakah Ibu memiliki pengalaman serupa dengan saya? Jika iya, bagikan dengan ibu-ibu lain di sini, yuk!