Share Like
Simpan

Halo, Bu! Tadi saya bertemu saudara yang bercerita tentang anaknya. Ia sedang bingung, karena si Kecil yang masih berusia lima tahun itu sudah mulai mengerti serunya nonton program televisi dan film. Tidak jarang, ia bahkan meminta untuk nonton film action. ah, pasti jadi dag dig dug ya, Bu. Pasalnya, film action kebanyakan mengandung materi-materi yang kurang cocok untuk ditonton si Kecil, seperti kekerasan.

Menurut artikel yang saya baca di situs kidshealth.org, ada banyak manfaat yang bisa mendukung proses belajar dari menonton film. Namun, jenis film bergenre action yang sarat dengan aksi kekerasan memang bisa memberi pengaruhkurang baik bagi si Kecil. Ia akan menjadi lebih agresif dan permisif terhadap kekerasan. Apalagi, aksi kekerasan tersebut juga sering dilakukan oleh tokoh utama atau jagoan dalam film. Ada ketakutan bahwa si Kecil akan meniru aksi sang jagoan dalam kehidupan nyata, karena melihat itulah cara sang jagoan di film untuk menyelesaikan masalah.

Namun, melarang ia untuk menonton film-film action itu pun cukup sulit. Khawatirnya, saking inginnya menonton film tersebut, ia malah mencari cara untuk menonton sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan kita. Pilihan kembali kepada Ibu sendiri, apakah akan memberi izin si Kecil untuk menonton film action atau tidak.

Jika Ibu memilih untuk mengizinkannya menonton film action, ada tugas-tugas yang harus Ibu lakukan. Pertama, cari tahu dan lakukan riset tentang film yang ingin si Kecil tonton. Ibu bisa mencari ulasan dan rating film tersebut, misalnya melalui situs resmi film atau bioskop favorit di internet. Rating ini dibuat untuk memberi petunjuk bagi orang tua, namun bukan untuk memberi keputusan apakah film itu bisa ditonton si Kecil atau tidak. Supaya lebih jelas, berikut adalah beberapa rating film yang perlu Ibu ketahui menurut MPAA (Motion Picture Association of America).

  • G (General Audiences):  Boleh ditonton semua umur
  • PG (Parental Guidance Suggested): Beberapa materi tidak cocok untuk ditonton anak-anak.
  • PG-13(Parents Strongly Cautioned): Beberapa materi tidak pantas ditonton oleh anak-anak berusia di bawah 13 tahun.
  • R (Restricted): Anak-anak berusia di bawah 17 tahun yang menonton film ini harus ditemani orang tua atau mendapat pengarahan dari orang dewasa.
  • NC-17: Film ini tidak boleh ditonton oleh anak-anak berusia 17 tahun dan 17 tahun ke bawah.

Sedangkan di Indonesia sendiri, ada beberapa kategori rating dengan logo atau tanda yang berbeda dari keputusan MPAA, yaitu:

  • A / SU : Anak / Semua Umur.
  • BO / A: Bimbingan Orang tua / Anak (mulai dari usia 4 s/d 7 tahun).
  • BO: Bimbingan Orang tua (mulai dari usia 5 s/d 12 tahun).
  • BO - R/R: Bimbingan Orang tua - Remaja (mulai dari usia 13 s/d 16 tahun).
  • D: Dewasa (usia minimal 17 tahun).

Sebaiknya Ibu sudah menonton dulu film tersebut, baru memutuskan apakah film itu bisa diterima oleh si Kecil. Jika materi film dianggap masih cocok untuknya, maka tugas berikutnya adalah mendampingi si Kecil saat menonton. Sangat penting bagi Ibu untuk tetap berkomunikasi dengannya selama menyaksikan tayangan tersebut. Ibu bisa menutup mata si Kecil jika film tersebut sampai pada bagian yang belum pantas ditonton olehnya, seperti adegan berciuman dan sebagainya.

Ibu juga harus siap dengan jawaban sederhana kenapa Ibu melakukan itu, seperti, “Kamu belum boleh melihat adegan yang ini, ya sayang, karena kamu belum cukup umur.” Melalui peraturan seperti ini, ia pelan-pelan belajar bahwa ada hal-hal yang baru boleh didapatkan setelah usianya lebih dewasa.

Nah, saat film sudah selesai, bicara dan berdiskusilah dengan si Kecil tentang apa saja yang terjadi di film tersebut. Ajak ia untuk menjadi penonton kritis dengan bertanya soal bagaimana ia akan bersikap jika hal yang dialami oleh tokoh utama terjadi kepadanya. Mulailah dengan bertanya pada si Kecil, “Bagaimana filmnya? Menurut kamu, apakah tidak apa-apa berkelahi seperti di film?” 

Beri pemahaman kepadanya tentang konsekuensi dari melakukan kekerasan kepada orang lain. Sampaikan kepada si Kecil dengan jelas dan bijak apa yang menjadi pendapat dan pemahaman Ibu sendiri. Tidak boleh ketinggalan, jelaskan padanya, bahwa film yang ia tonton itu adalah kisah fiksi dan sangat berbeda dengan apa yang terjadi di dunia nyata.

Semoga setelah tahu cara yang tepat mendampinginya, Ibu tidak lagi khawatir ya ketika si Kecil menonton film action. Baiknya lagi, Ibu juga bisa meluangkan waktu untuk menonton bersamanya. Selamat menonton, Bu!