Si Kecil menolak untuk mengganti bajunya, tidak menghiraukan permintaan Ibu untuk merapikan mainannya dan bermain bola di dalam rumah padahal Ibu berkali-kali menegurnya untuk tidak bermain bola di dalam rumah. Ada masanya si Kecil menjadi pemberontak yang tidak mau mendengarkan kata-kata Ibu. Kapan biasanya hal ini terjadi dan bagaimana menyiasatinya?
Sikap memberontak merupakan bagian dari perjalanan si Kecil menuju kemandirian. Sejalan dengan pertambahan usianya, si Kecil akan mulai menemukan otonominya yang muncul sebagai suatu ‘pemberontakan’. Pada masa ini, si Kecil tidak mau begitu saja menuruti apa yang Ibu katakan.
‘Pemberontakan’ ini mulai muncul ketika si Kecil mulai mengenal dan memahami kata ’tidak’. Meredakan ‘pemberontakan’ si Kecil, Ibu harus ekstra sabar. Jangan menghadapinya dengan sama-sama bersikeras. Jika Ibu menunjukkan ‘perlawanan’, justru si Kecil akan merasa bahwa dia dapat mengendalikan emosi Ibu dan membuat Ibu frustasi.
Lalu, apa yang sebaiknya Ibu lakukan?
• Jangan terus menerus menekankan perilaku buruknya karena justru akan memicu si Kecil untuk lebih memberontak. Tunjukkan ketegasan yang penuh kelembutan, alihkan hasrat membangkangnya menjadi aktivitas menggambar atau bermain musik sehingga kekuatan energi berontaknya tersalurkan menjadi hal positif.
• Jeli mengamati apa penyebab si Kecil memberontak. Coba perhatikan ‘pola’nya. Jika si Kecil memberontak setiap kali saudara sepupunya main ke rumah, maka kemungkinan penyebabnya adalah cemburu karena harus berbagi perhatian dengan sepupunya dan tidak dapat menguasai perhatian Ibu.
• Dorong untuk bersikap baik. Lebih mudah mendorong si Kecil untuk bersikap baik daripada mencegahnya untuk bersikap negatif. Ketika menunjukkan sikap membangkang, segera alihkan perhatiannya. Katakan bahwa Ibu memerlukan bantuannya, misalnya untuk mengambilkan kaca mata Ibu di dekat meja televisi. Saat kembali membawakan kaca mata, ucapkan terima kasih dan ceritakan hal lain yang dapat mengalihkan perhatianya dari ‘niat’ nya untuk membangkang tadi.
• Beritahukan beberapa menit sebelumnya apa yang harus dikerjakan si Kecil selanjutnya. Misalnya 10 menit sebelum waktunya menggosok gigi, ingatkan “setelah selesai mewarnai, ade gosok gigi lalu tidur ya”. Jadi jangan tiba-tiba Ibu berkata “ayo de udahan yu mewarnainya, sekarang kita gosok gigi lalu tidur”. Ini bisa memancing si Kecil untuk memberontak dan menolak melakukan ‘tugas’nya menggosok gigi dan tidur.
• Biarkan si Kecil menentukan pilihan. Untuk memenuhi hasrat otonominya, tidak ada salahnya jika Ibu membiarkan si Kecil menentukan pilihannya. Misalnya ketika akan berkunjung ke rumah nenek, siapkan 2 sepatu, dan biarkan si Kecil memutuskan sendiri sepatu yang mana yang akan dipakainya. Atau saat menyiapkan sarapannya, tanyakan apa yang diinginkannya, sereal atau roti bakar.
Selama dalam batas wajar dan masih bisa ditolerir, Ibu tidak perlu khawatir. Yang penting Ibu harus waspada dan segera bertindak jika ‘pemberontakan’ ini sudah berlebihan. Diperlukan kesabaran ekstra agar si Kecil memahami dan mempelajari bahwa membangkang bukan merupakan cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Terima kasih atas infonya FF
terima kasih infonya ff
Makasih atas infonya FF
Makasih atas infonya FF
Ibu&Balita FF makasih banyak info nya,sangat bermanfaat..
Mkash ff tipsnya...
makasih banyak yah atas infonya ff sangat berharga sekali dan bermanfaat banget buat saya ....
Nice artikel..makasih Ibu dan Balita, sangat bermanfaat
nice info bermanfaat sekali, makasih
mksh infonya FF...<br />
Thanks Infonya FF..
betul bgt anakku yg kedua cenderung pemberontak jd harus lembut namun tegas
nice info....thanks FF
nice info makasih, sangat bermanfaat buat saya
wow infonya bagus sekali
nice info makasih, sangat bermanfaat buat saya