Share Like
Simpan

Saat si Kecil mendapatkan predikat nilai tertinggi di sekolah semester lalu, tentu saya luar biasa bangga. Saking bangganya, saya memberikan ia hadiah mainan yang sudah lama ia idam-idamkan. Tak hanya itu, saya juga memberikan uang jajan tambahan selama seminggu penuh.

Namun, Ayah merasa bahwa tindakan saya berlebihan. Lho, kan ini demi memotivasi si Kecil di semester berikutnya, pikir saya waktu itu. Setelah melakukan pembicaraan panjang lebar, ternyata Ayah ada benarnya juga.

Ayah mengatakan bahwa kita sebagai orangtua harus mengajarkan anak bahwa PR dan tugas sekolah adalah tanggung jawabnya, bukan sesuatu yang dilakukan demi mendapatkan uang atau hadiah. Jika kita memberikan “upah”, lama kelamaan akan tertanam konsep bahwa ia melakukan semua itu semata-mata demi mendapat hadiah atau uang, bukan untuk mempelajari hal baru.

Hal ini akan menjadi bumerang bagi kita saat si Kecil memiliki pemikiran “Kenapa aku harus melakukannya kalo aku ngga dapet uang.” Nah, pada akhirnya, kita juga yang repot jika ia telah menerapkan sistem kerja upah pada segala hal.

Tidak Sepenuhnya Memotivasi

Seorang psikolog pendidikan, Michele Borba, mengatakan bahwa memberikan hadiah ketika anak menghasilkan nilai yang bagus di sekolah tidak sepenuhnya berhasil memotivasi. Justru pemberian hadiah akan menghilangkan kreativitas dan juga motivasi dari dirinya sendiri. Borba juga menambahkan bahwa bukannya tumbuh kecintaan pada suatu materi pelajaran, anak akan lebih mencintai uang dan hadiah yang dijanjikan.

Memberikan iming-iming hadiah ketika meraih prestasi, dapat membuat si Kecil tidak menyadari kemampuan untuk mengontrol kesuksesannya sendiri. Hal ini wajib diperhatikan karena anak adalah satu-satunya orang yang paling bertanggung jawab untuk memotivasi diri mereka sendiri.

Alternatif Selain Hadiah

Cara terbaik untuk membantu ia lebih termotivasi adalah dengan membantunya menyusun tujuan yang ingin dicapai. Selain itu, Ibu bisa juga memberi dorongan agar si Kecil terus berusaha sekuat tenaga hingga keinginan tersebut dapat diraih.

Sejauh ini, penelitian membuktikan bahwa memberikan pujian ketika ia berhasil meraih prestasi adalah cara terbaik untuk mendorong kesuksesan anak dalam proses pembelajaran, kata Borba. “Hadiah” verbal tersebut lebih mampu membuat si Kecil semakin terpacu dalam menghasilkan nilai-nilai tinggi lainnya.

Apresiasi atau pujian atas prestasi yang telah ia capai dapat meningkatkan rasa percaya diri si Kecil. Ia pun akan merasa lebih dihargai sebagai seorang individu. Pujian yang diberikan sebaiknya tidak dikatakan secara berlebihan karena justru akan menghilangkan makna dan kesungguhan di dalamnya.

Sekarang, setiap si Kecil berhasil meraih juara kelas atau prestasi lain, saya berusaha untuk memberikan pujian atas usaha dan perjuangan kerasnya meraih prestasi tersebut. Sesekali saya juga memberikan penghargaan berupa liburan ke taman bermain air. Selain untuk mengusir penat dan menghindari kejenuhannya belajar, acara liburan ini juga saya lakukan untuk mempererat ikatan antara saya, si Kecil, dan Ayah.

Perlu diperhatikan, Bu bahwa dalam proses pencapaian prestasi seorang anak, yang dibutuhkan tidak hanya motivasi dari dalam dirinya, namun juga dukungan moral dari Ayah dan Ibu. Terus dukung ia dalam menggali setiap potensi yang dimilikinya agar dapat meraih prestasi yang membanggakan.

Bagaimana pendapat Ibu tentang pemberian hadiah pada si Kecil? Bagikan di sini, yuk!