Share Like
Simpan

Masa anak-anak merupakan saat si Kecil bereksplorasi dengan hal baru. Sewajarnya, rasa penasaran dan ingin mencoba-coba jadi sebuah pengalaman belajar di tahap tumbuh kembangnya. Namun, sebagai orang tua, pasti ada rasa khawatir dengan segala eksperimennya ya, Bu?

Mungkin di antara Ibu ada yang pernah secara sengaja maupun tidak membentak si Kecil. Dulu, saya pernah secara refleks membentak si Kecil ketika dia mendekati kompor yang sedang menyala. Tentu dia langsung menangis karena kaget dengan suara melengking saya. Sejak saat itu, saya sangat berhati-hati dalam mengontrol emosi dan berusaha mencari tahu alternatif lain untuk mengingatkannya.

Saya kemudian menemukan sebuah artikel menarik dalam situs Todaysparent.com. Jadi, ternyata membentak sama buruknya dengan memberikan hukuman fisik pada anak, Bu. Membentak juga dapat menyebabkan permasalahan perilaku dan perkembangan emosinya kelak ketika besar nanti. Bahkan, menurut para peneliti di University of Pittsburgh dan University of Michigan,  anak-anak dan remaja yang sering mendapatkan hukuman verbal dan bentakan juga cenderung memiliki masalah perilaku dan tindakan seperti vandalisme maupun kekerasan.

Memang Bu, rasa-rasanya sangat sulit untuk mengontrol emosi ketika si Kecil masih melakukan hal yang sama secara berulang-ulang meskipun sudah dilarang. Di sisi lain, Ibu tidak mau kan jika ia mengalami masalah perilaku dan perkembangan emosi? Oleh sebab itu, berikut ini ada beberapa tips yang biasa saya gunakan agar tidak perlu membentak si Kecil:

 

1. Atur pernapasan.

Ketika kesabaran Ibu sudah menipis dan si Kecil tetap ngeyel sebaiknya jangan langsung bertindak. Carilah udara segar dan tarik napas dalam-dalam kemudian hembuskan secara perlahan. Lakukan pernapasan ini secara teratur hingga Ibu merasa tenang.

Michelle LaRowe menjelaskan dalam bukunya A Mom's Ultimate Book of Lists, ketika sedang kesal sebaiknya luangkan waktu sejenak, tenangkan hati dan pikiran. Ambil napas dalam-dalam, baru kemudian pikirkan apa yang akan Ibu katakan pada si Kecil.

 

2. Buat si Kecil mengerti dengan cara yang halus.

LaRowe juga mengatakan bahwa ketika berbicara pada anak dengan suara yang lembut dan tenang tapi tegas, mereka akan cenderung mendengarkan. Semakin Ibu menggunakan suara yang lembut dan tenang, semakin besar dampak yang didapatkan.

Sebaiknya, jelaskan pada si Kecil mengapa ini salah dan itu benar Misalnya, jelaskan bahwa ia tidak boleh menonton TV hingga larut malam supaya besok bisa bangun pagi dan tidak terlambat. Pada masa perkembangannya, memang ia sangat membutuhkan panduan untuk mengetahui yang mana yang salah dan yang mana yang benar.

 

3. Berikan pujian & hukuman yang tepat.

Anak-anak sangat senang ketika merasa diperhatikan. Sebuah pujian ketika ia berperilaku baik akan membuatnya merasa dihargai dan belajar bahwa yang dilakukannya adalah hal yang benar. Sebaliknya, sebuah hukuman juga perlu diterapkan ketika ia berbuat nakal. Namun, tentunya berikan penjelasan juga di balik hukuman yang Ibu berikan padanya. Misalnya, “Sayang, karena kamu tidak mau makan, hari ini kamu tidak boleh bermain bola, ya.” Satu lagi, berikan hukuman yang konsisten agar ia bisa mengerti kesalahannya.

Anak merupakan anugerah yang luar biasa. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua wajib menuntun mereka untuk menjadi pribadi yang sebaik-baiknya di masa tumbuh kembang ini. Semoga artikel yang saya bagikan hari ini bisa membantu ya, Bu. Terima kasih sudah membaca!