Share Like
Simpan

Tak ada yang lebih lucu dari melihat sepasang bayi kembar ya, Bu! Bayi satu saja sudah sangat menggemaskan, bagaimana jika dikali dua? Saya saja ingin sekali memiliki anak kembar!

Mungkin sebagian Ibu berpikir bahwa anak kembar cenderung lebih akur, seperti halnya anggapan saya dulu. Ternyata tidak selalu, lho! Berbeda dengan kakak adik, anak kembar yang lahir bersamaan, membuat mereka harus ‘bersaing’ mendapatkan perhatian dari Ibu dan Ayah dalam waktu yang sama. Perjuangan mereka lebih berat, Bu. Oleh sebab itu, meski terlihat sepele, pertengkaran anak kembar yang terjadi biasanya cukup serius.

Ibu memiliki anak kembar? Atau penasaran saja bagaimana ya, trik dalam mengatasi persaingan si kembar? Yuk kita simak sama-sama!

Mengapa si Kembar Bersaing?

Saya mau berbagi cerita nih Bu, tentang beberapa teman saya yang memiliki anak kembar. Ibu Dila, teman saya kuliah dulu, mengatakan bahwa kedua anak kembarnya, Rafi dan Dion, 5 tahun, selalu  bertengkar tentang apa saja. Seperti meributkan mangkuk siapa yang lebih besar, sisi mobil mana yang harus diduduki, atau siapa yang lebih tinggi.

Sedangkan Ibu Tary, tetangga saya, mengeluhkan bahwa kedua anak kembar perempuannya yang baru berusia 2 tahun selalu dibandingkan. Terlahir menjadi kembar memang sangat rentan untuk dibandingkan Bu, terutama dari lingkungan sekitarnya. Orang lain terbiasa dan beranggapan jika ada anak kembar maka yang satu akan lebih “bernorma”’ dari yang lain. Bisa jadi, yang satu lebih pendiam, yang satu nilai di sekolahnya lebih bagus, atau yang satu lebih cantik atau tampan dibanding yang lain.

Memang sulit menghindari hal ini di luar rumah Bu, sekali pun orang tua sebenarnya sudah sangat berusaha untuk menghindari membandingkan anak di rumah. Tak bisa disalahkan juga karena biasanya lingkungan melakukannya secara reflek saja. 

Akibatnya, atmosfir persaingan pada si Kembar sangatlah tebal. Tak hanya meributkan hal sekecil apa pun, mereka ingin jadi pusat perhatian dengan selalu ‘memperebutkan’ posisi mana yang lebih baik di rumah. Pantas saja mereka sering sekali bertengkar.

Tak perlu khawatir, Bu. Ada triknya, kok!

1. Stop Membandingkan si Kembar

Sulit ya, Bu, menghindari kata-kata perbandingan si kembar saat sedang di luar rumah. Bisa saja datang dari tante sendiri, atau orang asing di supermarket (“Wah, yang ini lebih putih ya! Satu lagi hitam!”). Aduh, rasanya jengkel sekali deh.

Namun, Ibu dan Ayah bisa menerapkan cara-cara di bawah ini di rumah. Misalnya ketika sedang makan malam keluarga dan tante Gina mengatakan, “Wah pintar kamu Rafi! Ayo Dion kayak Rafi dong.” Saat selesai makan malam, Ibu bisa memanggil keduanya dan bilang, “Tadi tante Gina cuma bercanda, jangan dipikirkan, ya. Kalian berdua sama pintarnya.”  Cara ini akan menenangkan mereka sekaligus menghindari keributan di meja makan tanpa perlu menegur tante Gina.

Terkadang, walaupun kita tahu kita tak boleh membandingkan si kembar, godaannya memang terlalu kuat ya Bu. Kita sendiri seringkali menggunakan perbandingan dalam usaha memuji dan meningkatkan percaya diri si Kecil. Namun, ketika kemudian si Kecil menyadari bahwa kembarannya kurang baik dalam membaca, maka ia akan terus membaca agar mendapat pujian. Di sinilah kompetisi bisa dimulai.

Yuk, biasakan untuk menggunakan pendekatan yang lebih baik dalam memuji (“Wah hebat sekali kamu dalam membaca!”) atau  dalam mengungkapkan harapan (“Yuk bereskan mainannya, agar rapi dan kamu lebih tenang saat makan”) tanpa membandingkan keduanya. Hindari selalu perbandingan ya, Bu!

2. Pendekatan Individual

Selanjutnya, Ibu harus waspada dalam memperlakukan si Kembar layaknya satu unit atau satu paket. Sering sekali ya, kita lupa bahwa mereka adalah individu istimewa, memiliki keunikannya sendiri, hanya saja terlahir bersama. Oleh karena itu, harus ada waktu spesial bagi mereka sendiri dalam mengeksplor diri masing-masing.

Menurut Pamela Prindle Fierro, ahli kembar dari Amerika, ciptakanlah sebuah rutinitas baru bersama si Kembar secara sendiri-sendiri. Misalnya sebelum tidur, setelah membacakan buku cerita, ajaklah si Kecil berbicara tentang isi hatinya. Bisa tentang harinya, teman-temannya, atau hal yang diinginkan dalam doa. Setelah berbicara, tanyakan pada mereka pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuat mereka mengapresiasi diri sendiri dan saudara kembarnya.

Mulai dengan, “Ceritakan dong sama Ibu, apa yang paling kamu suka dari dirimu atau yang bikin kamu senang hari ini.” Jika si Kecil memulainya dengan hal yang membuat mereka merasa beruntung, maka akan lebih sulit untuk memunculkan pikiran benci pada orang lain, bukan? Lalu lanjutkan pertanyaan Ibu, “Terus, apa yang kamu sukai dari saudara kembarmu, dan membuatmu berasa beruntung memiliki dia?” Awalnya pasti dia hanya akan menjawab, “Dia baik,”atau “’Dia pintar”, namun jika ditanya setiap malam, mau tak mau jawabannya akan “naik level” menjadi “Aku senang kalau dia bawakan minum untukku waktu aku haus,” atau “Dia pintar matematika, aku senang jadi ada yang mengajari.”

Trik penanaman rasa menghargai terhadap saudara kembarnya ini bila secara rutin dilakukan secara individual, akan menghasilkan rasa sayang dan apresiasi terhadap saudara kembarnya, Bu.

3. Menjadi Keluarga Suportif

Persaingan si Kembar tak lepas juga dari peranan kita sebagai keluarga, Bu. Ingatlah bahwa kita juga harus selalu suportif dengan membangun kebiasaan saling berbagi dan saling menguatkan, termasuk dengan melibatkan si Kembar.

Sebagai contoh, Ibu bisa meminta si Kecil memeluk saudara kembarnya yang sedang menangis. Atau minta mereka untuk membagi snack berdua sama rata. Cara seperti ini bisa membuat mereka senang berbagi  dan berada di samping satu sama lain, Bu.

 Sedangkan untuk Ibu dan Ayah, bisa mencoba melupakan siapa yang lahir lebih dulu, ujar Meri Wallace, penulis buku anak dan peneliti anak dari New York. Lalu bagaimana caranya? Misalnya saat pesta ulang tahun, biarkan Dion menyanyikan lagu “Happy Birthday”, lalu Rafi menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun.” Jangan selalu urutkan mereka dan yakinkan, siapapun bisa mendapatkan kesempatan pertama.

Memiliki anak kembar memang memiliki trik tersendiri. Penting bagi Ibu dan Ayah untuk konsisten melihat mereka sebagai pribadi yang setara. Namun, jangan lupa juga untuk menikmati kemeriahan yang mereka hadirkan dua kali lipat di rumah, ya!

Selamat mengarahkan si Kembar jadi lebih akur!