Share Like
Simpan

“Ibu aku mau nonton Dora!” Kalimat inilah yang sering diteriakkan oleh si Kecil waktu ia masih balita dulu. Sejak saya belikan DVD serial kartun edukatif ini, ia hampir tidak pernah melewatkan hari tanpa menonton Dora.

Awalnya, saya biasa saja menanggapi ia yang senang sekali dengan tokoh kartun Dora. Namun, makin hari ia makin menunjukkan tanda-tanda terobsesi dengan idolanya itu. Mulai dari meminta dibelikan semua benda bergambar Dora, hingga berbicara tentang Dora setiap saat, seperti “Bu, kalo aku jadi Dora aku mau melakukan ini.”, atau “Bu, ayo kita main kaya di film Dora.”

Obsesi si Kecil terhadap suatu hal disebabkan oleh kecenderungan  pola pikir satu arah yang ia miliki. Stan Spinner mengatakan, anak cenderung mencari sebuah rutinitas atau kegiatan berulang-ulang saat ia mengalami banyak perubahan dalam hidupnya. Seperti misalnya, ketika ia sudah pindah ke kasur yang lebih besar atau saat ia baru masuk sekolah TK.

Banyaknya perubahan tersebut memicu si Kecil untuk mencari sebuah hal yang tetap dan konstan untuk membuat ia merasa nyaman di tengah  berbagai perubahan yang terjadi. Spinner menambahkan bahwa memang, anak-anak cenderung tertarik dan memusatkan perhatian hanya pada beberapa hal.

Semakin mereka bertambah usia, semakin bertambah pula ketertarikan pada hal-hal di lingkungan sekitar. Oleh karena itu, sangat wajar apabila si Kecil terobsesi pada satu hal, lalu meniru gerakan, cara berpakaian, dan dialog yang akan dilakukannya secara berulang-ulang.

Namun, terkadang saya merasa gerah juga saat si Kecil seharian menyanyikan lagu pembuka Dora sepanjang hari, atau saat ditanya ia malah menjawab dengan salah satu dialog Dora. Pada akhirnya, saya khawatir obesesi ini akan berpengaruh pada tumbuh kembangnya.

Seorang teman yang pernah mengalami hal sama mengatakan bahwa untuk mengatasi obsesi ini diperlukan kesabaran dan perhatian yang ekstra. Kemudian ia  memberikan saran dan langkah-langkah yang harus diambil dalam menghadapi obsesi si Kecil. Mari simak, yuk!

  • Ikut masuk dalam obsesinya.

Dalam menjalani obsesinya, si Kecil sangat membutuhkan bimbingan dan arahan Ibu. Misalnya, jika ia terobsesi dengan kereta Thomas dan mengajak Ibu bermain bersama, usahakan untuk menerima tawaran tersebut. Ikut masuk ke dalam dunia obsesi si Kecil dapat menjadi langkah awal untuk memahami seberapa jauh ia  mendalami antusiasmenya. Selain itu, Ibu juga dapat dengan mudah untuk mendampingi dan memberikan ia arahan.

  • Cari keuntungan.

Sebisa mungkin, cari keuntungan dari obsesi tersebut. Misalnya, si Kecil yang terobsesi dengan Dora dapat dengan mudah saya arahkan pada perilaku-perilaku positif yang dapat ditiru. Salah satunya adalah suka menolong. Biasanya saya mengatakan, “Dora baik ya mau menolong siapa saja. Kalau kamu mau ngga nolong Ibu beresin mainan di kamarmu?

Selain itu, kesukaan si Kecil pada idolanya ini juga dapat menjadi keuntungan bagi ia saat bergaul di lingkungan sosialnya. Apabila ada anak lain yang juga menyukai tokoh yang sama, ia akan dengan mudah diterima dan mendapatkan teman baru.

  • Buat batasan.

Tidak apa-apa jika si Kecil dibelikan segala pernak-pernik yang berbau tokoh idolanya. Namun, Ibu juga perlu untuk memberi batasan jika barang yang ia inginkan terlalu mahal atau ketika ia memaksa untuk memakai pernak-pernik tersebut ke sekolah. Berikan pengertian bahwa ia tidak bisa memaksakan obsesinya tersebut setiap saat.

Pastikan antusiasme si Kecil ini memiliki nilai postif ya, Bu. Dengan demikian, ada manfaat dan pesan moral yang dapat berguna bagi perkembangan mentalnya kelak.

Selamat menjalani hari bersama si Kecil!