Share Like
Simpan

Bu, masih ingat nggak sama video Youtube tentang obrolan dua anak kembar yang sempat booming di kalangan masyarakat beberapa waktu lalu? Gemas, ya kalau diingat-ingat lagi. Dua orang bayi yang sama-sama belum bisa berbicara tapi saling mengobrol. Kalau saya tonton lagi video itu, terus baca dialognya, saya masih suka bertanya, apa sih yang sebetulnya dibicarakan pada saat itu?

Biasanya anak berusia enam sampai sembilan bulan memang lagi senang-senangnya berceloteh, Bu. Kita mungkin nggak tahu persis arti celotehannya itu, tapi yang pasti, sewaktu berceloteh, si Kecil sedang berusaha untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Mendengarkan anak sibuk berceloteh itu menarik dan lucu ya, Bu. Apalagi kalau isi celotehannya cuma berupa “ma-ma-ma-ma” atau “bu-bu-bu-bu”. Suatu kali, karena terlalu gemas sama si Kecil yang ‘cerewet’, saya mencoba mencari tahu alasan di balik kegemarannya berceloteh melalui artikel-artikel yang ada di internet. Jadi, saya bisa lebih tahu, apakah ini ada hubungannya dengan tumbuh kembang si Kecil, dan apa yang harus saya lakukan untuk mendukungnya.

Nah, menurut situs Sharp.com, aktivitas berceloteh yang dilakukan oleh anak berusia empat hingga enam bulan merupakan salah satu cara mereka mempraktekkan suara dan belajar bagaimana cara mengatur artikulasinya. Ini merupakan tahap pertama ia belajar berbicara, Bu. Jadi, jangan heran kalau “obrolan” Ibu dan si Kecil memiliki bahasa yang berbeda namun dengan intonasi yang serupa. Baiknya lagi, ia nggak cuma belajar berbicara, namun sekaligus belajar memahami kemampuan bersosial yang baik seperti kontak mata, bicara secara bergantian, dan juga meniru.

Dalam hal ini, peran orang tua maupun orang-orang terdekat si Kecil lainnya sangatlah penting untuk melatih kemampuan berbicaranya. Mudah kok, melatihnya. Saat ia berceloteh “da-da-da-da” sambil memegang mainan mobil-mobilan, coba balas perkataannya dengan “Iya, nak. Ini namanya mobil.”. Atau saat ia mengatakan “au-au-au-au” sambil menunjuk toples biskuit, Ibu bisa membalasnya dengan bertanya “Kamu mau biskuit?”. Di usianya saat ini, biasanya ia sudah mengerti jika Ibu menanyakan sesuatu. Jadi, secara nggak langsung, Ibu dan si Kecil sudah saling berkomunikasi dua arah, lho. Menarik, kan?

Selain memberikan respon terhadap perkataannya, Ibu juga bisa berkomunikasi dengan si Kecil sambil melakukan tiga hal mudah berikut ini:

  • Menyanyi! Ya, seperti yang sudah pernah saya ulas sebelumnya, menyanyi bersama dengan si Kecil merupakan salah satu cara tercepat untuk melatih kemampuan berbicaranya. Jadi, ketika ia sedang sibuk berceloteh bersama Ibu, coba ajak ia untuk menyanyi. Siapa tahu, Ibu bisa mendengar kata pertamanya saat itu juga!
  • Sebelum tidur, membacakan dongeng kepada si Kecil juga merupakan bentuk komunikasi yang baik. Misalnya, saat mendongeng cerita Itik Buruk Rupa, coba Ibu perhatikan. Kata ‘itik’ yang sering terucap oleh Ibu, seringkali ditiru oleh si Kecil walaupun hanya dengan suara seperti “oooooo”. Sebetulnya, hal tersebut merupakan caranya menyampaikan bahwa ia mengerti apa yang Ibu ucapkan.
  • Tersenyum kepada si Kecil ternyata termasuk salah satu cara berkomunikasi yang sangat baik, lho. Kok bisa? Karena, ketika Ibu tersenyum setiap kali ia berceloteh, Ibu memberikan respon yang positif kepadanya. Dengan begitu, ia merasa bahwa Ibu mendengarkan dan juga menanggapi obrolan yang ingin disampaikan oleh si Kecil.

Walaupun terlihat lucu, tapi Ibu sebaiknya juga memantau perkembangan dari kebiasaan berceloteh ini. Karena, jika kebiasaan ini terjadi terlalu lama tanpa disertai dengan kemampuan berbahasa yang berkembang, bisa jadi ini disebabkan oleh struktur mulut yang kurang baik dan mengakibatkan proses berbicaranya jadi terhambat. Untuk memastikan hal tersebut, berkonsultasilah dengan ahlinya agar si Kecil bisa segera mendapat penanganan yang tepat.

Jadi, sudah siap mendengarkan celotehan si Kecil hari ini?