Share Like
Simpan
“Tidak! Mau pulang!” si Kecil tiba-tiba berteriak dan merengek saat Ibu tengah berbelanja dengannya di Supermarket. Ibu berusaha menenangkannya, tapi emosinya malah semakin meledak-ledak.Rasanya ingin segera memarahinya agar cepat tenang ya, Bu. Namun, apa ini cara yang benar? Sebelum bertindak, mari kita kenali psikologi anak saat marah terlebih dahulu.

Peranan orang tua sangatlah penting bagi perkembangan psikologis anaknya saat ini. Membentak atau bahkan memukul si Kecil tidak akan menyelesaikan persoalan.  Hal ini malah bisa membuatnya semakin agresif, apalagi ia cenderung meniru apapun yang dilihatnya.  Menurut Dr. Virginia Shiller, psikolog dan penulis buku Rewards for Kids! Ready-to-Use Charts & Activities for Positive Parenting, orang tua dapat menjadi model bagi  si Kecil untuk mengekspresikan perasaan emosinya dengan cara yang lebih positif dan sehat.  Karenanya, mari bantu si Kecil untuk menyalurkan amarahnya tersebut.

Salah satu cara yang dapat dilakukan Ibu untuk mengatasi luapan emosinya ini adalah dengan mengenali psikologi anak  terutama tanda-tanda saat si Kecil akan “meledak”, seperti :
Mengepal tangan dengan kuat.
Gestur badannya yang terlihat tegang.
Ekspresi wajahnya yang kencang.

Jika melihat tanda di atas, cobalah untuk menenangkan si Kecil dengan lembut. Ibu dapat memintanya untuk berhitung 1 sampai 10 atau mengajaknya berjalan sebentar sampai ia tenang. Di saat suasana hatinya sedang baik, ajak dirinya untuk berdiskusi dan membuat strategi bersama-sama. Ingatkan si Kecil untuk mencoba strategi tersebut, ketika ia hendak marah.  

“Kamu kok marah sama Ibu? Padahal kamu kan yang menumpahkan susu?” Penjelasan seperti ini seringkali kita lakukan agar si Kecil menyadari kesalahannya. Cara tersebut mungkin berhasil dilakukan kepada orang dewasa, tapi  ini tidak berlaku baginya. Menurut Elizabeth B. Hurlock, ahli psikologi anak dari Universitas Columbia, kecerdasan emosi si Kecil yang belum matang membuatnya kesulitan mengelola emosi dengan baik.  Hal ini yang menyebabkannya sulit berpikir logis saat marah.  Karena itu, prioritaskan untuk menenangkan si Kecil terlebih dahulu, sebelum mengajaknya berdiskusi saat ia sudah tenang nanti. 

Jangan lupa, Bu, perilaku orang tua juga ikut mempengaruhi perkembangan psikologis seorang anak. Berikan contoh yang baik bagi si Kecil saat menghadapi kemarahannya.  Tetap tenang dan perhatikan gestur tubuh Ibu di depan si Kecil. Jangan juga ragu untuk mengungkapkan perasaan Ibu di depannya. Penjelasan seperti ,”Ibu lagi kesal. Jadi lebih baik, sekarang Ibu menenangkan diri dulu, lalu nanti kita ngobrol lagi ya.” akan menjadi contoh baginya untuk mempelajari cara mengontrol emosi yang baik. 

Marah adalah ekspresi emosi yang normal, terutama bagi anak seusianya.  Hal yang perlu Ibu lakukan adalah mengendalikan emosinya tersebut ke dalam bentuk yang lebih  positif. Kemampuan pengendalian diri yang baik ini nantinya akan membuat si Kecil tumbuh menjadi anak yang mudah bersosialisasi dengan sekitarnya. Jadi bagaimana, Bu? Pastinya sekarang sudah siap ya untuk menghadapi “ledakan” emosi dari si Kecil.