Share Like
Simpan

“Ibu, aku nggak mau punya adik.” Singkat, padat, dan jelas. Ya, si Kecil mengatakan kalimat itu tepat saat kami berkunjung ke rumah kerabat yang baru melahirkan. Sepanjang kunjungan saya menggendong dan memainkan si bayi. Selama itu pula si Kecil merengek minta pulang. Oh, ternyata ia cemburu.

Ini adalah hal yang wajar terjadi di usia tiga tahun, Bu. Balita kerap kali merasa cemburu pada anak lain karena masih merasa semua hal miliknya. Tidak jarang kecemburuan itu berujung pada tangisan hebat.

Kecemburuan si Kecil, menurut Tanya Remer Altmann, penyunting buku The Wonder Years: Helping Your Baby, wajar terjadi saat ia melihat Ibu terlihat dekat dengan anak lain. Hal ini disebabkan karena ia terbiasa menjadi pusat perhatian semua orang, terutama Ibu. Ketika orang-orang mengalihkan perhatiannya ke anak lain, di situlah ia merasa cemburu.

Ini adalah hal yang wajar terjadi di usia tiga tahun, Bu. Balita kerap kali merasa cemburu pada anak lain karena masih merasa semua hal miliknya. Tidak jarang kecemburuan itu berujung pada tangisan hebat.

Kecemburuan si Kecil, menurut Tanya Remer Altmann, penyunting buku The Wonder Years: Helping Your Baby, wajar terjadi saat ia melihat Ibu terlihat dekat dengan anak lain. Hal ini disebabkan karena ia terbiasa menjadi pusat perhatian semua orang, terutama Ibu. Ketika orang-orang mengalihkan perhatiannya ke anak lain, di situlah ia merasa cemburu.

Sebenanya, alasan mengapa ia mudah cemburu cukup logis lho, Bu. Pada usianya ini, ia masih terlalu muda untuk memahami konsep berbagi. Jadi, setiap ada yang “merebut” sesuatu darinya, termasuk perhatian, ia akan merasa cemas bahwa dirinya tidak akan diperhatikan lagi.

Nah, apabila Ibu berencana memberikan adik, atau mungkin sudah memiliki adik untuknya, tidak perlu khawatir dengan masalah kecemburuan ini, Bu. Berikut ini ada beberapa tips untuk mengatasi rasa cemburu pada si Kecil.

1. Beri Pujian

Memberikannya pujian saat ikut menyayangi si bayi dapat membuatnya merasa ia masih diperhatikan. Selain itu, pujian juga dapat menanamkan konsep bahwa dengan menyayangi adik atau anak lain, Ibu akan lebih bangga dan sayang padanya.

2. Ajak si Kecil untuk ikut mengasuh si bayi.

Mengikutsertakan si Kecil dalam mengasuh si bayi akan membuatnya merasa memiliki peran penting dan tidak dilupakan. Saat saya menggendong bayi seorang teman, ia langsung bawel dan mencari perhatian. Akhirnya, saya mengembalikan si bayi pada ibunya lalu menggendong si Kecil. Saya ajak ia untuk melihat bayi itu bersama-sama. Tidak lupa saya pegang tangannya untuk ikut mengelus-elus pipi bayi tersebut.

3. Berikan ketegasan bahwa menyakiti bayi dan Ibu merupakan hal yang tidak bisa diterima.

Poin inilah yang perlu diperhatikan ketika akan memiliki bayi saat ada si Kecil di rumah. Balita kerap kali menunjukkan tindakan agresif ketika ia cemas dan merasa terancam.

Saat ia merasa cemburu lalu berusaha memukul Ibu atau bahkan si bayi, berikan ketegasan bahwa hal tersebut tidak dapat Ibu terima. Berikan juga penjelasan bahwa tindakannya tersebut membahayakan si bayi. Ibu bisa mengajarinya cara memperlakukan bayi secara lembut, arahkan tangannya untuk mengelus bayi sambil berkata “Sayang dedeknya ya, Nak.”

4. Beritahu keuntungan menjadi seorang kakak.

Ketika si Kecil cemburu, jelaskan bahwa ia tidak perlu merasa demikian. Beritahu bahwa menjadi seorang kakak banyak keuntungannya. Misalnya, Ayah dan Ibu akan bangga sekali jika ia sayang dan menjaga adiknya. Selain itu, ketika si bayi sudah besar, pasti ia akan dijadikan sebagai idola utama.

Rasa cemburu yang dimiliki si Kecil bukan hanya cerminan perilaku egoisnya Bu, namun juga merupakan bentuk kasih sayangnya terhadap Ibu. Ia merasa memiliki keterikatan yang kuat dan tidak ingin kehilangan perhatian.

Memberinya perhatian melalui tips di atas cukup mudah kan, Bu? Hal yang terpenting adalah selalu ajak si Kecil agar ia tidak merasa terbuang dan tersaingi oleh kehadiran si bayi.

Selamat mencoba!