Share Like
Simpan

Jujur saja, Bu. Sewaktu kecil, kebanyakan dari kita pasti merasakan yang namanya dicubit atau dijewer oleh orang tua, kan? Hukuman fisik pada masa kita kecil memang bukan hal asing. Sepertinya bagi orang tua jaman dulu, hukuman fisik adalah satu-satunya jalan agar kita patuh dan disiplin.

Memang tak sepenuhnya salah, karena zaman dulu arus informasi belum banyak. Sehingga tak heran bila para orang tua kita tak punya referensi pola pengasuhan selain dari orang tuanya terdahulu.

Saya sendiri juga mengalaminya kok, Bu, yang namanya hukuman fisik saat tidak disiplin. Seperti dicubit saat tidak melakukan ibadah dan dijewer saat bertengkar dengan adik. Uniknya berdasarkan pengalaman saya, walaupun kita diberikan hukuman itu, hubungan kita dengan orang tua masih berjalan baik.

Pertanyaannya adalah, haruskah kita menerapkan hukuman fisik pada si Kecil seperti orang tua kita dulu? Memang pasti ada beberapa momen di mana kita merasa sudah kehilangan kesabaran terhadap si Kecil. Manusiawi sekali, Bu. Apalagi kadang memberikan hukuman fisik seperti mencubit atau menjewer saat ia sedang tak bisa diatur, terbukti dapat membuatnya “jera”.

Seiring berkembangnya zaman, pola asuh pun ikut berkembang. Hukuman fisik pada anak menjadi perdebatan dan dirasa tak perlu lagi dilakukan. Telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa hukuman fisik malah menghasilkan anak yang agresif. Canadian Medical Association Journal menganalisa data dalam dua dekade dan menyimpulkan bahwa memukul, mencubit, atau menjewer anak tak memiliki efek positif. Justru muncul efek negatifnya seperti risiko depresi, gelisah, dan sifat agresif ketika dewasa.

Beberapa tahun sebelumnya, penelitian dari Tulane University telah membuktikan bahwa anak yang sering dipukul sebanyak dua kali per bulan pada usia 3 tahun akan berisiko menjadi agresif dan destruktif hingga dua kali lipat. Bahkan para psikolog Columbia University telah melakukan 80 penelitian selama 62 tahun dan menemukan ada hubungan kuat antara orang tua yang menggunakan hukuman fisik dan anak-anak yang menunjukkan 11 perilaku yang dapat diukur. Sepuluh dari perilaku tersebut adalah negatif, termasuk penyerangan dan sifat antisosial. Hanya satu yang dapat dianggap positif yaitu “kepatuhan segera”.

Sisi Negatif dari Hukuman Fisik

Tentunya ada alasan mengapa penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa hukuman fisik pada anak bersifat negatif. Berikut beberapa penjelasannya:

- Sebenarnya tidak berguna (meskipun terlihat begitu)

Menurut Sandra Graham Bermann, Ph.D, profesor psikologi dan ketua investigator dari Child Violence dan Trauma Laboratory di University of Michigan, hukuman fisik terlihat berguna karena anak sedang takut. Namun dalam jangka waktu lama, hukuman fisik akan memperparah situasi. Semakin kita menghukumnya supaya ia lebih mengontrol diri, maka anak akan belajar bahwa kontrol dirinya diatur oleh orang lain. Nah, jika tidak ada orang yang melihat, ia tak akan menemukan alasan mengapa ia harus mengontrol diri.

- Justru membuat anak ‘’meneruskan”hukuman itu kepada orang lain

Hukuman fisik tak hanya berhenti pada si Kecil, namun juga akan diteruskan olehnya untuk memecahkan masalah dengan teman-teman dan saudara-saudaranya. Jadi buatnya, satu-satunya cara mengatasi problemnya adalah dengan kekerasan.
- Mengganggu otak si Kecil
Ada penelitian lagi yang membuktikan bahwa anak yang sering dipukul (setidaknya sekali sebulan dalam waktu 3 tahun) memiliki area abu-abu di otaknya yang berhubungan dengan depresi, adiksi dan gangguan mental. Kemampuan kognitifnya pun rendah bila dibandingkan dengan anak-anak lain.

- Bukan kunci kedisiplinan

Melainkan hanya peringatan keras bahwa orang tua benar-benar bermaksud akan ucapannya. Hukuman fisik tak akan menjadikan anak disiplin.

- Membuat si Kecil bisa membalas

Tindakan memukul, mencubit, atau menjewer akan membuat si Kecil menerima pesan bahwa ia boleh melakukan hal yang sama ketika ia sedang marah. Jadi, jangan heran kalau tangisannya tidak mereda, sambil menangis ia justru bisa membalas mencubit atau memukul.

Kapan Hukuman Fisik Diperlukan?

Dengan begitu banyak penelitian yang menentang hukuman fisik, seharusnya memang hukuman fisik sudah kita tinggalkan jauh-jauh ya, Bu. Tapi saya mengerti, memang sulit mengatasi anak yang kurang kooperatif dan terkadang hukuman fisik dapat meredakan perilakunya. Semua juga tergantung oleh karakter si anak itu sendiri dan tentunya pola pengasuhan dari tiap keluarga.

Jika Ibu merasa bahwa mencubit atau menjewer terkadang diperlukan, coba variasikan “hukuman”yang ia terima. Banyak sekali lho, cara membuat si kecil jera dengan cara mentransfer energinya pada hal lain. Misalnya dengan menyuruhnya menulis “Saya tak akan menjatuhkan kursi dengan sengaja lagi” sebanyak satu halaman buku tulis. Kurangi sedikit demi sedikit hukuman fisik dan lebih tekankan kepada konsistensi, karena itulah kunci kedisiplinan si Kecil.

Secara natural, sebenarnya si Kecil ingin selalu menyenangkan kita, lho, Bu. Mereka terus menerus mengikuti apa yang kita lakukan secara konsisten, dan itulah yang menjadikan perilakunya saat dewasa. Karena itu, yuk, gunakan ketegasan bukan kekerasan dalam mendidik anak. Di masa depan, pasti kita akan merasakan manfaatnya.