Share Like
Simpan

Sudah beberapa hari ini, saya selalu mendengar anak tetangga saya bertengkar dari memperebutkan mainan sampai gelas untuk minum susu. Wah, suara nyaring dari teriakan mereka sampai mengganggu waktu istirahat keluarga saya. Setelah saya telusuri, ternyata kedua anak tetangga tersebut memang punya kepribadian yang bertolak belakang, sehingga kurang akur.

Kasus si Kecil tidak akur dengan saudaranya juga pernah saya alami kok, Bu. Wajar, karena kedua anak saya memang jarak usianya berdekatan. Sebetulnya masih ada beberapa faktor lainnya. Supaya lebih jelas, simak penjelasan berikut, ya.

  • Jarak usia yang terlalu dekat.

Memiliki saudara yang berusia tidak jauh kerap kali menyenangkan karena bisa bermain bersama-sama. Tapi, jarak usia yang terlalu dekat juga berisiko menimbulkan persaingan antar saudara akibat tingkat kedewasaan yang masih serupa.

  • Jenis kelamin sama.

Ketika si Kecil memiliki saudara yang berjenis kelamin sama, seiring berjalannya waktu mereka akan berbagi banyak hal termasuk benda kesukaan. Hal ini juga bisa menyebabkan ia dan saudaranya saling bertengkar memperebutkan sesuatu, Bu.

  • Perubahan emosi.

Layaknya orang dewasa, si Kecil juga rentan mengalami perubahan suasana hati dan emosi. Misalnya, saat Ibu atau Ayah memperlakukan Kakak atau Adiknya dengan cara berbeda, bisa-bisa ia merasa cemburu dan akhirnya bertengkar. 

  • Kompetitif

Di usia 6 tahun, anak akan mulai menjadi kompetitif untuk mendapatkan perhatian serta kasih sayang dari kedua orang tuanya. Terutama, ketika ada perlakuan yang lebih istimewa kepada salah satu anak. Perasaan terasingi pun muncul dan bisa menyebabkan perselisihan.

  • Merasa terintimidasi.

Perasaan takut akan diacuhkan setelah kehadiran sang adik juga bisa membuat ia menunjukkan sikap tidak ramah kepada saudaranya sendiri, Bu. Oleh sebab itu, penting bagi Ibu dan Ayah untuk menciptakan interaksi sesering mungkin antara si Kecil dengan adiknya sedari masih di kandungan.

  • Kurangnya quality time dengan Ayah atau Ibu.

Bu, kesibukan yang dimiliki oleh Ayah atau Ibu juga bisa berpengaruh terhadap rasa tidak aman pada si Kecil, lho. Nah, untuk menghindari  timbulnya kecemburuan antar saudara ini, sebaiknya buatlah sebuah agenda rutin untuk merencanakan kegiatan denganya, seperti berekreasi atau bertamasya bersama-sama.

 

Bagaimana, Bu? Apakah Ibu termasuk salah satu yang sering menemui kondisi si Kecil tidak akur dengan saudaranya? Berhubung saya juga dulu termasuk anak yang sering berselisih dengan adik, saya jadi teringat beberapa hal yang selalu dilakukan Ibu saya, seperti:

  • Berikan kesempatan bagi anak untuk menyelesaikan masalah.

Ketika Ibu melihat si Kecil dan saudaranya mulai bertengkar, sebaiknya berikan mereka kesempatan untuk belajar menyelesaikan sendiri masalahnya. Jika Ibu terlalu sering terlibat, nantinya malah bisa membuat ia berekspektasi berlebihan terhadap bantuan Ibu atau Ayah setiap kali ada masalah.

  • Pisahkan sejenak hingga tenang.

 Bu, tidak hanya orang dewasa saja yang membutuhkan waktu menenangkan diri saat emosi. Si Kecil juga membutuhkan waktu untuk mendinginkan kepala meskipun sambil menangis. Setelah tenang, Ibu atau Ayah bisa bicara dengan masing-masing anak kemudian memberikan pengertian tentang pokok masalah yang diributkan.

  • Hindari membandingkan satu sama lain.

Perasaan cemburu bisa muncul jika si Kecil kerap dibanding-bandingkan dengan saudaranya. Nah, kecemburuan ini nantinya bisa menimbulkan keresahan yang akhirnya membuat ia jadi kesal, Bu.

  • Biasakan si Kecil untuk menghindari situasi negatif.

Setiap kali si Kecil merasa kesal akan sikap kakak atau adiknya, ajarkan untuk memahami kapan harus menghindari konflik yang lebih dalam dan belajar untuk mengalah. Membiasakannya bersikap seperti ini juga bisa mengajarkan ia pentingnya berlapang dada serta ikhlas akan sesuatu yang belum bisa didapat.

Lakukanlah hal-hal tersebut secara konsisten bersama Ayah. Dengan demikian, si Kecil bisa belajar tentang kedisiplinan sekaligus keadilan mulai dari lingkungan rumahnya. Selamat mencoba ya, Bu!