Share Like
Simpan

“Kenapa sih Ma aku harus minum susu setiap hari?” ujar Dita (5 tahun). Sang mama, Melanie (29 tahun), menjawabnya, “Iya biar kamu cepat besar.’’ Dita tak lantas bisa memahaminya. “Masa sih, Ma. Temanku ada yang gak suka susu, tapi badannya lebih gede ketimbang aku,’’ katanya. Melanie segera berpikir anaknya itu tengah menawar untuk tidak minum susu. Maka, muncullah jawaban yang bernada menekan Dita agar tetap minum susu. ‘’Pokoknya kamu harus tetap minum susu,’’ tandas Melanie.

Orangtua seringkali tak menyadari bahwa banyak momen yang dapat digunakan sebagai media belajar untuk memberikan pemahaman nilai dan pengetahuan pada anak. Termasuk juga saat anak bertanya tentang banyak hal dan berlainan pendapat atau bahkan mendebat pernyataan Anda. Nah, bagaimana sikap dan jawaban Anda pada anak bila mereka mendebat tanpa Anda tak terburu-buru dulu merasa tersinggung, kesal, dan bersikap dominan.

Menurut psikolog perkembangan anak dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Wulansari Psi, berdebat sebaiknya jauh dari kesan menentukan siapa pihak yang menang dan kalah. Sebab, jelasnya, berdebat dapat menjadi ajang dialog interaktif antara orangtua dan anak untuk mengetahui perkembangan pola pikir dan emosi anak. “Orang tua dapat mengetahui apa yang dipikirkan atau dirasakan anak dan sejauh mana pemahaman anak akan suatu hal,” katanya.

Psikolog perkembangan anak dari Harmawan Consulting, Jacinta F Rini MSi pun mengatakan, berdebat atau berargumentasi merupakan bagian dari proses diskusi. Perbedaan persepsi atau pandangan antara anak dan orang tua akan sesuatu adalah hal biasa. Hal ini, katanya, menuntut orangtua mampu menciptakan suasana yang tetap tenang untuk memperbincangkan suatu masalah atau mencapai sebuah kesepakatan dengan si kecil tanpa harus diakhiri dengan ketegangan. ‘’Tak hanya bertujuan menyamakan persepsi, perdebatan dengan anak juga berpotensi bagi perkembangan kognitif dan emosi anak. Asalkan masing-masing pihak (orang tua dan anak) bersikap terbuka. Dengan berdebat secara sehat anak bisa belajar banyak hal,” sambungnya.

Perdebatan mulai muncul, lanjut Jacinta, saat anak bisa berkomunikasi dan mulai mempertanyakan hal-hal sederhana seperti kegiatan sehari-harinya. Mengapa sebelum makan harus cuci tangan? Atau mengapa sehabis bermain harus dibereskan, dan sebagainya. Melalui debat sehat, anak akan mengetahui alasan-alasannya, mengenal tanggung jawab, aturan dan kewajiban sesuai pemahamannya. Misal, ketika anak usia 2 tahun malas pipis ke kamar mandi dan terus membela diri, seperti ‘’Kan ada Mbak, nanti dibersihkan.’’ Nah, inilah kesempatan Anda untuk memulai perdebatan dengan menerangkan akibat atau konsekuensi jika anak pipis di toilet atau di sembarang tempat. Anak belajar menganalisa, membandingkan, memilih dan menentukan keputusannya sendiri. “Seringkali anak ngeyel dan egois, biarkan melaksanakan niatnya asal menerima konsekuensinya. Anak akan belajar konsisten dengan pilihannya,” ujar konsultan keluarga di situs www.e-psikologi.com ini.

Jacinta menganggap lumrah saja anak mendebat suatu hal sebagai ekspresi keingintahuannya yang lebih dalam. Ini disebabkan horizon wawasan anak yang masih terbatas. Selain itu, sambungnya pikiran anak memang cenderung egosentris, yaitu hanya melihat dari satu sisi yang dipahaminya. Melalui debat sehat, anak akan mengenal pandangan yang berbeda dan mengembangkan pola pikir multi-dimensional. ”Pola pikir anak lebih kaya, bukan hanya sekedar benar dan salah, dosa atau tidak dosa. Dualisme ini akan membentuk pribadi anak yang penakut,” jelasnya.

Jacinta mengatakan, alangkah lebih baik jika anak memahami suatu hal dengan alasan logis. Oleh sebab itu sebaiknya orangtua menggunakan contoh yang mudah dipahami anak. Misalnya, anak selalu ingin disuapi saat makan, Anda bisa mengajaknya melihat contoh ‘tuh lihat anak sapi sudah bisa makan sendiri, adik juga bisa kan’. Ambil contoh-contoh konkrit dari berbagai sumber baik dari film, pengalaman pribadi, atau pun hal-hal nyata yang pernah dilihat bersama dengan anak. Sehingga anak mengerti logika di balik argumen orang tua.

Wulan menambahkan, ada beberapa hal yang dapat menjadi acuan orangtua memilih topik perdebatan. Pertama, orangtua menemukan permasalahan berbeda seiring dengan perkembangan usia anak. Masalah anak usia sekolah tentu berbeda dengan anak usia 2 tahun. Kedua, jika perilaku anak sudah mengganggu orang lain. Ketiga, anak keluar dari jalur norma yang dianggap penting oleh orangtua. Misalnya, anak berkata dan berperilaku kasar di sekolah.

Namun, Wulan menegaskan, ada beberapa hal yang tidak bisa diperdebatkan lagi. Tergantung pada apa yang dianggap orangtua paling fundamental, misalnya penerapan pendidikan agama. Orangtua boleh tidak tawar menawar lagi jika anak malas shalat atau pergi ke gereja saat usianya mulai remaja. Atau melihat tingkah laku anak yang tak kunjung membaik. “Tak bisa digeneralisasikan, tergantung individu orangtua, tapi perlu diingat apapun yang diabaikan di awal akan berkembang di akhir, “ujar konsultan di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat ini.


Malas berdebat

Wulan mengatakan anak yang enggan berargumentasi bukan karena tidak mampu berpikir lain, namun adanya rasa tidak percaya diri dan ketidakpercayaan (mistrust) pada orang tua. “Ini bisa disebabkan proses yang salah sehingga pesan orangtua tidak sampai ke anak,” terangnya.

Saat berdebat, konsultan SDI Terpadu Aulia, Bintaro, ini menganjurkan, sebaiknya orangtua menghargai kapasitas anak bahwa emosi dan pola pikirnya belum matang. Kemudian eksplorasi perasaannya dan beri kesempatan anak mengemukakan alasannya dengan mengajukan pertanyaan. Tanyakan juga apa yang membuat anak bertahan dengan pemikirannya. Setelah itu baru giliran orang tua mengemukakan pendapat. Paparkan kebaikan dan keburukan dari setiap pendapat. Kemudian tibalah saatnya Anda bernegosiasi dengan si kecil. Dari sini Anda bisa menciptakan aturan kesepakatan dengan anak.

Jika anak menolak jalan yang Anda tawarkan, cobalah cari jalan tengahnya. Misalnya, anak bersikeras bermain game, coba cari solusi bersama dengan memberi saran ‘Lebih enak mengerjakan PR dulu biar tenang lalu main game deh’. Sebaiknya orangtua jangan memaksakan kehendak tanpa memberi kesempatan anak berdialog dengan pikirannya. “Tolak ukur keberhasilan berargumentasi adalah jika anak bisa menggeser pikirannya lebih luas tanpa merasa keberatan atau dipaksakan, anak dengan senang hati
melakukannya,” kata Wulan.

Wulan menekankan, jangan mendebat anak hanya karena ego, yaitu orang tua merasa selalu benar. Seringkali, orang tua mendebat anak karena tidak mau pusing. Sehingga timbul pemikiran ‘Pokoknya anak baik harus patuh pada orang tua. Menurutnya, ukuran baik atau tidaknya perilaku anak, jangan sampai diukur dari kepatuhan yang berlebihan. Alhasil anak menjadi penakut saat mengungkapkan pendapatnya. Padahal berdebat secara sehat berpotensi membentuk identitas dirinya sendiri. “Anak tak hanya taat dan ikut apa kata orang, tapi tak bisa menentukan pilihannya sendiri, bersikap pasif dan malas berpendapat,” katanya.

Jacinta menambahkan, debat sehat dengan anak dapat membantunya belajar berinteraksi. Secara tak langsung latihan debat di rumah memberikan penggambaran bagaimana sebaiknya sikap anak ketika dirinya menghadapi situasi yang tidak sesuai keinginan dan persepsinya. Lebih jauh lagi anak mampu memahami keragaman dunia yang melatar belakangi setiap orang. Jadi, pemahaman anak pada diri sendiri dan orang lain akan terasah. Beda halnya dengan anak yang tidak diberikan kebebasan berdebat sehat. Yang artinya membatasi anak berpikir rasional. “Anak menjadi pihak yang terlalu sensitif, takut dikritik dan mengkritik. Alhasil kecerdasan emosinya pun bisa sulit berkembang,” katanya.


Jika anak merasa tidak nyaman berargumentasi dengan orangtua, akan berujung pada kekakuan berkomunikasi hingga timbul jarak antara anak dan orangtua. Ini beberapa contekan cara berdebat yang sehat dengan si kecil :

  1. Tunjukkan bahasa tubuh yang baik. Jangan memulai perdebatan dengan menunjukkan sikap tidak bersahabat seperti intonasi suara tinggi, memukul meja, mata melotot, dan memotong penjelasan anak dengan kasar. Saat bahasa tubuh Anda lebih berkuasa, maka semangat berdebat anak pun hilang.
  2. Hindari menekan anak. Pada saat berdebat, orang tua jangan menggunakan tameng ‘label anak baik itu patuh pada mama atau papa’. Apalagi jika menakutinya dengan mengatakan ‘kalau tidak patuh, nanti ditangkap polisi’ dan sebagainya. Hal ini dapat menghambat kreativitas berpikir anak.
  3. Pahami ketidaktahuan anak. Sehingga orangtua bisa lebih bersikap bijaksana dan bersabar menanggapi rentetan pertanyaan anak.
  4. Pergunakan bahasa anak. Bahasa yang terlalu ilmiah, berbelit-belit, atau dewasa justru akan membuatnya bingung. Gunakan bahasa yang sesuai dengan batas pemahaman anak.
  5. Di akhir dialog selalu tanyakan apakah anak paham atau tidak dan sejauh mana pemahamannya. Sehingga orangtua bisa menilai sejauh mana anak nanti bisa bertanggung jawab berdasarkan pemahamannya. “Ini penting untuk menilai apakah pesan orangtua sampai ke anak,” kata Wulan.
  6. Jujurlah pada diri Anda sendiri dan anak. Bersikaplah terbuka, rem diri sendiri jika Anda lebih menggunakan egoisme dari pada akal sehat. Sebab, akan melukai hati anak entah dengan kata-kata, tindakan, atau pun penilaian negatif yang sengaja dikeluarkan untuk mematahkan persepsi anak.
  7. Ajari anak mencari solusi. Orangtua adalah contoh terbaik anak saat berdebat sehat. Ajari anak menerima argumen lawan bicaranya. Kemudian bantu anak mengolahnya dengan memikirkan alternatif yang dipaparkan lawan bicara. Latih anak berpikir kritis dengan mempertanyakan sebab-akibat dari setiap argumen. Sehingga secara tak langsung Anda bisa membantunya menemukan solusi yang tepat.