Share Like
Simpan

Bayi dapat merasakan kehadiranIbu di dekatnya. Ikatan ini pun semakin diperkuat dengan kegiatan menyusu dan perkembangan indranya. Komunikasi non-verbal ini terutamaterjadi diantara Ibu dan bayi, selain dapat merasakan kehadiran Ayah dan anggota keluarga lainnya.

Selama minggu-minggu pertama kehidupan, sepertinya bayi belum dapat berbuat banyak, kecuali menyusu, tidur, menangis, dan buang air. Padahal kenyataannya, semua indra sudah mulai berfungsi saat bayi mampu melihat, mendengar, dan membaui dunia barunya.

Terkadang Ibu sulit mengetahui apa yang dirasakan si bayi. Namun, bila Ibu memperhatikannya dengan saksama, si Kecil dapat bereaksi terhadap cahaya, suara, dan sentuhan, menandakan indranya secara kompleks sudah ‘hidup’. Mungkin Ibu perlu waktu untuk memahaminya, namun bayi dapat menemukan kesenangannya dan kenyamanannya pada wajah-wajah, suara, dan sensasi yang ia kenal dalam kehidupannya sehari-hari.

Sentuhan merupakan faktor terpenting bagi bayi. Melalui sentuhan, bayi belajar banyak hal dari sekitarnya. Pertama, bayi akan melihat hanya untuk merasa nyaman. Bayi lahir dari suasana rahim yang hangat dan di dalam cairan, merasa kedinginan untuk pertama kalinya, bersentuhan dengan boks tidurnya, atau merasa tidak lega bergerak di dalam hangatnya baju bayi yang dikenakannya. Melalui sentuhan, bayi akan belajar kehidupan. Berikan ia ciuman penuh kasih sayang, sehinggaia menjadikan dunia barunya sebagai sebuah tempat yang nyaman baginya.

Jalinan antara ibu dan bayi lebih mendalam daripada sekadar ikatan emosional. Zat feromon yang pertukarannya terjadi di dalam rahim melalui pemberian ASI dan kontak fisik, menciptakan jalinan kuat antara keduanya. Zat feromon pada manusia maupun non-manusia bisa diartikan sebagai alat komunikasi non-verbal dan ikatan maternal.

Zat feromon memulai ikatan hubungan antara ibu dan bayi bahkan sebelum bayi lahir. Saat janin masih di dalam kandungan, ia mulai mengenali feromon ibunya. Saat ‘terlena’ di dalam rahim yang terasa nyaman, basah, dan hangat, janin menggunakan feromon untuk berkomunikasi dengan ibunya dalam bentuk kode kimiawi. Zat itu menghubungkan kelahiran bayi, sehingga Ibu dapat mengidentifikasi bayinya dari ‘baunya’. Zat feromon juga menjadi panduan mulut bayi saat mencari puting susu Ibunya.

Feromon tidak hanya bermanfaat bagi anak; Ibu pun dapat merasakan manfaatnya. Menurut Kodis (1998), bau membantu Ibu untuk menjalin ikatan dan mengidentifikasikan bayinya sendiri. Contohnya, saat Ibu menggesekkan hidung ke rambut lembut bayi, akan terhirup bau harum saat mereka berdua berdekatan.

Antara usia 1 hingga 3 bulan, bayi bergantung pada Ibu untuk mendapatkan sentuhan. Bayi tahu disayangi dan dirawat dengan kasih sayang saat digendong, dipeluk, dan dicium.