Share Like
Simpan

Pesatnya perkembangan dan persaingan dalam kehidupan berdampak tak langsung pada anak-anak. Mereka tak lagi bebas bermain, karena sebagian besar waktunya habis mengikuti berbagai les dan kegiatan tambahan lainnya sepulang sekolah. Orang tua menerapkan hal itu dengan berbagai tujuan, meski alasan terbesar adalah mempersiapkan anak agar ‘siap’ dan ‘sukses’ dalam kehidupannya kelak.

Benarkah alasan itu? Pola pengasuhan (parenting) orang tua sangat beragam, sebagaimana setiap orang juga mendapatkan pengasuhan berbeda. Yang mungkin sama adalah tujuannya, yakni keinginan memiliki anak-anak yang ‘sesuai’ harapan orang tua (utamanya), selain sesuai dengan agama, lingkungan, dan bangsa. Di antara pola-pola tersebut, ada kecenderungan terjadi pola pengasuhan berlebihan (hyper-parenting). Orang tua menunjukkan power akan kewajibannya dalam mendidik anak.

Penerapan pola tersebut didasarkan pada kepercayaan bahwa anak yang memiliki segudang aktivitas yang tepat, yang dilakukan secara teratur, bersemangat, dengan bimbingan orang tua akan tumbuh menjadi anak sempurna dan pandai. Sejak awal, anak disiapkan agar tidak memiliki masa depan yang sia-sia atau tanpa harapan.

Apakah itu juga benar? Ternyata, menurut para ahli yang mendalami masalah hyper-parenting, pola pengasuhan yang mencekoki anak dengan jadwal padat tersebut bisa membahayakan keluarga. Anak akan cepat kehilangan banyak pengalaman yang mengajarkannya bagaimana cara mencari jalannya sendiri dalam kehidupannya. Orang tua pun telah kehilangan sense of balance, karena semata hanya mengikuti apa pun rekomendasi dan saran yang dianggap terbaik untuk anak tanpa mempertimbangkan perlu tidaknya bagi anak.

Pola hyper-parenting membuat orang tua ‘lupa’ kalau membesarkan anak tidak bisa disamakan dengan suatu rencana bisnis. Dalam parenting harus ada curahan kasih sayang, saling menghargai, dan tenggang-rasa dalam kehidupan sehari-hari yang harus dimiliki semua anggota keluarga. Anak bukanlah komputer ataupun software. Anak harus diberi kesempatan untuk mengembangkan karakternya dan membina hubungan antarsesama, dan bukan melulu dipenuhi dengan aktivitas dan egonya.

Sekarang ini tak banyak anak yang gemar bermain ayunan atau ‘jungkat-jungkit’ (kecuali balita tentunya). Sepertinya sebagian besar waktu anak tersita oleh berbagai aktivitas. Orang tua mungkin tidak menyadari telah membuat anaknya menjadi sangat aktif dan mengutamakan keberhasilan, tak ubahnya seperti orang yang workaholic. Hyper-parenting juga ‘mampu’ menghilangkan kemampuan insting anak, karena mengukur segalanya secara ilmiah atau untung-rugi.

Berikut ini ada contoh solusi menarik bagi orang tua agar tak terjebak dalam hyper-parenting, yakni:

  • Batasi waktu kegiatan anak di luar sekolah. Dengan begitu juga tidak membuat seluruh keluarga ikut stres.
  • Hindari ajakan teman dengan membuat aturan yang tegas, misalnya anak hanya boleh ikut satu kegiatan olahraga selama waktu tertentu.
  • Prioritaskan hubungan yang baik dengan anak, sebab itu lebih penting daripada menyuruh anak ikut banyak aktivitas.
  • Jangan tuntut anak menghasilkan sesuatu. Ciptakan dan gunakan waktu luang benar-benar untuk kebersamaan. Biarkan anak merasakan kalau orang tua mencintainya apa adanya, “We love you just the way you are”.

 

Hendaknya orang tua jangan melupakan bahwa masa anak-anak adalah masa persiapan. Pada masa itu, belum waktunya anak tampil penuh atau unggul dalam segala hal. Itulah sebenarnya alasan mengapa anak harus belajar banyak hal. Masih panjang waktu bagi anak untuk meraih keberhasilannya di masa depan. Tentunya akan lebih baik kalau anak-anak bisa meraihnya dengan usahanya sendiri disertai bimbingan dan kasih orang tua, bukan?