Share Like
Simpan

Anak yang memiliki citra diri yang positif dan konsep diri yang baik, biasanya akan lebih terlindungi saat menghadapi peer pressure.

Sudah hampir seminggu, Melissa (5 tahun) tampak lebih murung dan pendiam. Sepulang dari sekolah, kebanyakan waktunya dihabiskan untuk mengurung diri dikamar. Dia pun jarang terlihat belajar bersama kedua adiknya, Verliro (3 tahun) dan Dito (4 tahun). Padahal biasanya, Melissa yang selalu meraih ranking pertama atau kedua di kelas ini, gemar mengajak adik-adiknya belajar. Selidik punya selidik, Fery (42 tahun), ayah Mellisa, akhirnya berhasil mengetahui penyebab perubahan sikap Melissa. Akhir - akhir ini teman - teman sekolahnya suka mengejek Mellisa lantaran ada rambut - rambut putih mirip uban, yang terselip diantara rambutnya. “Aku sedih , mereka bilang, kecil-kecil ubanan. Kenapa mereka begitu ya Pa ? Padahal aku tidak pernah jahat dengan mereka,” tutur Mellisa pada ayahnya.

Kisah diatas adalah contoh kasus peer pressure yang secara nyata terjadi pada kehidupan anak. “Peer pressure memang mempunyai pengaruh besar pada anak usia sekolah. Tapi, itu merupakan hal yang normal. Beberapa anak mempengaruhi anak lain untuk melakukan perilaku tertentu, ”kata Dr. Gail Saltz, psikiater dari New Tork Presbyterian Hospital. Namun peer pressure juga bisa berupa hal positif, seperti tekanan untuk dapat menunjukkan prestasi yang baik. “Tekanan seperti ini biasanya terjadi pada anak usia sekolah dasar. Peer pressure biasanya lebih kearah kompetensi, bukan lagi kepemilikan barang seperti usia anak TK. Sementara untuk remaja, peer pressure lebih ke bagaimana orang menerima dia, apakah dia cukup popular diantara teman-temannya? Tambah Felicia Irene, M.Psi, psikolog perkembangan anak dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Populer itu artinya, sambung Irene, dia bisa diterima oleh banyak temannya, atau nyambung dengan teman-teman sebayanya.

Jika yang dialami anak adalah peer pressure positif, mungkin tidak masalah. Tetapi jika yang terjadi sebaliknya, orang tua perlu mengetahui bentuk tekanan seperti apa yang tengah dialami anak. Salah satu caranya adalah dengan komunikasi, anak menceritakan apa yang dialami kepada orangtuanya. “Tetapi kalau anak tidak menceritakannya, orangtua bisa melihat dari perubahan-perunahan yang terjadi pada anak,”kata Dr S.R Retno Pujiasri Azhar M.Si, psikolog perkembangan anak dari Universitas Indonesia. Misalnya, anak mendadak berubah menjadi pemurung atau pemalu. Atau tiba - tiba anak selalu menolak diajak melakukan sesuatu bersama-sama, padahal biasanya tidak begitu.” Hal-hal seperti itu bisa menjadi indikasi apakah anak mengalami peer pressure atau tidak sambung Felicia.

Bekal Anak
Saat menghadapi peer pressure, anak yang memiliki citra diri yang positif dan konsep diri yang baik, biasanya akan lebih terlindungi dibandingkan anak yang memiliki citra diri yang tidak baik.”Karena itu, sejak bayi dan balita, orang tua harus memberikan masukan - masukan yang positif. Caranya adalah dengan memberikan apresiasi untuk setiap hal-hal yang baik yang dilakukan oleh anak. Jika anak melakukan kesalahan, jangan langsung dicap sebagai anak nakal atau anak bodoh. “Orangtua harus berusaha untuk tidak menggunakan kata-kata yang negatif.” Felicia menjelaskan. Kalaupun harus menghukum anak, orangtua perlu memberikan pengertian, mengapa hal itu perlu dilakukan.

Sebaliknya, beberapa hal justru dapat menyebabkan anak lebih rentan untuk terjebak dalam menghadapi peer pressure negatif. “Biasanya anak yang rentan adalah anak yang pemalu dan tidak pernah diberi dorongan untuk membuka diri. Memang ada anak yang pemalu, tetapi kalau didorong untuk membuka diri, sedikit demi sedikit bisa berkurang, walaupun tidak sepenuhnya. Kedua, anak yang berasal dari keluarga yang tidak sehat. Ketiga, adalah anak yang memiliki kecemasan tinggi dan sedikit-sedikit merasa takut,”paparnya.

Agar peer pressure dapat diarahkan menjadi hal yang positif, Irene menganjurkan agar orang tua mengajarkan kepada anak, bagaimana memilih teman. Mana yang baik dan perlu didekati, dan mana teman – teman yang perlu dihindari. “ Dengan teman – teman yang baik, peer pressurenya diharapkan juga positif. Oleh karena itu, orang tua perlu juga mengenal teman – teman anaknya. Namanya anak – anak kan, mungkin penilainnya belum bisa obyektif.” katanya.

Sesekali teman – teman yang kelihatan akrab dengan anak, diundang ke rumah. Bisa juga dengan sekali – kali mengantar anak jika diundang oleh temannya. Kesempatan tersebut, juga bisa dimanfaatkan oleh orangtua untuk bisa berkenalan dengan orangtua dari temannya itu. “Dengan adanya hubungan kekeluargaan dengan orangtua temannya diharpkan pergaulan anak mengarah kepada peer pressure yang positif, “ jelas Felicia.

Agar bisa memilih teman, anak pun harus belajar untuk mau berteman dengan siapa saja. “ Kalau anak bisa berteman dengan siapa saja, ketika anak dimusuhi oleh satu pihak, dia tidak merasa sendirian karena masih bisa bermain dengan teman yang lain,” katanya. Anak juga harus mempunyai kemampuan sosial yang bagus.

Kemampuan sosial yang bagus berarti, bisa berempati dengan kesulitan orang lain. Dia pun bisa memilih kapan harus mengikuti teman atau tidak. “Social skill yang baik juga berarti kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain dan belajar untuk tidak senantiasa dituruti keinginannya. Tetapi, dia juga harus belajar untuk tidak menjadi ‘keset’ yang selalu mau jika disuruh temannya. Jadi egois tidak boleh, terlalu toleransi juga tidak boleh. Harus seimbang,” tambahnya.

Anak juga dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap emosinya sendiri. Misalnya, kalau anak merasa tidak nayaman dengan seseorang karena diperlakukan tidak enak, dia perlu menyadarinya, kalau perlu mengungkapkannya kepada orang yang dia percaya. “Kepekaan emosi seperti itu bisa diasah sejak kecil,” sambungnya.

Komunikasi dan Keterbukaan
Retno mengatakan, tips paling gampang dan kuno adalah keterbukaan dan komunikasi. “ Kalau orangtua sudah terbiasa menjalin komunikasi dengan anak, mengkomunikasikan apa yang boleh, apa yang tidak, anak akan terbiasa untuk tidak mendendam, tetapi dia bisa mengatakan pada orangtuanya,” tambahnya. Menurutnya, seringkali komunikasi tidak jalan, karena orangtua sudah mempunyai penilaian tertentu dibenaknya. Sebaliknya anakpun sudah mempunyai penilaian lain, sebelum bertemu orangtuanya. Seringkali orangtua terlalu cepat menghakimi perilaku anak tanpa dia mau mendengarkan pendapat atau keinginan anak tentang suatu hal.

Dalam memberi komentarpun yang dinilai bukan kepribadian anak. Misalnya, anak ingin dibelikan sepatu. Biasanya orangtua langsung bereaksi menanggapi permintaan anak dengan langsung menyatakan boleh atau tidak boleh. Sebaiknya, orangtua menanyakan terlebih dahulu kenapa anak memerlukan sepatu baru. Padahal, anak perlu diberitahu kenapa sesuatu itu boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan olehnya. “Kenapanya itu yang perlu diberitahu pada anak,” sambungnya.

Namun, karena pengasuhan itu adalah proses, komunikasi yang erat dengan anakpun tidak akan terjadi serta merta tetapi perlu dibiasakan sejak dini. Proses situ akan dimulai dari rasa percaya dan keterbukaan antara anak dan orangtua. Keterbukaan itu termasuk membicarakan apa yang diharapkan orangtua terhadap anaknya. Orangtua harus memberitahu kepada anaknya, apa yang dia inginkan dari anaknya.

Anakpun perlu diberi kesempatan untuk mengutarakan apa pendapatnya. “Dan kalau itu tidak dibina dari awal, lalu tahu – tahu anak diharuskan untuk ini dan itu, anak akan bertanya ? Lho selama ini kemana saja, kok tahu – tahu aku diminta harus ini harus itu. Hal itu yang kemudian berpotensi menjadi konflik antara anak dan orangtua. Anak jadi merasa kalau orangtua tidak memahami dia dan orangtua merasa anak susah sekali untuk diberitahu,” ungkap Retno panjang lebar.

Sebaliknya, jika anak sudah terbiasa terbuka, dan tahu apa yang diinginkan orangtuanya, kalaupun dia melakukan kesalahan karena tidak bisa menolak tekanan teman – temannya, biasanya dia pasti akan menceritakannya pada orangtua. Dengan begitu, orangtua pun bisa memberikan nasihat pada anaknya, jika lain kali dihadapkan pada situasi serupa, apa yang harus dilakukan.

Retno menekankan, “Komunikasi adalah inti dari pengasuhan. Karena dengan komunikasi, orangtua sebenarnya bisa mencek apa yang terjadi pada anaknya. “ Karena itu, jika anak tidak dibesarkan dengan pola komunikasi yang terbuka akan sulit bagi mereka menghadapi berbahai hal dalam hidupnya, termasuk peer pressure.


Apa yang bisa dilakukan orang tua ?


Dr. Gail Saltz memberikan tips agar orangtua dapat membekali anak menghadapi peer pressure.

  • Dorong anak untuk melakukan banyak kegiatan yang produktif. Karena ketika anak memiliki banyak waktu kosong, anak akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk hang out. Sebagi gantinya, isilah hari – harinya dengan kegiatan yang produktif yang disukainya. Dengan demikian kemungkinan anak terlibat masalahpun lebih terbatas.
  • Jadilah sumber informasi bagi anak. Ingatkan padanya bahwa setiap tindakan pasti ada konsekuensinya, entah itu nilai buruk, suka membolos, main games terlalu lama, dan lain sebagainya. Katakan padanya, bahwa Anda menyayanginya dan peduli akan dampak hal tersebut bagi dirinya kelak.
  • Jangan menggurui tindakan ini biasanya cenderung membuatnya ingin melawan daripada mengikuti apa yang dikatakan.
  • Ajari anak cara menghindari peer pressure negatif, tanpa membuatnya dimusuhi temannya.