Share Like
Simpan

Dulu, sewaktu saya hamil anak kedua, saya cukup merasa “pede” karena sudah melewati masa-masa mengurus si Sulung sewaktu bayi dengan baik. Walaupun beberapa kali saya sempat juga mendengar omongan seperti “Hati-hati, ya nanti si Kecil cemburu, lho sama adiknya.” atau “Pintar-pintar bagi waktu, ya. Kalau sudah cemburu, si Kecil bisa jadi rewel sekali, lho.”. Saat itu sih saya tidak terlalu mendengarkan, karena menurut saya, seorang anak yang akan menjadi kakak tentu punya ikatan batin tersendiri dengan adik kecilnya nanti.

Namun, setelah dijalani ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Bisa dikatakan, saya termasuk dari beberapa Ibu yang harus menghadapi tangisan dan rasa marah si Kecil akibat cemburu selama beberapa bulan. Duh, pusingnya! Kalau hanya marah, saya masih bisa mencoba memberikan pengertian. Tapi, ketika ia sudah sampai merengek sambil membuntuti saya, rasanya betul-betul campur aduk, Bu. Ada kesal karena reaksinya terlihat sedikit berlebihan, tapi hati juga sedih melihatnya yang seperti takut kehilangan.

Karena tidak ingin hal tersebut terjadi terus menerus, saya mencoba bertanya kepada beberapa kerabat, apa tips agar si Kecil bisa diajak mengurus bayi bersama-sama. Setelah tanya sana-sini, saya mendapatkan beberapa cara, Bu. Di antaranya adalah:

1. Libatkan si Kecil saat mengurus bayi.
Agar ia memahami kesibukan Ibu dengan adik barunya, cobalah ajak ia membantu Ibu saat mengganti popok atau memandikan si Bungsu. Misalnya, pada waktu mengganti popok, minta si Kecil untuk mengambil popok bersih untuk adiknya, atau menyiapkan kapas bersih dan juga bedaknya. Sambil meminta bantuannya, berikan penjelasan bahwa dulu ia pun dirawat dengan cara yang sama. Penjelasan sederhana seperti ini, dapat membangun rasa toleransi kepada sang adik dan juga semakin mendekatkan hubungan kakak dan adik bayi.

2. Berikan contoh cara mengurus bayi.
Ibu bisa memberikannya sebuah boneka sebagai alat peraga. Kemudian contohkan cara menggendong atau merawat bayi. Misalnya, cara memasangkan kain bedong yang aman untuk adik kecilnya atau cara memakaikan pakaian bayi.

3. Minta si Kecil untuk membacakan cerita.
Sesekali mintalah si Kakak untuk membacakan cerita kepada adik bayinya. Jika si Kecil masih belum bisa membaca, tidak masalah, Bu. Ibu bisa memintanya untuk membuat dongeng versinya sendiri dan kemudian diceritakan kepada si Bungsu. Dengan begitu, ia dapat membangun sebuah ikatan kakak dan adik secara bertahap.

4. Tanyakan pendapat si Kecil.
Saat Ibu akan memandikan si Bungsu, cobalah minta si Kecil untuk memilihkan pakaian yang akan dikenakan oleh adiknya. Misalnya, “Kak, kira-kira bagusnya adik pakai baju apa ya sore ini?”. Pendapatnya juga bisa Ibu tanyakan ketika melihat adik kecilnya tertidur, seperti “Kalau lihat adik tertidur, menurut kakak adik lagi mimpi apa, ya?”.

Setelah mencoba beberapa cara tadi, saya bisa melihat perubahan bertahap pada si Kecil. Ia yang sebelumnya mudah “ngambek”, sekarang jadi lebih sering menawarkan diri untuk ikut membantu. Wah, saya benar-benar merasa lega dan bersyukur rasa cemburu tersebut bisa saya atasi. Karena, apabila dibiarkan terlalu lama, maka nantinya bisa membentuk kebiasaan yang buruk pada si Kecil. Hal ini juga bisa berpengaruh terhadap hubungan mereka berdua setelah dewasa nanti, lho. Nggak mau itu terjadi kan, Bu? Oleh sebab itu, tetaplah semangat dan jangan menyerah ya, Bu! Membimbing anak yang lebih tua untuk mengungkapkan rasa sayang kepada adik kecilnya sungguh membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Tetapi, usaha yang keras tentu akan berbuah manis. Setuju kan, Bu?