Share Like
Simpan

Baca Bagian 1

Golden Years

Meskipun kemampuan multilingual, diyakini akan membawa sejumlah dampak positif pada anak, namun dikhawatirkan juga dapat memberikan dampak negatif. Salah satu dampak negatif tersebut adalah semi-lingualisme. Anak diajarkan multibahasa tapi tidak dapat menguasai masing-masing bahasa secara utuh. Akibatnya, kemampuan berbahasanya pun menjadi serba tanggung dan tercampur-aduk.

Menurut Gabriel, ketika anak mulai bersekolah dan diperkenalkan bahasa baru di sekolahnya, eksposur bahasa ibu sedikit demi sedikit mulai berkurang. “Mungkin saja hal ini akan memberi dampak, berupa keterbatasan anak untuk menguasai kedua bahasa. Hal ini dapat memicu timbulnya kesulitan dalam bidang akademis dan kemampuan sosial anak kelak,” kata Gabriel. Oleh karena itu, menurut Gabriel, seorang anak sebaiknya sudah terlebih dahulu menguasai bahasa ibunya, sebelum diperkenalkan pada bahasa tambahan.

Tapi menurut Fitria, pada masa golden years (usia 0-6 tahun), anak boleh-boleh saja diperkenalkan pada berbagai macam bahasa. “Memang banyak yang mengatakan, Bahasa Indonesia dahulu dipelajari, baru kemudian bahasa lain, supaya otaknya tidak bingung. Padahal otak manusia normal justru dibuat sedemikian rupa supaya bekerja seperti spons pada saat golden years,” katanya.

Ia berpendapat, dengan anugerah otak yang seperti spons dengan rasa ingin tau secara alami, anak normal bisa menyerap dan belajar berbagai macam hal sekaligus secara simultan. Jadi kalu ingin mengoptimalkan masa golden years, sebelum anak berusia tujuh tahun orang tua dapat mengarahkan anaknya agar dapat menguasai beberapa bahasa. Misalnya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin atau bahasa daerah. ”Itu tidak masalah, selama dilakukan dengan konsisten,” papar Fitria.

Kendati demikian, beberapa studi menunjukan, anak yang belajar empat bahasa secara simultan, akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk dapat berbicara. Tetapi hal ini bukan disebabkan oleh belum memadainya kapasitas mental anak, melainkan karena kurang mendalamnya eksposur anak pada setiap bahasa yang dipelajarinya. Para peneliti menyarankan, jika orangtua ingin anaknya aktif berbicara dengan suatu bahasa, setidaknya anak harus dibiarkan mengalami eksposur suatu bahasa setidaknya 30 persen dari masa aktif anak tersebut.

Fitria mengakui, berdasarkan survei yang dilakukannya pada beberapa orang multilingual, sewaktu kecil mereka memang kerap merasa bingung dalam berbahasa. “Tetapi kebingungannya itu, justru karena dia tahu beberapa bahasa sekaligus untuk satu konsep tertentu, misalnya minum. Kalau sedang capek, kadang-kadang dia bingung memilih bahasa yang harus dipergunakan, karena dia mengerti banyak bahasa,” ungkap Fitria. Selama perkembangan kognitifnya normal, jarang sekali ketidakmampuan berbicara itu disebabkan oleh konsep bahasa yang tercampur aduk.


Metode Konsistensi


Menurut Fitria, konsistensi adalah kunci untuk mengajarkan berbagai macam bahasa pada anak. Jadi misalnya, di rumah anak menggunakan Bahasa Indonesia, di sekolah Bahasa Inggris, lalu mungkin ikut juga les Bahasa Mandarin. “Meskipun mungkin kita merasa, wah ini susah sekali. Tetapi selama itu dilakukan dengan konsisten dan ada repetisinya, tidak ada masalah. Kalaupun ada, mungkin hanya masalah perbedaan kemampuan individu,” jelas Fitria. Misalnya, ada satu anak, yang cepat sekali menangkap pelajaran bahasa baru, tetapi lambat dalam pelajaran matematika. Sementara anak yang lain kemampuan belajar bahasanya terbatas, tetapi bisa lebih cepat dalam pelajaran menari atau musik.

Prinsip konsistensi ini juga bisa diterapkan dengan sistem “One Person One Language.” Misalnya, anak berkomunikasi dengan Bahasa Inggris dengan ibunya, Bahasa Mandarin dengan papanya, dan Bahasa Indonesia dengan pengasuhnya di rumah. “Jadi anak mengetahui, Oh, kalau sama mama Bahasa Inggris, sama papa Bahasa Mandarin. Jadi semua bahasa bisa dipelajari secara simultan namun konsisten,” papar Fitria.

Metode itulah juga yang dilakukan oleh Amalia Wiryono (38 tahun), ibu Xavier Cornil (8 tahun), dan Alexia Pramesti Cornil (3 tahun). Kedua anaknya fasih berbicara dalam Bahasa Indonesia, Inggris dan Perancis. “Suami saya orang Belgia dan dia berbahasa Perancis. Semenjak menikah kami sudah sepakat, kalau punya anak dia akan berbahasa Perancis kepada anak-anak, dan saya berbahasa Inggris,” tutur Amalia. Kebetulan, ia sempat lama tinggal di luar negeri sehingga terbiasa berbahasa Inggris.

Untuk bahasa Indonesia, biasanya Xavier dan Alexia menggunakannya untuk berkomunikasi dengan kakek dan neneknya, orang tua Amalia yang asli orang Indonesia. “Memang saya pernah disarankan, kalau mau berbicara dengan anak-anak itu sebisa mungkin jangan dicampur-campur. Jadi kita konsisten, dan itu akan efektif sekali. Semua anak saya bisa tiga bahasa,” kata Amalia.

Metode tersebut memang efektif jika orangtua menguasai bahasa yang ingin diajarkan pada anak. Namun, bagaimana dengan orang tua yang ingin anaknya bisa berbahasa Inggris misalnya, tetapi tidak memahami satu pun bahasa asing?

Menurut Fitria, hal itu sebetulnya tetap bisa dilakukan. Psikolog di beberapa sekolah internasional ini, memiliki pengalaman untuk mengatasi masalah seperti itu. “Murid saya, kedua orangtuanya adalah orang Jepang, tetapi anaknya bersekolah di sekolah yang berbahasa Inggris. Bahasa Inggris anak tersebut baik-baik saja karena di sekolah gurunya konsisten berbahasa Inggris. Jadi selama di sekolah, anak harus full berbahasa Inggris, tidak boleh campur Jepang, karena akan membuat anak bingung. Anak pun tahu, kalau di sekolah berbahasa Inggris, di rumah berbahasa Jepang,” ungkap Fitria. Intinya, anak harus secara konsisten diberi stimulus dan waktu untuk dapat melatih bahasa tertentu. “Akan lebih baik kalau orangtua bekerjasama dengan gurunya,” Fitria menambahkan.

Akan tetapi, bila orang tua tidak sepenuhnya menguasai atau hanya separuh-separuh menguasai suatu bahasa asing, Fitria tidak menyarankan orangtua itu mengajarkan anaknya bahasa asing. “Kalau bahasa orangtuanya masih campur-campur atau masih belajar, tidak akan bagus efeknya bagi anak yang masih kecil, kata Fitria. Hal tersebut harus dihindari karena anak-anak cenderung meniru dan menjadikan orangtuanya sebagai model. Kesalahan berbahasa pada orang tua akan dianggap benar dan tak perlu disempurnakan. Lain halnya bila anak tersebut sudah cukup besar, sehingga dapat menyortir mana yang benar dan salah. “Takutnya, anak akan berpikir: Ah, mama saja bahasanya campur-campur, aku juga boleh dong. Kalau seperti itu, anak tidak akan maju. Lebih baik full saja sekalian,” kata Fitria mengungkapkan alasan.

Jika anak sudah mulai bingung dengan bahasa-bahasa yang dipelajari, dia perlu diarahkan untuk mendapatkan versi yang benar.tentu hal ini akan sulit jika orangtua sendiri masih belajar atau tidak tahu persis versi yang baik dan benar dari sebuah bahasa. Fitria mencontohkan. Seorang anak pernah berkata, “Don’t ikut-ikutan me.” Dalam menghadapi hal ini, kita harus bertanya, “What do you want to say?” dan berbuat seolah-olah kita tidak tahu apa yang dia bicarakan. “Karena kalau kita mengerti apa yang dikatakan, dia cenderung akan meneruskan. Ah, aku ngomong campur-campur saja, dia mengerti ini. Mengapa harus yang benar? Jadi harus kita balikkan ke yang benar. Misalnya, oh, you mean…kalau dia berbahasa Inggris, atau Oh, maksud kamu…kalau dia mencoba berbahasa Indonesia,” katanya menjelaskan.

?

Baca bagian 1