Share Like
Simpan

Namanya juga anak kecil ya, Bu. Ada saja perilaku mereka yang membuat kita tertawa, bangga, namun tak jarang pula perilaku mereka yang membuat kita tercengang. Apalagi saat di luar rumah, di mana mereka bisa saja melakukan hal-hal yang kadang membuat kita sebagai orang tua ingin marah, tapi di saat yang sama juga harus tetap tenang, agar mata-mata di sekitar kita tidak memandang.

Dulu sebelum memiliki anak, saya sering merasa terganggu dengan anak kecil yang menurut saya ‘nakal’, terutama saat di tempat umum. Setelah menjadi orang tua, saya jadi merasa tak enak karena pernah punya perasaan seperti itu. Karena saya sendiri tahu betapa sulitnya menenangkan si Kecil sekaligus mengontrol diri sendiri agar tenang saat berada di tempat umum. Padahal, semakin besar usianya, semakin baik jika si Kecil diperkenalkan dengan lingkungan yang lebih luas.

Sebenarnya tidak mustahil lho, Bu, untuk membuat si Kecil bisa “anteng” saat berada di luar rumah atau di tempat umum. Ketahui yuk, penyebab si Kecil tak bisa diam, mengamuk, sekaligus trik mengatasinya.

Saat si Kecil “Mengamuk”
Amukan si Kecil, atau dalam bahasa medis dikenal dengan tantrum, memang bisa membuat kita serba salah. Mengapa ya, mereka suka melakukan hal itu? Sebenarnya alasan di balik si Kecil mengamuk adalah salah satu bagian otaknya yang berfungsi untuk berpikir logis belum terbentuk dengan sempurna.
Otak belum terbentuk secara penuh hingga kita berusia pertengahan 20an, dan yang paling terakhir terbentuk adalah frontal lobe, yaitu bagian otak besar yang terletak di bagian dahi, yang membantu kita berpikir sebelum bertindak. Jika ada sesuatu yang membuat si Kecil kesal, bahkan hal paling kecil sekalipun, sistem limbik (satu set struktur otak yang mendukung berbagai fungsi dan indera) yang mengatur emosinya langsung aktif. Karena itu, tak heran bila si Kecil mudah sekali marah atau bahkan mengamuk.

Cara tercepat untuk mengatasi anak tantrum adalah dengan mencapai sistem limbiknya. Pertanyaan seperti, “Kamu maunya apa?”, atau “Mengapa kamu menangis?’’ tak akan bisa si Kecil jawab karena sebab di atas, yaitu karena frontal lobe yang mengatur jawaban logisnya belum terbentuk sempurna. Sebaiknya kita mencari tahu mengapa si Kecil menangis terlebih dahulu, baru kemudian merespon dengan kata-kata seperti, “Wah, pasti kamu kesal sekali ya!”, atau “Grrrr! Ibu mengerti kok, pasti itu mengecewakan sekali!”. Pilihan respon tersebut membuat mereka percaya bahwa Anda mengerti perasaan mereka.

Seringkali, si Kecil akan merespon, ‘’Iya! Aku marah!” Nah, Ibu sudah mendapatkan perhatiannya. Ketika hal ini sudah terjadi dan ia merasa tersambung dengan Ibu, maka ibu bisa mulai bertanya dan mengatasi masalahnya.

Selain cara tersebut, ada beberapa teknik cepat dalam mengatasi tantrum si Kecil. Pertama, dengan bernapas dalam-dalam. Ini akan membuatnya bernapas lebih lambat dan memberikan oksigen ke otak. Ibu bisa membuatnya bernapas dengan memintanya berpura-pura meniup lilin di kue ulang tahun atau meniup balon.

Cara kedua, alihkan perhatiannya. “Eh, suara apa itu? Kamu dengar nggak suara burung berkicau itu? Lihat burungnya yuk!” Trik ini akan membantunya keluar dari sistem limbik dan membuatnya fokus ke hal lain.

Ketiga, temani ia berjalan-jalan. Gerakan maju dan mundur melibatkan aktivitas otak dan membuatnya keluar dari sistem limbiknya. Bonus saat berjalan-jalan, ada banyak hal yang dilihat dan didengar si Kecil, yang akan membuatnya lupa dengan kesedihannya.


Latihan di Rumah
Bagaimana pun, rumah adalah tempat belajar pertama si Kecil. Oleh karena itu, selain mengikuti solusi tersebut di atas, sebaiknya Ibu juga bisa menerapkan cara-cara ini di rumah, agar si Kecil lebih bisa bekerja sama saat diajak pergi ke tempat umum.

  • Membangun ikatan kuat dengan kata-kata positif.
    Misalnya, selalu mengatakan kata-kata positif dan pujian seperti, “Wah, bagusnya warna yang kamu pilih untuk mewarnai!”, atau “Mama senang sekali kamu tadi pintar main sama adik”. Jangan lupa juga untuk selalu bermain bersamanya setiap hari, dan melakukan hal yang si Kecil sukai.
  • Memberikan si Kecil “happy space” atau ‘’area bahagia’’ di rumah.
    Buatlah sebuah area di mana ia bisa menenangkan diri saat mulai mengamuk. Bisa di kamarnya, di tangga, atau di pojok ruangan. Katakan pada si Kecil, “Ibu mengerti kamu sedih. Tapi kita nggak bisa bermain bersama kalau kamu sedang nggak bahagia. Yuk, tenangkan dirimu dulu”.
  • Selalu bersiap dengan situasi unik si Kecil.
    Bila ia mudah mengamuk saat lapar, bawa selalu snack di dalam tas Ibu. Jika ia cepat marah karena lelah, letakkan ia di stroller atau gendong lah agar si Kecil tertidur di pelukan Ibu. Atau jika ia merasa sulit bertransisi dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain, berikan ia peringatan lembut seperti, “Kalau sudah selesai ceritanya dengan Ayah, kita akan makan malam ya”.
  • Ketika si Kecil sudah tenang, peluk ia dan bicarakan apa yang terjadi.
    Gunakan kata-kata sederhana yang membuatnya mengerti apa yang Ibu bicarakan. Misalnya saja, “Kamu tadi marah karena makanannya ada kolnya, ya? Kamu kan nggak suka itu”. Lalu biarkan ia mengekspresikan dengan kata-katanya sendiri. Tersenyumlah dan bilang, “Maaf ya, Ibu tadi nggak ngerti. Sekarang kamu sudah nggak teriak lagi, Ibu kan jadi mengerti”.

Bagaimana, Bu? Memang tak mudah ya, menghadapi si Kecil yang sedang marah. Namun dengan sikap tenang dan kata-kata yang tepat, semua bisa teratasi, kok. Selalu ingat juga bahwa ia akan tumbuh besar, jadi situasi ini tak akan bertahan selamanya.

Ibu punya tips atau cerita tentang menenangkan si Kecil di tempat umum? Yuk, share di sini!