Share Like
Simpan

Suatu hari, saya lihat si Kecil yang duduk di kelas 1 SD pulang dari sekolah dengan tubuh lesu. Awalnya saya pikir ia merasa tidak enak badan. Namun, setelah saya cari tahu, ternyata ia merasa sedih karena nilai ulangan matematikanya tidak sebagus teman-teman lain.

Apakah Ibu sedang mengalami hal ini? Nah, sebaiknya jangan tekan si Kecil karena tidak memiliki nilai yang memuaskan ya, Bu. Tiap anak memiliki kemampuan serta cara belajar yang berbeda-beda. Akan lebih baik apabila Ibu justru mencari bantuan untuk si Kecil, misalnya dengan memanggil guru privat untuknya.

Bicara soal guru les, saya punya beberapa tips nih, Bu. Kurang lebih, ada lima jenis pertimbangan yang Ibu harus tahu dalam memilih kriteria yang tepat sebagai tenaga pengajar tambahan bagi si Kecil. Apa sajakah itu? Yuk, simak sama-sama!

  • Kualifikasi

Sebaiknya, cek terlebih dahulu kualifikasi sang guru dengan menanyakan riwayat pendidikan kepadanya. Misal, apakah ia memiliki sertifikat resmi, atau apa saja gelar pendidikan yang ia dapat serta bidang yang ia kuasai.

  • Cara Berkomunikasi

Hal ini merupakan salah satu faktor terpenting yang perlu Ibu tahu. Sejatinya, seorang guru privat harus bisa membuat si Kecil merasa nyaman sehingga dapat mendukung proses belajarnya. Selain itu, ia juga perlu membina hubungan yang baik dengan Ibu agar lebih mudah memberi informasi rutin soal kemajuan si Kecil.

  • Teknik mengajar yang baik

Ibu harus paham betul teknik mengajar yang akan digunakan oleh sang guru melalui pertanyaan seperti materi yang akan diberikan kepada si Kecil berasal darimana? Atau berapa lama kira-kira waktu yang dibutuhkan dalam satu pertemuan? Tidak perlu sungkan, Bu. Biar bagaimanapun, usaha Ibu ini demi kecerdasannya juga.

  • Mampu meningkatkan minat anak

Ketika harus belajar di luar jam sekolah, tidak jarang anak bisa merasa seperti dihukum. Hal ini disebabkan oleh waktu yang seharusnya ia pergunakan untuk bermain dengan teman-teman si Kecil justru terpakai. Nah, supaya aktivitas ini bisa ia nikmati, sebaiknya pilih guru privat yang dapat meningkatkan minat anak untuk belajar sehingga ia tidak merasa terbebani.

  • Memiliki pengalaman dengan anak-anak

Melihat kondisi anak yang lebih suka bermain, ada baiknya jika Ibu menanyakan kepada calon guru privat si Kecil perihal pengalamannya menghadapi anak-anak. Misalnya, sudah seberapa sering ia menjadi guru privat anak-anak seumuran si Kecil.

Dulu, saya lebih memilih guru privat dari organisasi terpercaya yang memiliki sertifikat resmi. Namun, baru dua pertemuan saya melihat si Kecil tampak tidak nyaman. Setelah saya ajak mengobrol, saya baru tahu kalau ternyata menurutnya sang guru tersebut cukup galak dan tidak bisa berbaur dengan si Kecil. Merasa khawatir ia malah trauma, segera saya putuskan untuk mengganti guru lesnya.

Setelah bertanya-tanya dengan sahabat, rupanya ada salah satu teman dekat saya yang memiliki anak perempuan dan berniat menjadi seorang guru les privat. Untungnya, saya sudah mengenal lama anak ini dan hubungannya dengan si Kecil juga cukup baik. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengundang ia ke rumah dan  mengajukan beberapa pertanyaan seperti metode pengajaran, lama belajar, serta bidang apa yang paling ia kuasai.

Hasilnya, saya merasa cocok dengan pilihan yang satu ini. Si Kecil juga jadi semangat saat tahu, guru les barunya adalah seseorang yang cukup dekat dengan dia. Belajar dari kasus ini, saya jadi menyadari bahwa hal terpenting dari memilih guru privat untuk anak tidak hanya dari penilaian orang tua saja. Namun, pendapat si Kecil juga memiliki peran penting demi rasa nyaman selama aktivitas ini berlangsung, Bu.

Bagaimana? Sudah siap memilih guru les privat yang tepat untuk si Kecil?