Share Like
Simpan

Melihat keseruan anak-anak kecil di sekitar rumah bermain bersama, membuat saya teringat soal si Kecil waktu masih seusia mereka. Saat itu kira-kira ia berusia sekitar empat sampai lima tahun. Dulu, ia termasuk anak yang mudah berbaur dengan teman-teman sebayanya. Awalnya saya melihat hal tersebut sebagai hal yang baik. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kelihatannya ia mulai pilih-pilih teman. Saya sempat khawatir sih, tapi akhirnya saya coba untuk mengobrol dan bertanya sama si Kecil.

Sebelum ngobrol, saya tunggu mood baik si Kecil datang biar ia nyaman. Jadi, sehabis si Kecil mandi dan ngemil sore, saya ajak ia menonton film kesukaannya bersama, sambil pelan-pelan mencari tahu apa yang terjadi dengan teman-teman yang ia ‘tinggalkan’. Setelah berhasil mengorek cerita darinya, sejujurnya saya agak sedikit kaget dan juga takjub. Nggak nyangka, anak seusia dia ternyata sudah bisa mencoba membuat keputusan untuk lingkungan sosialnya. Menurut si Kecil, alasannya mulai pilih-pilih teman adalah karena hal-hal ini:

● Salah satu temannya hobi mengejek.
Di usianya saat ini, kategori mem-bully masih terdengar berlebihan. Namun sikap senang mengejek atau memanggil orang lain dengan julukan tertentu seperti ‘jelek’, ‘gendut’, atau ‘si hitam’ , ternyata sudah bisa membuat anak seumur si Kecil tidak nyaman. Apabila ia mampu memahami kondisi ini, sebenarnya adalah pertanda yang baik karena artinya ia sudah bisa membedakan mana perilaku yang baik dan mana yang tidak.

● Lebih suka bermain dengan teman berjenis kelamin yang sama.
Nggak apa Bu, kalau memang ia lebih suka bermain dengan teman berjenis kelamin yang sama. Biar bagaimanapun, ketika memilih teman di lingkungan sosialnya, ia tentu mencari seseorang yang dapat membuatnya nyaman. Berikan ia kebebasan untuk memilih, tapi tetap tekankan kepadanya kalau berteman itu sebaiknya tetap dengan laki-laki dan juga perempuan, ya.

● Salah satu temannya memiliki lebih banyak mainan.
Namanya juga anak-anak ya, Bu. Melihat mainan baru atau benda yang ia belum punya, tentunya akan membuat si Kecil langsung ’jatuh hati’. Apalagi jika ia berkesempatan untuk memegang sekaligus memainkannya. Wah, bisa-bisa ia malah lebih betah bermain di rumah temannya, lho.

● Suka bermain dengan si A karena bersih dan wangi.
Jangan bingung kalau melihat anak seusianya lebih menyukai teman bermain yang bersih atau wangi. Pada dasarnya, sudah menjadi sifat dasar manusia untuk menyenangi sesuatu yang lebih bagus. Namun, Ibu bisa membantunya dengan memberikan penjelasan singkat, misalnya si B tidak sewangi A karena ia banyak berkeringat sehabis bermain.

Kalau dilihat dari segi usianya, saya rasa alasan tadi cukup masuk akal karena itu merupakan pilihan si Kecil. Saya tetap berusaha untuk menghargai keputusan yang ia buat, namun, sebagai orang tua, saya tetap perlu ambil bagian dalam mengarahkan pola pikirnya. Coba bayangkan deh, Bu jika sikap pemilih yang dimilikinya terus tertanam hingga ia besar. Sikap yang terlalu selektif seperti ini, nantinya bisa menyulitkan cara bersosialisasi si Kecil, lho.

Hubungan pertemanan yang sudah dibangunnya sedari dini, merupakan salah satu faktor pendukung kemampuan bersosial. Hal ini dapat berpengaruh kepada pembentukan sifat si Kecil terutama sifat egosentris, cara berpikir, dan juga sifat kedewasaannya. Maka dari itu, alangkah baiknya jika Ibu tetap memantau dan membimbingnya dalam berteman, ya.

Kalau saya boleh kasih saran, sebaiknya tetap berikan kepercayaan kepadanya dan hindari terlalu banyak melarang. Rasa percaya yang Ibu berikan dapat membuat si Kecil belajar untuk menjadi mandiri. Baiknya lagi, hal tersebut bisa membuatnya belajar cara menyelesaikan masalah, lho. Apabila Ibu memang harus melarang si Kecil, cobalah ajak ia berdiskusi dan berikan alasan dengan bahasa yang mudah diterima agar ia mengerti.

Bagaimana dengan Ibu? Punya cerita unik seputar si Kecil yang pilih-pilih teman? Jika ada, yuk cerita di sini!