Menurut sejumlah ahli, otak balita mengalami perkembangan yang pesat pada trisemester pertama, atau 18 bulan setelah dilahirkan.

Masa ini adalah masa yang paling pada fase perkembangan otak balita, yang juga disebut sebagai “brain growth spurt” atau masa emas pertumbuhan otak. Itu sebabnya masa ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kecerdasan balita.
Menariknya, meski ketika dilahirkan balita membawa lebih dari satu milyar saraf dalam otak, namun saraf-saraf tersebut masih belum saling terhubungkan. Baru pada perkembangan berikutnya sel-sel saraf ini berhubungan satu dengan yang lainnya.


Bayangkan saja, satu sel otak dapat mampu membuat sekitar 15.000 hubungan dengan sel otak lainnya. Hingga balita berusia sekitar 3 tahun, di dalam otaknya sudah terbentuk jaringan sel otak yang sangat rumit. Pada masa ini telah terbentuk jutaan serabut saraf (sinaps) yang terdapat baik di otak kiri maupun kanan. Serabut saraf inilah yang kemudian akan menghasilkan kemampuan tertentu pada balita. Kemampuan ini akan menjadi dasar berbagai kemampuan balita.


Tentu saja perkembangan ini sangat ditentukan oleh asupan gizi. Ketika masih berada di dalam kandungan, perkembangan otak janin bergantung pada asupan gizi sang ibu. Sedangkan setelah lahir, perkembangan otak tidak lepas dari asupan gizi yang diterimanya secara langsung, baik melalui ASI maupun makanan lainnya. Semakin baik nutrisi yang diterima, akan semakin optimal perkembangan otaknya.


Asupan gizi ini memegang peran penting hingga balita berusia dua tahun. Mengapa demikian? Pada masa inilah sel-sel otak balita berkembang pesat, dan 80% sudah saling terhubungan (interkoneksi). Inilah yang akan menentukan kecerdasan balita. Jika pada masa ini asupan gizi balita mengalami gangguan, seperti mengalami gizi buruk, perkembangan otak akan ikut terganggu.


Sayangnya, gangguan yang terjadi pada masa emas ini (golden years), tidak dapat terpulihkan. Sekali perkembangan otak mengalami gangguan, kecerdasan balita tidak akan pernah optimal. Itu sebabnya orang tua harus memperhatikan asupan gizi balita pada masa ini.

Menurut Prof. Dr. Darwin Karyadi, Guru besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor, kurang gizi pada masa kanak-kanak akan mengakibatkan turunnya tingkat intelektual antara 10-15 poin. Bahkan kemudian balita tersebut akan mengalami ketidakmampuan dalam mengadopsi ilmu pengetahuan (Kasdu, 2004).

Selain itu, akibat dari kurangnya mikronutrient seperti yodium, zat besi dan unsur gizi lainnya, balita yang mengalami gizi buruk akan mengalami kelemahan daya pikir. Oleh sebab itu, kebutuhan balita akan nutrisi bukanlah hal yang dapat ditawar lagi.

Karena itu, pastikan Anda memberikan buah hati Anda nutrisi yang terbaik untuk perkembangan otaknya. Beberapa nutrisi penting untuk perkembangan otak balita adalah T+T atau Tyrosine dan Tryptophan, yang berperan penting dalam proses penyerapan informasi di otak, DHA dan AA yang adalah asam lemak penting untuk masa emas pertumbuhan otak dan berperan besar dalam perkembangan sistem saraf pusat dan fungsi penglihatan, Sphingomyelin yang berperan dalam menjadikan sel saraf lebih efektif dan Sialic Acid atau SA yang membantu fungsi memori dan memperbaiki perilaku. Semua nutrisi ini dapat ditemukan di susu Frisian Flag 123, yang diciptakan khusus untuk memastikan balita Anda mendapatkan nutrisi terbaik bagi otak dan tubuhnya.

Berikan nutrisi yang terbaik bagi perkembangan otak balita Anda, agar ia tumbuh cerdas, sehat dan kuat.