Protein merupakan suatu zat gizi makro yang amat penting bagi tubuh, karena zat ini berfungsi utama sebagai zat pembangun dan pengatur. Protein terdiri dari asam - asam amino yaitu asam organik yang mengandung gugus karboksil dan amino.

Di dalam makanan maupun tubuh terdapat 22 jenis asam amino. Tubuh memerlukan 20 jenis asam amino untuk membentuk protein tubuh, sebelas diantaranya dapat dibentuk oleh tubuh sendiri, sedangkan Sembilan asam amino lainnya mutlak harus dari asupan makanan, oleh karena itu dinamakan asam amino esensial.

Berdasarkan kelengkapan komposisi asam amino tersebut, yang membedakan kualitas protein.Kombinasi beberapa jenis makanan dapat meningkatkan kualitas/mutu protein, dalam kata lain dapat melengkapi kekurangan komposisi asam amino di dalamnya.

Sebagai zat pembangun, protein merupakan bahan pembentuk jaringan – jaringan baru yang selalu terjadi di dalam tubuh dan mempertahankan jaringan yang telah ada.

Bagaimana tubuh manusia memanfaatkan protein yang didapat dari makanan? Protein sebagai sumber asam amino sangat besar peranannya bagi pertumbuhan dan pemeliharaan atau pergantian sel jaringan tubuh yang rusak.

Protein dalam tubuh ditemukan di setiap sel hidup dan cairan. Otot, organ dan banyak hormon dibangun oleh protein, misalnya sekitar 50% berat kering sel dalam jaringan seperti hati dan daging terdiri dari protein.. Protein juga berperan pada pembuatan hemoglobin, yaitu sel darah merah yang fungsinya membawa oksigen ke seluruh tubuh. Protein juga berperan dalam pembuatan antibodi yang melawan infeksi dan penyakit, juga diperlukan untuk melengkapi kemampuan proses pembekuan darah.

Protein ikut secara langsung maupun tidak dakan mengatur berbagai proses dalam tubuh, seperti sebagai komponen utama keseimbangan osmotik, sebagai ion dalam keseimbangan asam basa, sebagai gugusan prostetik (molekul Hb, nucleoprotein, glikoprotein, lipoprotein), dan juga sumber energi.

Bukan hanya bayi dan anak-anak saja yang membutuhkan protein, orang dewasa juga membutuhkan banyak protein untuk bisa tetap hidup sehat.

Protein ditemukan pada ikan, daging, unggas (ayam, bebek), susu, telur, kacang-kacangan (buncis, buncis, lentil, kacang tanah, kacang polong, kacang kedelai, tahu, tempe), dan sejumlah kecil ditemukan pada, jagung, beras, gandum, dan serealia lainnya.

Kebutuhan bayi, khususnya selama 12 bulan pertama berkisar 17-19 gr/ hari. Sebagian dipenuhi dari ASI dan sisanya dipenuhi dari makanan tambahan. Campuran protein soya dan protein susu serta protein serealia sangat unik karena saling melengkapi mutunya sehingga memberikan nilai terbaik. Kesehatan bayi dan juga fungsi tubuh bayi sangat bergantung salah satunya pada nutrisi protein yang akan membekalinya dengan zat yang diperlukan dalam pertumbuhan dan perkembangan.

Jika kebutuhan protein tidak mencukupi maka akan mempengaruhi keseimbangan nitrogen negatif, malnutrisi dari derajat ringan sampai berat dengan penampilan tipe kwashiorkor atau kwashiorkor marasmik. Gejala kwashiorkor diantaranya lesu, diare, ketiadaan aktivitas, gagal tumbuh, kulit mengering, hati yang membengkak, edema pada perut dan kaki. Edema terjadi karena kurangnya protein di dalam darah sehingga dengan proses osmosis cairan keluar ke pembuluh darah dan menumpuk di ruangan ekstra vaskuler hingga menyebabkan bengkak.

Lifeclinic.com menyebutkan protein berlebih beresiko terkena kolesterol tinggi dan kelainan sendi. Makanan mengandung protein tinggi juga berperan pada masalah ginjal karena beban kerja ginjal berat dalam memproses jumlah protein yang berlebih, terutama pada neonatus atau BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah). Karena biasanya makanan dengan protein tinggi juga tinggi lemak maka bisa menyebabkan penyakit jantung.