Share Like
Simpan

Menjaga kesehatan tulang anak sejak dini merupakan hal yang utama, karena masa anak-anak merupakan sebuah masa pembelajaran yang paling efektif. Sehingga, dibutuhkan kesehatan fisik yang kuat, terutama kesehatan tulang pada kaki dan tangan.

Menurut Dr.Peni Kusumastuti Sp. RM, kesehatan tulang pada anak akan membantu meningkatkan kecerdasan anak dalam berpikir dan bertindak. ”Anak yang memiliki tulang kaki dan tangan yang sehat, yang ditandai dengan banyak bergerak dan aktif, akan memiliki semangat belajar yang lebih tinggi dibandingkan anak yang cenderung banyak diam dan tidak memiliki gairah atau semangat karena mengalami masalah seputar gizi dan tulang,” jelasnya.

Menurut pakar kiropraktik, Anthony K Daswon DC, proses hilangnya masa tulang seseorang dimulai pada akhir usia 20-an dan awal 30-an, sedangkan untuk penyakit osteoporosis pada anak sangat jarang terjadi. Dan, bila terjadi hal tersebut dikaitkan dengan gen reseptor vitamin D, ”Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan terjadinya demineralisasi tulang, yang dapat menyebabkan penyakit ricket (tulang bengkok) pada anak-anak dan osteomalacia (melunaknya tulang) pada orang dewasa,” paparnya.

Namun, bukan berarti anak terbebas dari masalah osteoporosis. Kekurangan asupan kalsium di usia dini menyebabkan anak beresiko terkena osteoporosis lebih dini. Menurut spesialis gizi dr Pauline Endang Sp. GK, penduduk Indonesia rawan terkena osteoporosis dini. Bahkan berdasarkan data pusat penelitian dan perkembangan gizi dan makanan Departemen Kesehatan menunjukkan 41,7 persen penduduk Indonesia rawan terkena osteoporosis dini.

Pentingnya Kalsium
Untuk menjaga kesehatan tulang ada tiga hal pokok yang harus dipenuhi, yaitu makanan bergizi dan seimbang terutama makanan kaya kalsium, olahraga teratur, dan istirahat cukup. Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kalsium merupakan zat gizi yang penting bagi semua golongan usia dan setiap fase kehidupan. Peran kalsium untuk anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Pada anak, kalsium membantu pertumbuhan tulang, artinya tulang tumbuh lebih panjang. Sedangkan, pada masa usia 20-an dibutuhkan kalsium dalam jumlah besar agar tulang lebih padat.

Untuk itu jumlah asupan kalsium pun berubah sesuai dengan usia. Menurut Departemen Kesehatan, asupan kalsium yang dianjurkan untuk anak usia 1-9 tahun adalah 500-600 mg per hari. Sedangkan, bagi anak usia 10-18 tahun sebanyak 1000 mg per harinya.

Asupan kalsium sejak dini bagi anak-anak dan dewasa membantu pertumbuhan tulang yang kuat dan mempertahankan kualitas kesehatan tulang lebih lama. ”Riset dari Departemen Kesehatan memaparkan 4 dari 10 orang Indonesia beresiko osteoporosis dini, asupan kalsium yang cukup sejak dini berarti anak menabung kalsium yang akan dimanfaatkan kelak,” kata Pauline.

Namun sayangnya, asupan kalsium yang biasa dikonsumsi anak belum mencukupi jumlah kalsium yang dianjurkan. Anthony mengatakan, komposisi makanan sehari-hari yang ideal adalah 80% sayur dan buah-buahan (makanan beralkali tinggi) serta 20% nasi, daging, ikan, roti dan lain-lain. Tapi, yang bisa dimakan keluarga Indonesia justru sebaliknya,yaitu 80% adalah nasi, daging, ikan, roti dan 20% adalah sayur dan buah-buahan . Akibatnya tubuh kekurangan kalsium dan zat-zat lain yang dibutuhkan.

Pauline menambahkan, sebaiknya hidangkan makanan kaya kalsium seperti susu dan produk mengandung susu karena nutrisinya lebih mudah diserap tubuh. Untuk usia 2-8 tahun, hidangkan tiga kali sehari 2 gelas produk makanan bebas lemak atau susu rendah lemak, yogurt, dan keju.

Anak juga bisa mendapatkan kalsium dari minyak ikan, ikan, telur, mentega, keju, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. ”Nutrisi tersebut perlu dilengkapi dengan susu. Namun, ada sebagian orang tua yang hanya memberikan susu pada anak, tanpa diimbangi dengan asupan nutrisi yang memadai. Susu memang diperlukan sebagai pelengkap, tapi sayuran hijau dan kacang-kacang, memiliki peran yang lebih signifikan dalam menghasilkan vitamin D dan asupan untuk kalsium,” terangnya.

Pauline menambahkan, pemberian rangsangan terefektif untuk pembentukan tulang anak, yaitu pemberian asupan nutrisi pada saat pertumbuhan tulang tercepat dari anak, yaitu pada usia 11-15 tahun pada anak laki-laki dan anak perempuan terjadi 2 tahun lebih awal. ”Anak yang kekurangan kalsium dapat menderita rachitis dengan gejala tulang rapuh, tidak kuat, mudah bengkok yang pengaruhnya sangat negatif bagi pertumbuhan anak secara keseluruhan apabila anak terkena keropos tulang dini,” katanya.

Pentingnya Aktivitas Fisik
Kegiatan fisik pun dapat membantu memperkuat tulang anak. Peni mengatakan bahwa bentuk rangsangan kepada anak adalah cukup membiarkan anak aktif bergerak. Sebaliknya, menjadi tak aktif dapat menyebabkan tulang keropos. Jangan biarkan anak hanya duduk menonton dalam waktu lama yang dapat menimbulkan kelainan struktur tulang.

Anthony menambahkan, salah satu bentuk rangsangan atau stimuli itu adalah dengan melakukan berbagai aktivitas atau pergerakan tubuh yang meningkatkan beban pada tulang secara seimbang. ”Sehingga terbentuk sel-sel tulang baru dari hasil stimulan tersebut,” katanya. Lakukanlah olahraga yang memberikan beban pada tubuh untuk membantu menstimulasi perkembangan tulang. ”Berjalan kaki salah satu aktivitas pembentukan tulang yang baik, minta anak melakukan kegiatan ini selama 60 menit setiap harinya,” imbuh Anthony. Selain mengajarkan anak untuk tidak banyak duduk dan diam, Peni juga menyarankan pada orang tua untuk menumbuhkan kegemaran anak melakukan olahraga dan aktivitas outdoor bersama anak.

Peni juga menganjurkan pilihan olahraga air, seperti aquarobik dan berenang untuk ikut membentuk pertumbuhan tulang anak . Saat ini hidroterapi merupakan sebuah metode yang sedang dikembangkan karena terbukti efektif untuk menabung masa tulang, sehingga tulang tidak cepat keropos maupun bengkok. Hal ini disebabkan karena di dalam air tidak ada gravitasi sehingga berat badan tidak membebani struktur tulang belakang. Dan, jenis kegiatan ini lebih efektif daripada yang dilakukan di darat,” terangnya.

Kesehatan tulang tak hanya mempengaruhi performa fisik melainkan juga keseluruhan perkembangan anak termasuk kecerdasannya.

Mendidik anak untuk belajar dengan bergerak merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang efektif. ”Jangan jadikan anak pasif, hanya duduk dan main di depan monitor, seperti bermain playstation, tapi ajaklah ia untuk bergerak, melakukan olah tubuh, karena perkembangan tulang pada anak yang semakin terstimulasi dengan baik hanya dengan gerak. Bukan duduk dan banyak diam,” kata Peni.

Sikap Tubuh yang Salah
Menurut pakar tulang dari RS Bintaro International, dr. Luthfi Gatam Sp. OT, banyak orang dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari sering melupakan masalah posisi tubuh. Padahal sikap tubuh yang baik sangat penting karena akan membantu tubuh bekerja maksimal. Banyak manfaat yang dapat dirasakan anak bila ia memiliki postur tubuh yang baik, yaitu dapat membuat daya tahan dan pergerakkan tubuh jadi efektif, di samping menyumbang kesehatan secara menyeluruh. ”Postur tubuh yang baik juga dapat mencegah agar postur tidak jadi buruk. Kalau sikap tubuh tidak baik, selain tulang-tulang jadi tak lurus, otot-otot, ruas, serta ligament (jaringan pengikat sendi) akan tertarik lebih keras. Sikap yang tidak baik juga memicu cepat lelah, ketegangan otot, dan akhirnya rasa sakit,” paparnya.

Kesalahan yang kerap terjadi semenjak anak-anak dan berlanjut sampai dewasa antara lain postur tubuh yang salah saat beraktivitas, posisi duduk yang statik, gerak tubuh yang sama dan berulang-ulang dan dilakukan dengan cara yang salah. Semua hal tersebut akan menyebabkan nyeri pinggang, atau akan mengakumulasi penyakit nyeri tulang yang lainnya, seperti penyumbatan sel syaraf, dan berbagai penyakit lainnya.

Perhatikan pula postur tubuh anak, apakah sudah berbentuk sesuai dengan kaidah susunan tulang yang normal atau sebaliknya. ”Awasi bila anak sedang belajar, bagaimana cara ia duduk, berjalan dan mengajarkan tugas di atas meja. Pilih meja yang tidak membuat anak membungkuk. Ajarkan posisi duduk, berjalan, membawa beban dan mengerjakan sesuatu diatas meja kepada anak,” ujar Peni.

Posisi Jalan yang Benar

  • Badan berdiri tegak searah gravitasi bumi. Jangan condong ke depan atau ke belakang karena otot pinggang atau punggung menahan beban tubuh dan menjaga agar tidak terjadi cedera.
  • Pundak harus rileks.
  • Jalan harus minimal 30 menit.
  • Saat melangkah, tangan jangan jauh dari beban, melainkan merapatkan.
  • Kepala tegak lurus dengan badan (kuping di atas pundak).
  • Telapak tangan rileks seperti memegang telur.
  • Langkahkan kaki mulai dari mengangkat tumit, kemudian telapak tangan diangkat dan diletakkan lebih jauh ke depan, begitu seterusnya.