Share Like
Simpan

Beberapa waktu lalu, seorang teman curhat mengenai anaknya yang masih saja takut dengan banyak hal, padahal usianya sudah hampir genap lima tahun. Parahnya, ketakutannya tak hanya muncul saat ia berada di situasi menegangkan seperti hendak berpapasan dengan anjing peliharaan tetangga, tapi juga dalam keseharian, seperti ketika harus tidur di kamarnya sendiri, terpisah dari kedua orang tuanya.

Mendengar curhatannya, saya jadi teringat pengalaman saya dan si Kecil beberapa tahun lalu. Ya, saat si Kecil masih berusia tiga tahun, ia pun pernah berada di fase mudah takut pada berbagai hal. Seperti halnya anak teman saya tadi, saat itu si Kecil bahkan takut bila saya ajak ke kolam renang dan tempat-tempat ramai seperti pusat perbelanjaan atau tempat rekreasi. Khawatir psikologi anak saya terganggu, saya pun mencari info lebih lanjut tentang hal ini lewat forum konsultasi masalah anak. Ternyata, tak seperti yang saya khawatirkan, rasa takut si Kecil di usia itu justru terbilang wajar dan memang dialami setiap anak seusianya di dunia.

Meski demikian, sebagai Ibu, saya merasa perlu mendorongnya agar ia lebih berani. Sebab, bagaimanapun, keberanian adalah modal baginya untuk lebih banyak menjelajah sehingga ia dapat tumbuh lebih cerdas. Berdasarkan info yang saya dapat dari forum konsultasi tadi, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi si Kecil yang sering takut tak menentu:

  1. Pahami ketakutannya

Alih-alih memaksakan si Kecil untuk berani saat ia ketakutan, berusahalah menerima dan memahami hal itu sebagai bagian dari proses tumbuh kembang dan pematangan psikologi anak. Karenanya, stop menganggap remeh ketakutannya, apalagi sampai memarahinya seperti ia sedang melakukan kesalahan. Bagaimana pun, dulu kita juga pernah mengalami fase-fase ini, kan?

Selain bisa membuatnya merasa lebih aman dan nyaman, sikap pengertian dari Ibu akan membuat ia lebih memercayai Ibu sebagai sosok panutan. Bila sudah begini, Ibu bisa lebih mudah menasihati dan meyakinkannya untuk lebih berani.

Dari pengalaman saya, begitu tahu bahwa ketakutan si Kecil dipicu rasa khawatir terpisah dari saya, saat itu saya berkata padanya, “Sama seperti yang kamu rasakan, Ibu juga takut terpisah dari kamu, Nak. Tapi, Ibu nggak kemana-mana kok, Ibu cuma duduk di kursi di sana, sambil melihat kamu bermain bareng teman-teman.” Ini adalah salah satu cara saya meredakan ketakutan si Kecil saat mengajaknya ke pusat-pusat keramaian dulu.

Begitu pun ketika saya hendak meninggalkan si Kecil untuk pertama kalinya di PAUD. Agar ia merasa aman, saat itu saya mengatakan padanya, “Ibu tak akan meninggalkanmu lama-lama kok. Sebelum bel pulang berbunyi nanti, Ibu sudah ada di depan pagar menunggu kamu.”

  1. Ajak si Kecil Berbicara

Bu, sebenarnya momen-momen ketakutan si Kecil justru bisa Ibu manfaatkan untuk membangun komunikasi yang baik antara Ibu dan anak. Caranya, minta si Kecil mengutarakan ketakutannya pada Ibu, lalu jadilah pendengar yang baik. Saat Ibu berhasil membuat si Kecil merasa nyaman mengomunikasikan yang ia rasakan, Ibu tidak hanya membantunya mengurangi kecemasan, tapi secara tak langsung juga mengajarkannya jadi pribadi yang senantiasa terbuka pada Ibu. Kebiasaan ini tentu akan membantu Ibu dalam mendampingi si Kecil tumbuh dan berkembang hingga ia dewasa.

  1. Bantu Ia Beradaptasi

Seperti halnya belajar jalan atau belajar berbicara, menumbuhkan keberanian juga butuh proses, Bu. Karenanya, latih ia secara perlahan untuk menaklukkan rasa takutnya. Kuncinya mudah kok, yaitu hindari terburu-buru.

Misalnya, si Kecil takut tidur dalam kamar dengan lampu yang dimatikan. Alih-alih memaksanya langsung berada dalam kondisi gelap yang membuatnya merasa takut, berikan ia waktu untuk beradaptasi dengan gelap secara perlahan. Hal ini bisa Ibu lakukan dengan memasang lampu tidur kecil untuk menggantikan lampu utama sebagai sumber cahaya. Selain itu,  Ibu juga bisa  menemaninya terlebih dulu jelang waktu tidur sambil membacakan cerita agar ketakutannya teralihkan. Seiring berjalannya waktu, cara ini akan membuatnya terbiasa dan tak lagi takut pada gelap.

Jika cara-cara tadi sudah Ibu lakukan namun belum berhasil meredakan ketakutan si Kecil, mungkin Ibu perlu melakukan konsultasi masalah anak ke dokter anak. Terlebih lagi bila saat takut dan cemas, si Kecil cenderung lebih agresif dan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan diri atau orang-orang di sekitarnya. Waspadai juga bila ketakutan tersebut menganggu jam tidur si Kecil, atau parahnya lagi, membuatnya menarik diri dari lingkungan sosialnya.

Semoga si Kecil bisa menjadi anak yang berani ya, Bu!