Share Like
Simpan

Sebagai orang tua, mungkin Ibu merasa resah dan bingung ketika si Kecil berbohong karena takut hal ini bisa berpengaruh pada psikologi balita. Ini juga yang saya rasakan waktu si Kecil yang masih berusia empat tahun berbohong sudah menghabiskan makan siangnya, padahal sebenarnya ia membuang makanannya. Kenapa ya si Kecil melakukannya?

Sebenarnya ini kembali lagi ke naluri manusia. Seeorang berbohong ketika tidak mau dipandang buruk oleh orang lain. Begitu juga dengan si Kecil, Bu. Ia tidak mau Ibu tahu bahwa ia tidak menghabiskan makanannya karena tahu Ibu tidak suka akan hal itu. Lalu, bagaimana cara orang tua mengajarkan jujur pada anak? Saya sempat berkonsultasi dengan psikolog melalui live chat di Facebook Ibu & Balita. Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat Ibu lakukan menurut psikolog tersebut.

  • Hindari Menghukum Ketika si Kecil Ketahuan Berbohong
    Memasuki usia empat tahun, kemampuan verbal si Kecil sedang berkembang, Bu. Ia mungkin menjawab pertanyaan Ibu dengan spontan tanpa memahami benar artinya atau efeknya. Oleh karena itu, daripada menuduhnya, “Wah, kamu berbohong ya” dan malah menghukumnya, lebih baik Ibu melakukan pendekatan dengan cara lain. Ibu dapat menjelaskan secara perlahan, “Apa benar kamu tidak mencoret tembok?” Dari sini, Ibu bisa mengajaknya untuk bercerita jujur dengan nada yang tenang. Hindari intonasi menuduh atau membentak ya, Bu, karena hal ini justru akan membuatnya makin menolak mengatakan yang sebenarnya.
  • Hindari Menyebutnya Pembohong
    Hindari memberikan label “pembohong” pada si Kecil karena hal ini akan memengaruhi psikologi balita ke depannya. Ibu bisa malah membuatnya malu, bukan menyesal dengan perbuatannya. Penyesalan itu baik agar si Kecil mendapat pelajaran dan dapat memperbaiki kesalahannya. Sementara, rasa malu itu datang dari penilaian negatif, Bu, dan mungkin membuatnya tidak percaya diri, Bu. Untuk itu, Ibu perlu hati-hati saat memaparkan apa yang tidak benar, dan mana yang sebaiknya dilakukan oleh si Kecil. Dengan begitu, ia akan paham bahwa yang tidak Ibu sukai adalah perbuatannya, bukan si Kecil.
  • Jadilah Contoh yang Baik
    Sebagai orang tua yang bijak, Ibu juga harus memberikan contoh yang baik dengan menghindari kebohongan sekecil apa pun. Kebohongan-kebohongan sederhana bisa saja ditiru oleh si Kecil. Misalnya, ketika Ibu menerima telepon dari seseorang yang sedang tidak ingin Ibu terima. Ibu pun memberikannya ke Ayah dan memintanya untuk mengatakan bahwa Ibu tidak ada di rumah. Hal ini bisa membuat si Kecil merasa bahwa bohong itu perlu untuk menghindarkan diri dari masalah, seperti yang Ibu lakukan saat ini.
  • Ajari si Kecil Melalui Cerita atau Kisah Orang Lain
    Sangat penting untuk mengajarkan kejujuran pada si Kecil sejak dini. Nilai-nilai kejujuran ini bisa Ibu ajarkan melalui dongeng sebelum tidur atau kisah-kisah semasa kecil. Misalnya, Ibu bisa mengangkat kisah seputar akibat berbohong dan bagaimana kejujuran mampu membawa kebaikan. Dengan begitu, ia bisa pelan-pelan belajar melalui cara yang lebih menyenangkan, bukan karena ia telah melakukan kesalahan.

Itulah beberapa hal yang bisa Ibu lakukan untuk mengajarkan kejujuran pada si Kecil sejak dini. Tentu saja, Ibu juga dapat melakukan konsultasi lebih dalam seputar hal ini dengan psikolog anak secara langsung, untuk mendapatkan saran dan masukan tambahan. Dengan begitu, Ibu dapat mendorong perkembangan psikologi balita dengan lebih baik.