Share Like
Simpan

Pernahkah Ibu melihat si Kecil tiba-tiba menangis dan berteriak kencang bahkan rela bergulingan di lantai saat kehendaknya tidak Ibu kabulkan? Atau si Kecil mulai melempar dan membanting semua mainan yang ia bisa raih. Apa yang Ibu perlu lakukan untuk mengatasinya?

Kondisi seperti itu disebut juga dengan temper tantrum, yang terjadi saat si Kecil menunjukkan rasa marah, dan tidak hanya sebagai ‘alat’ untuk menarik perhatian. Selama temper tantrum terjadi, anak seringkali menangis, berteriak, dan menggerakkan lengan dan kakinya. Biasanya kondisi ini terjadi antara 30 detik hingga 2 menit dan biasanya ‘amarah’ si Kecil menghebat pada awalnya. Namun kadang kondisi ini dapat berlangsung lebih lama dan semakin berat, seperti memukul, menggigit, mencubit dan sebagainya. Tantrum berat ini dapat membahayakan si Kecil sendiri maupun orang lain di sekitarnya, dan bisa menjadi tanda masalah yang lebih serius. Temper tantrum biasanya timbul pada kisaran usia 1-4 tahun.

Terapis Jennifer Brown dan Pam Provonsha Hopkins, penulis buku berjudul What Angry Kids Need: Parenting Your Angry Child Without Going Mad, menjelaskan penting untuk memahami saat si Kecil menangis dan alasannya. Dalam dua tahun pertamanya, menangis merupakan satu-satunya keterampilan bahasa yang dimiliki si Kecil untuk mengomunikasikan perasaan dan kebutuhannya. Jadi, Ibu perlu memberikan respon terhadap ekspresi emosinya agar si Kecil dapat belajar untuk percaya dan timbul ‘jalinan’ kedekatan dengan Ibu dan Ayah.

Selanjutnya juga dikatakan, pada usia lebih dari dua tahun, tantrum ini dapat bersifat manipulatif. Ibu mungkin pernah melihat si Kecil tiba-tiba menjadi marah besar hanya untuk membuat Ibu menyerah pada batas tertentu. Upaya tersebut hanya untuk mengalihkan perhatian Ibu dari mendisiplinkannya, sehingga ia pun akan melakukan tangisan dramanya. Ibu sebaiknya tidak stres secara berlebihan, tetaplah tenang dan serius. Jika Ibu tenang dan yakin tantrum tersebut hanya drama biasa, percayalah dengan insting Ibu. Ibu bisa mengutarakan pendapat jujur secara empati, misalnya,”Ibu tahu kamu marah karena Ibu mematikan televisinya.” Lanjutkan dengan,”Kalau kamu membutuhan bantuan Ibu untuk menenangkanmu, Ibu ada di dapur ya, sayang.” Brown dan Hopkins berpendapat, dengan melakukan kontak – bahkan kontak mata sekalipun – dapat memperpanjang tantrum si Kecil.

Ibu tidak perlu mengacuhkan saat si Kecil menunjukkan rasa marah dan frustrasinya. Namun yang perlu Ibu perhatikan adalah penyebab mengapa tiba-tiba si Kecil menunjukkan tantrum. Untuk membantu si Kecil lebih tenang dan mengajarkan bahwa temper tantrum merupakan perilaku yang mengganggu atau tidak bisa diterima, Ibu juga bisa melakukan metode time-out. Namun, apabila tantrum ini masih terus berlangsung hingga usianya beranjak dan Ibu sudah tidak dapat lagi mengatasinya serta khawatir si Kecil dapat terluka, segera konsultasikan dengan dokter.