Share Like
Simpan

Menurut saya, masa paling menantang adalah ketika si Kecil berusia 1-3 tahun. Mengapa? Pada rentang waktu tersebut, keinginan si Kecil untuk menjelajahi dunianya semakin kuat. Ia juga lebih mengenal apa yang ia inginkan atau pun sebaliknya. Artinya, kita tidak semudah dulu lagi dalam mengarahkannya.

Termasuk soal asupannya, Bu! Dulu, saya sempat pusing karena si Kecil sering menolak makan dan hanya mau minum susu. Walau saya tahu kalau susu punya manfaat yang baik bagi perkembangan otak dan tubuhnya serta mengandung kalsium yang sangat baik untuk pertumbuhan tulang si Kecil. Namun, di rentang usia ini, si Kecil perlu mendapatkan asupan nutrisi dari bahan makanan yang lain, selain susu.

Berikan Contoh

Bagi kita, menyantap sepiring nasi dan perkedel tahu bukanlah hal yang menakjubkan lagi. Berbeda dengan si Kecil yang masih belajar memasukkan aktivitas tersebut dalam daftar kegiatan hariannya, Bu. Dengan demikian, kegiatan makan harus terlihat menarik baginya. Untuk itu, tunjukkan pada si Kecil bahwa Ibu selalu menikmati momen makan, sehingga ia ingin menirunya.

Tentukan Jadwal

Bayangkanlah menjadi si Kecil. Ia sedang bersemangat menjelajah banyak hal baru di rumah dan sekitarnya. Memanjat sofa, menyentuh daun, menyimak suara burung berkicau, semua hal tersebut, menyita perhatian serta energinya. Itu pula yang kadang membuat si Kecil terlanjur lelah sebelum menyentuh makanannya. Oleh karena itu, buat jadwal makan bersama, lalu berusahalah untuk menepatinya, Bu.

Variasikan Makanan

Butuh kreativitas memang untuk bisa selalu menyajikan menu yang menarik bagi si Kecil. Meski sudah batita, si Kecil masih perlu dikenalkan dengan jenis makanan atau masakan baru, Bu. Akan lebih bagus lagi jika Ibu bisa membuat variasi penyajiannya agar si Kecil semakin semangat menyantap makanannya. Ibu juga masih bisa menyelipkan susu ke dalam sajian si Kecil, seperti membuat bubur oatmeal susu atau pun sereal.

Ubah Porsinya

Kita tahu bahwa lambung mungil si Kecil butuh asupan nutrisi yang besar. Oleh karena itu, kita cenderung memasukkan sebanyak mungkin makanan di piringnya. Itu keliru, Bu. Bukannya bersemangat, si Kecil justru bisa merasa takut. Cobalah untuk menyediakan porsi makan sewajarnya, misalnya satu karbohidrat dengan satu protein hewani, satu sayur dan satu protein nabati.

Batasi Susu

Bukan berarti kita mengurangi frekuensinya minum susu, Bu. Si Kecil bisa protes kalau kita larang seperti itu. Sebaiknya Ibu tidak menawarkan susu sebelum ia selesai menyantap makanannya. Lebih tepatnya, tunggu kira-kira satu jam setelah selesai makan. Jika si Kecil ternyata masih lapar dan ingin minum susu, baru tawarkan padanya susu dengan takaran yang lebih sedikit. Atau, jika si Kecil sedang fit, Ibu bisa membuatkan es loli dari susu dengan ukuran kecil.

Sudah terbayang belum Bu, bagaimana mengaplikasikan lima tips di atas? Kalau saya, kadang juga suka membuat suasana yang berbeda di waktu makan. Misalnya, makan di halaman sambil piknik, atau justru di dalam tenda mainan agar terasa seperti berkemah. Terbukti ia jadi semakin semangat untuk makan. Sedikit butuh usaha memang, tapi demi yang terbaik untuk si Kecil, mengapa tidak?