Whatsapp Share Like
Simpan

Memasuki usia 1 tahun, si Kecil akan semakin aktif bermain dan bersosialisasi dengan sekitarnya. Kira-kira jenis mainan batita seperti apa yang paling disukai si Kecil? Kalau anak laki-laki saya senang sekali dengan mainan masak-masakan. Awalnya saya sempat khawatir Bu, karena masak-masakan identik dengan permainan anak perempuan. Tak ingin terus khawatir, saya akhirnya memutuskan untuk membicarakan masalah ini dengan teman saya yang juga seorang psikolog anak. Seperti apakah responnya? Yuk, simak rangkumannya di bawah ini!

- Awal Stereotip Pembedaan Mainan Berdasarkan Jenis Kelamin Bayi

Ibu tentu sudah tidak asing lagi ketika melihat anak laki-laki bermain mobil-mobilan dan anak perempuan dengan bonekanya. Menariknya, stereotip ini bermula dari norma budaya, Bu.

Sebagai contohnya, untuk kebanyakan orang, memakaikan baju pink kepada anak laki-laki atau memberikan mobil-mobilan sebagai mainan anak perempuan merupakan hal taboo atau dianggap tidak biasa. Nah, norma budaya ini terus berjalan selama ratusan tahun dan tanpa disadari tertanam pada pikiran kita dari kecil hingga diteruskan secara turun-temurun.

- Efek Stereotip untuk Perkembangan Psikologi si Kecil 

Sayangnya, pemikiran ini ternyata dapat mengganggu perkembangan psikologi si Kecil, Bu. Perlu diingat bahwa pada usia ini, si Kecil memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Jika si Kecil dibatasi oleh bias gender, tentu ini akan menghambat proses belajar dan eksplorasinya. Oleh sebab itu, mulai sekarang, hindari memaksanya untuk bermain dengan mainan sesuai gender si Kecil saja, ya. Selama mainan tersebut bisa membantu proses tumbuh kembangnya, berikan ia kebebasan untuk memilih dan bereksplorasi.

- Manfaat Tidak Membatasi si Kecil Bermain Sesuai Gender

Ada banyak manfaat yang bisa si Kecil dapatkan ketika Ibu tidak membatasi mainannya sesuai dengan konsep “mainan anak laki-laki dan perempuan”. Ini beberapa di antaranya:

  • Si Kecil akan lebih mudah menemukan minat dan bakatnya.
  • Ia tidak membedakan teman berdasarkan jenis kelamin, sehingga lebih mudah bergaul dengan siapa saja.
  • Si Kecil tetap merasa nyaman meski harus bermain dengan teman lawan jenis.
  • Kemampuan bersosialisasinya kian terasah.

Bagaimana, Bu? Tertarik untuk mulai mengajarkan kesetaraan gender pada si Kecil? Ayo, mulai beri ia kebebasan untuk memilih mainan batita yang tidak dibatasi berdasarkan jenis kelaminnya saja. Lalu, apa pendapat Ibu soal pemikiran stereotip gender pada anak? Jangan ragu untuk berpendapat pada kolom komentar di bawah ini, ya!