Share Like
Simpan

Kecerdasan emosional (emotional intelligence) adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi dalam cara-cara positif untuk melepaskan stres, berempati pada orang lain, mengatasi tantangan, dan mengurangi konflik. Kecerdasan emosional berdampak pada banyak aspek berbeda dalam kehidupan sehari-hari, seperti tingkah laku dan cara berinteraksi dengan orang lain.

Bagaimana pemahamannya bagi anak-anak? Dalam hal ini, kecerdasan emosional adalah kemampuan anak untuk memahami emosi dirinya maupun orang lain, dan menggunakan informasi tersebut untuk menuntun pikiran dan tindakannya.

Perlu disadari bahwa tidak mudah mengajarkan batita keterampilan sosial, meski tetap harus diajarkan. Langkah pertama adalah membantu mereka belajar mengatur emosi yang merupakan dasar dari hubungan antarmanusia. Kemampuan ini lebih penting bagi kebahagiaan kehidupan mereka kelak dibandingkan keberhasilan akademis, keuangan, atau ukuran kelaziman lainnya. Kesuksesan akademis atau karir merupakan salah satu dampak positif dari kecerdasan emosional yang baik.

Berikut ini keterampilan sosial pada batita yang harus diajarkan, yakni:

1. Berempati. Anak-anak yang banyak menerima empati dari orang dewasa di sekitarnya akan lebih cepat memiliki rasa empati pada orang lain. Itu merupakan langkah pertama bagi kesuksesan hubungan antarmanusia kelak.

2. Jangan paksa untuk berbagi, sebab malah bisa memperlambat perkembangan kemampuannya berbagi. Batita harus merasa aman dulu dengan miliknya sebelum dapat berbagi. Sebagai gantinya, ajarkan konsep “bergantian menunggu giliran”.

3. Biarkan ia memutuskan berapa lama gilirannya. Bila ia bebas memegang suatu mainan selama ia mau, ia akan rela meminjamkannya pada temannya dengan senang hati.

4. Bantu anak untuk menunggu. Adakalanya anak marah dan menangis tak sabar menunggu, namun setelah itu ia cepat melupakannya.

5. Halangi untuk membanting mainan yang tidak disukainya. Bimbinglah untuk melewati perasaan tidak bahagianya.

6. Ajarkan ketegasan bila perlu. Tak mengapa bila sesekali ia tak mengalah pada temannya, terutama bila temannya itu mendominasi. Tentu saja hal ini perlu dilakukan dengan bijak.

7. Beri kebebasan menentukan pilihan apakah ia akan menyenangkan temannya atau tidak. Pada saat yang sama, Ibu dapat mengajarkan bahwa setiap pilihan dapat memberikan hasil berbeda.

8. Temani saat di sekolah. Banyak anak saling memukul saat bermain hanya karena tidak tahu harus bagaimana untuk mengungkapkan perasaannya. Dengan menemaninya, anak-anak akan tahu tidak boleh saling memukul karena dapat menyakiti atau melukai.

9. Sembunyikan mainan favoritnya sebelum temannya datang. Jelaskan tak mengapa bila ia hanya meminjamkan mainan yang lain.

10. Beri batasan kemarahan yang boleh ditunjukkannya. “Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul atau menggigit.” Orang tua harus mengajarkan teknik mengelola diri yang sehat tanpa menghukum yang justru dapat membuat anak lebih agresif secara fisik.

11. Ajarkan mengungkapkan perasaannya. Hal itu merupakan langkah awal dari kemampuan otak untuk memroses secara verbal, bukan fisik.

12. Ingat, kemarahan terpendam biasanya karena takut atau terluka. Ucapan “Aku benci dia!” bukanlah suatu perasaan, melainkan suatu sikap.

13. Belajar melalui berbagai kesulitan. Misalnya ia marah pada temannya, ajarkan untuk bisa membicarakan hal itu secara langsung.

14. Mulai memperkenalkan konsep memperhatikan perasaan orang lain.

15. Tetap tenang. Satu hal penting yang harus diajarkan adalah menenangkan dirinya, mengelola perasaannya.

16. Ingat, mereka masih anak-anak. Pahamilah bila mereka suatu saat nakal, meskipun sudah dilarang.

Bila langkah demi langkah cara mengelola emosi tersebut dijalankan, bukan tak mungkin bila si Kecil akan menjadi pribadi yang disukai oleh teman-temannya. Tentunya peranan orang tua sangat besar untuk mengajarkannya. Ketika mengajarkan si Kecil tentang hal ini, coba Ibu atau Ayah mengingat terlebih dahulu pengalaman sewaktu kecil. Berdasarkan itu, Ibu dan Ayah bisa mengambil hal positif yang dapat diajarkan kepada si Kecil.