Whatsapp Share Like
Simpan

Penyakit cacar air tentu bukan penyakit yang asing untuk telinga Ibu. Penyakit ini acap menyerang anak-anak pada usia dibawah sepuluh tahun, dan cenderung sangat menular. Biasanya, cacar air menyerang pada tubuh yang memiliki daya tahan rendah, atau sedang tidak berada dalam kondisi fit. Sensasi gatal dan panas sangat tidak nyaman akan muncul ketika penyakit ini menyerang.

Penyakit ini sendiri biasanya hanya menyerang sekali seumur hidup, sehingga orang yang terkena cacar air tidak akan terkena lagi. Tapi hal ini tidak berarti setiap orang pasti terkena penyakit cacar air, dengan pencegahan yang tepat, Ibu dan si Kecil bisa mengurangi resiko terjadinya cacar air, khususnya pada si Kecil.

Pencegahan Cacar Air

Pencegahan cacar air sendiri sebenarnya bisa dilakukan dengan mengikuti program imunisasi wajib dari pemerintah. Imunisasi ini wajib diberikan pada usia-usia tertentu, agar si Kecil memiliki daya tahan terhadap virus cacar air yang mungkin menyerang. Memang imunisasi ini tidak kemudian 100% menjamin si Kecil tidak terkena cacar air, tapi setidaknya akan membantu mengurangi gejala dan parahnya penyakit cacar ketika menyerang.

Jika Ibu belum mengetahui program imunisasi pemerintah, Ibu bisa mencari informasi di posyandu terdekat. Wajarnya, imunisasi terhadap cacar dilakukan dua kali, yakni ketika si Kecil berusia 12 hingga 18 bulan dan kemudian pada usia 4 sampai 6 tahun. Jika Ibu atau orang dewasa lain yang belum pernah terkena cacar, maka bisa meminta imunisasi sebanyak dua kali dengan rentang waktu 4 sampai 8 minggu.

Mengatasi Cacar Air pada si Kecil

Jika telah dilakukan imunisasi namun si Kecil tetap terserang, perlu langkah sigap untuk menyikapinya. Cacar air merupakan penyakit yang sangat mudah menular, sehingga si Kecil perlu ‘dikarantina’ selama masih menderita penyakit ini. Tujuannya jelas, agar si Kecil tidak menularkan cacar pada orang di sekitarnya.

Artikel Sejenis

Ketika menderita penyakit ini, si Kecil akan merasakan sensasi panas dan gatal pada sekujur tubuhnya. Tentu selalu ada keinginan untuk menggaruk bagian yang gatal sebagai respon alami tubuh si Kecil. Tapi menggaruk bagian yang gatal akibat cacar sangat tidak disarankan sebab malah dapat memudahkan penularan penyakit ini.

Alih-alih menggaruk, sediakanlah air dingin yang cukup untuk si Kecil berendam. Berendam pada air dingin bisa berfungsi sebagai kompres pada rasa gatal dan panas akibat bentolan kecil di sekujur tubuhnya. Lakukan hal ini minimal 10 menit setiap 4 jam untuk membantu meredakan rasa gatal dan sensasi panasnya.

Setelah selesai, keringkan tubuh si Kecil dengan cara menepuk-nepuk sekujur tubuhnya. Tujuannya agar cacar yang ada di tubuh si Kecil tidak pecah dan tidak menular ke orang lain. Setelah kering, Ibu bisa memberikan bedak dingin agar si Kecil merasa lebih baik. Upayakan si Kecil untuk banyak minum air putih dan mendapat istirahat yang cukup.

Untuk makanannya, disarankan memberikan makanan yang dingin. Cacar air biasanya bisa menyebar hingga bagian tenggorokan dan tentu disertai sensasi panas. Makanan dingin bisa membantu si Kecil mendapatkan nutrisi yang diperlukan untuk membangun daya tahan tubuh. Memang biasanya kurang nikmat, namun Ibu bisa menyiasatinya.

Berikan makanan seperti es krim atau puding atau bahkan kentang tumbuk agar si Kecil tetap mendapat asupan nutrisi yang cukup. Ibu juga bisa memberikan telur untuk tambahan Protein sehingga si Kecil bisa pulih lebih cepat.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, karantina perlu dilakukan pada si Kecil yang sedang terkena cacar air. Tidak hanya agar cacar air tidak menular pada orang di sekitar si Kecil, namun karantina juga berfungsi agar si Kecil terhindar dari paparan sinar matahari langsung yang bisa memperparah penyakitnya.

Cara mengatasi cacar air yang dipaparkan di atas tentu merupakan cara yang bisa dilakukan oleh Ibu di rumah. Terus pantau perkembangan kesehatan si Kecil dan pastikan si Kecil mengalami kondisi yang membaik. Jika dalam beberapa hari kondisinya tidak membaik, segera bawa ke dokter anak kepercayaan Ibu.

Penyakit ini sendiri menyerang ketika daya tahan tubuh si Kecil sedang dalam titik rendah. Rendahnya daya tahan, bisa disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi atau aktivitas fisik si Kecil. Tubuh si Kecil menjadi kekurangan bahan bakar untuk membangun sistem kekebalan tubuh sehingga akan mudah terserang penyakit.

Membangun daya tahan tubuh si Kecil bisa dilakukan dengan aktivitas fisik yang rutin serta makan makanan bergizi. Kandungan Vitamin A, C dan E dalam makanannya, bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh si Kecil. Badan si Kecil yang memiliki daya tahan tubuh kuat akan sulit terkena penyakit dan dapat tumbuh secara optimal.