Share Like
Simpan

Bagaimana kabar si Kecil hari ini Bu? Sudah bisa bicara atau merangkak? Sangat penting bagi orang tua untuk memperhatikan tumbuh kembang balita yang dimilikinya. Dengan selalu memantau pertumbuhan si Kecil Ibu dapat memberikan asupan gizi yang lengkap untuk perkembangan fisik anak.

Fase tumbuh kembang anak yang paling penting untuk diperhatikan oleh orang tua adalah saat usianya 0-6 tahun.  Lalu bagaimana dengan risiko keterlambatan tumbuh kembang balita? Mari kita bahas bersama untuk mengetahui cara tepat menyikapinya. 

“Orang tua harus waspada dengan tanda-tanda keterlambatan tumbuh kembang balita. Semua balita harus melewati milestone (pencapaian) tumbuh kembang, jangan sampai ada fase yang terlewati," ungkap dokter anak dari Brawijaya Women and Children Hospital, dr Attila Dewanti, SpA(K) Neurologi.  Dia mengambil contoh, anak usia 6 bulan sudah mampu duduk namun belum bisa tengkurap. Ini bukanlah suatu loncatan yang patut dibanggakan, melainkan segera diambil tindakan dan tidak dibiarkan. “Sebab, jika fase tengkurap terlewati, anak berisiko mengalami kesulitan ke depannya,” kata Attila lagi.  

  “Kalau anak usia 3 tahun belum bisa memegang pensil, bawa ke dokter, karena bisa jadi ada yang salah dengan motorik halus, ada kelainan saraf. Ini bisa dikenali dengan observasi. Biasanya observasi dilakukan 30 menit hingga satu jam untuk mengetahui apakah ada tanda-tanda keterlambatan tumbuh kembang balita dan risikonya," jelas dr Attila.  

Orang tua yang mendapati keterlambatan tumbuh kembang balita, sebaiknya tidak membandingkan kondisi si Kecil dengan anak lainnya. Orang tua juga tidak perlu panik menyikapi masalah tumbuh kembang pada anak, karena pada dasarnya setiap individu adalah unik .

Psikolog dari klinik tumbuh kembang Rainbow Clinic, Rika Ermasari, SPsi, Ct, CHt mengatakan Ibu perlu berpikir rasional menyikapi keterlambatan tumbuh kembang balita.

"Anak tidak ada yang sama. Konsultasi ke dokter tetap perlu jika anak mengalami keterlambatan tumbuh kembang, namun jangan terlalu khawatir. Tapi jangan juga terlalu telat melakukan pemeriksaan," tuturnya.  

Menurut Rika, setiap anak mengalami dampak berbeda dari keterlambatan tumbuh kembang pada periode emas ini. “Orang tua dapat mengandalkan insting, bisa tahu kapan sebaiknya mulai memeriksakan anak. Namun, lebih cepat lebih baik karena semakin lama keterlambatan ini dibiarkan, akan semakin sulit memperbaiki dampak yang ditimbulkan. Kalau kesulitan ditangani pada masa peride emas, akan lebih mudah memperbaikinya,” kata Rika.  

Menurut Rika, keterlambatan tumbuh kembang punya dampak berbeda pada setiap anak. Umumnya, anak cenderung mengalami kesulitan sosial emosi, seperti tidak bisa berinteraksi, kurang tanggap, sulit bicara, juga kesulitan mengikuti instruksi.  Jika keterlambatan tumbuh kembang balita dibiarkan, dampak jangka panjangnya anak menjadi anti-sosial.  

Jadi Bu, yang terpenting adalah selalu berikan perhatian kepada si Kecil. Berikan mereka dukungan dalam setiap tahap perkembangan. Ibu perlu bersabar agar si Kecil tidak merasa terbebani untuk belajar sesuatu yang baru.