Share Like
Simpan

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan ideal sebagai sarana tumbuh kembang anak. Namun, tak jarang ini justru jadi tempat yang menakutkan bagi si kecil. Jika ia terlihat enggan berangkat sekolah, jangan buru-buru mengecapnya malas belajar. Mungkin ada sesuatu atau seseorang yang ingin ia hindari. Sebagai orangtua, kepekaan Bunda sangat ia perlukan. Cari tahu, jangan-jangan dia menghadapi pelecehan di sekolah, baik berupa serangan fisik ataupun mental.

Setiap anak memiliki cara berbeda untuk menghadapi pelecehan di sekolah. Ada yang kuat mental, bahkan ada pula yang berani melawan. Namun, tidak semua anak bisa dengan mudah mengadu kepada orangtua atau guru tentang pelecehan di sekolah yang ia alami. Jadi, Bunda perlu mencermati jika ada perubahan-perubahan pada sikapnya.

Misalnya, ia yang biasanya ceria jadi pemurung. Atau mungkin gurunya menyampaikan pada Bunda bahwa ia tampak kesulitan berkonsentrasi ketika di kelas. Bisa jadi itu merupakan gejala gangguan psikologis akibat menghadapi pelecehan di sekolah. Jika Bunda mengomelinya, ia akan semakin stres karena menerima tekanan dari dua belah pihak, di rumah dan di sekolah.

Untuk membantu si kecil menghadapi pelecehan di sekolah, berkonsultasi dengan guru di sekolahnya saja tidak cukup. Mengonfrontasi sang penindas pun bukan tindakan bijak karena bisa jadi memicu amarah orangtuanya juga. Pasalnya, anak yang memiiliki kebiasaan melecehkan bisa saja serta merta bersifat manis di depan orang yang lebih tua. Jadi, kuncinya ada pada diri si kecil.

Sebisa mungkin Bunda tanamkan kekuatan mental dan keberanian dalam dirinya. Namun, tekankan pula bahwa kekerasan bukan jalan yang baik agar ia bisa jadi anak yang asertif, tapi tidak agresif. Rasa percaya diri juga perlu Bunda pupuk di rumah agar ia memiliki kepribadian yang kuat di sekolah. Berbekal dukungan dari Bunda, si kecil pun akan menghadapi pelecehan di sekolah dengan lebih baik.

Lantas, bagaimana menghadapi pelecehan di sekolah jika sang buah hati justru jadi pihak yang melecehkan? Memang, sulit dipercaya rasanya jika orang lain mengatakan bahwa malaikat kecil kita suka menindas teman sebayanya. Tapi jika Bunda menerima keluhan-keluhan seperti itu, jangan mengabaikannya begitu saja. Membela anak memang penting, tapi menutup mata terhadap perilaku buruknya sama saja membiarkan nilai-nilai negatif tertanam dalam dirinya.

Hal pertama yang harus Bunda awasi adalah terpaan tayangan televisi yang biasa ia tonton. Kemudian, perilaku sang ayah sebagai figur panutan juga perlu diamati. Sebagai istri, Bunda bisa membantu meredam emosi Ayah agar tidak menggunakan kekerasan untuk menghukum anak ketika ia berbuat salah. Terakhir, tentu saja Bunda perlu memberi perhatian ekstra untuk si kecil karena tidak mustahil ia melecehkan karena merasa diabaikan.