Share Like
Simpan

Pernahkah Ibu mendengar atau bahkan mengalami setelah si Kecil lahir, dalam minggu pertama ia terlihat kuning? Kuning pada bayi baru lahir dikenal sebagai ikterus yang dapat ditemukan lebih dari 85% pada bayi cukup bulan yang baru lahir.

Kuning pada bayi baru lahir ini disebabkan oleh banyaknya pigmen bilirubin (hiperbilirubinemia) yang berasal dari pemecahan sel darah merah. Karena organ hati si Kecil belum berfungsi optimal, maka proses ’penguraian’ bilirubin dalam hati tidak maksimal dan tersimpan dalam darah, kulit dan sklera (daerah putih mata) bayi yang selanjutnya terlihat kuning.

Ikterus yang perlu diwaspadai
• Ikterus terjadi dalam 24 jam setelah bayi lahir
• Peningkatan kadar bilirubin total serum pada pemeriksaan darah > 0,5 mg/dL/jam
• Ada gejala lain: lemas, muntah, malas menyusu, penurunan berat badan cepat, napas cepat hingga henti napas (apneu), dan suhu tidak stabil
• Ikterus bertahan selama 8 hari pada bayi

Walau kebanyakan fenomena kuning pada bayi baru lahir merupkan hal ringan dan dapat kembali normal tanpa pengobatan, namun pada beberapa bayi, peningkatan bilirubin berlebih dapat mengakibatkan keracunan, cacat neurologis dan bahkan kematian. Oleh karena itu, penting bagi dokter untuk membedakan kuning pada bayi baru lahir tergolong hal normal atau ada sebab lain yang perlu diwaspadai, sehigga perlu dilakukan tindakan lanjut.

Strategi praktis pencegahan dan penanganan hiperbilirubin pada bayi:
• Pemberian minum sesegera mungkin
• Sering menyusui ( sedikitnya 8-12 kali perhari untuk beberapa hari pertama), agar bilirubin dapat dikeluarkan melalui buang air besar (feses)
• Menunjang kestabilan bakteri flora normal
• Merangsang aktivitas usus halus
• Ibu diperiksa golongan darah dan rhesus, karena ketidakcocokan golongan darah dan rhesus antara Ibu dan janin dapat menyebabkan banyak sel darah merah yang pecah dan bayi menjadi kuning.

Cahaya matahari alami pagi hari dapat membantu menurunkan kadar serum bilirubin bila si Kecil telah dibawa pulang ke rumah. Namun, Ibu harus waspada terhadap efek samping terhadap kulit si Kecil yang tersengat sinar matahari. Pemberian ASI, atau susu formula bila bayi karena alasan medis tertentu tidak bisa mendapatkan ASI, hendaknya tetap diberikan selama fototerapi berlangsung untuk mencegah dehidrasi dan mempercepat siklus bilirubin dalam usus dan hati, sehingga bilirubin yang terurai cepat dikeluarkan melalui feses dan urin. Fototerapi pada bayi yang tidak memiliki kelainan darah atau lainnya, dapat dihentikan apabila kadar serum bilirubin total mencapai 15-15mg/dL. Setelah fototerapi, si Kecil perlu diobservasi untuk mencegah kenaikan kembali kadar serum bilirubun total.