Share Like
Simpan

Si Kecil pasti pernah berbohong, dan Ibu tentu saja kaget ketika mengetahui hal ini. Tahukah Ibu bahwa berbohong merupakan bagian dari perkembangan si Kecil?

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab si Kecil berbohong, diantaranya menutupi sesuatu hal untuk menghindari hukuman yang mungkin akan diterimanya, bereksperimen untuk mengetahui respons dan reaksi Ayah atau Ibu jika dia berbohong, atau untuk menarik perhatian.

‘Keterampilan’ berbohong ini biasanya mulai muncul di usia 3 tahun. Bagaimana mengantisipasinya? Tetap tenang, jangan langsung memarahi si Kecil. Anggap itu sebagai suatu hal yang lucu, tanggapi dengan canda dan arahkan secara halus mengenai pentingnya kejujuran. Katakan pada si Kecil bahwa Ibu dan Ayah akan sangat senang dan bangga jika si Kecil mengatakan yang sebenarnya terjadi. Sebaliknya, katakan bahwa Ibu dan Ayah akan merasa sedih dan sangat kecewa jika si Kecil berbohong.

Anak-anak memang senang ‘mengarang’. Permainan berpura-pura dan berimajinasi sebetulnya merupakan bagian penting dari perkembangan si Kecil. Ini wajar terjadi pada usia kurang dari 4 tahun. Ketika usianya menginjak 4 tahun, Ibu dan Ayah harus sudah mulai menanamkan pentingnya kejujuran pada si Kecil, menanamkan pemahaman mengenai apa yang benar dan apa yang tidak benar.

Jika si Kecil ketahuan beberapa kali berbohong, jangan pernah menyebutnya pembohong karena dapat memberikan dampak negatif terhadap rasa percaya dirinya atau bahkan lebih menjerumuskan si Kecil untuk terus berbohong. Katakan pada si Kecil bahwa berbohong tidak diperbolehkan karena bukan merupakan hal yang baik dan jika saat ini berbohong mungkin di waktu yang akan datang, Ibu dan Ayah tidak akan percaya lagi kepadanya.

Jika Ibu berharap si Kecil untuk bersikap jujur, maka ketika suatu waktu si Kecil mengakui bahwa dia misalnya telah memecahkan vas bunga kesayangan Ibu, maka jangan menanggapinya dengan emosi dan memarahinya. Hargai kejujurannya, jangan menghukumnya karena telah memecahkan vas bunga kesayangan Ibu. Katakan bahwa apapun kesalahan yang telah dilakukannya, Ibu tetap menyayanginya.

Last but not least, hargai pemikiran kreatif/imajinatif si Kecil dengan mengatakan bahwa Ibu memahami pemikirannya. “Ibu mengerti kalau menurut kakak yang menumpahkan susu adalah si meong. Tapi coba deh ceritakan pada Ibu sejujurnya apa yang terjadi. Ibu tidak akan marah”. Hal ini akan membantu si Kecil memahami bahwa kejujuran itu tidak akan menyakitkan/merugikan. Si Kecil tidak perlu berbohong karena Ibu akan tetap menyayanginya apapun yang dikatakannya.