Share Like
Simpan

Tampaknya tak mudah membuat anak rela dan patuh menuruti kemauan orangtua. Orangtua pun mencoba banyak cara agar anak lebih kooperatif lagi. “Tampaknya mereka punya pendapat sendiri dan hanya mau menjalankan apa yang mereka inginkan. Bila sejak kecil saja mereka sudah tidak mau menurut, apalagi kalau sudah remaja?” Ungkapan seperti ini rasanya akrab di telinga para orangtua. Atau paling tidak orangtua pernah mengalaminya.

Ini adalah sebuah keadaan yang wajar. Kita dan anak adalah dua individu berbeda yang mempunyai pemikiran dan perasaan berbeda pula. Apalagi ada kesenjangan generasi. Padahal apa yang diinginkan orangtua pada anak adalah hal yang terbaik. Seperti, bila orangtua meminta anak untuk belajar, les, tidur
siang atau mandi sore adalah untuk kebaikan mereka. Bila dituruti kemauannya, pasti anak akan memilih untuk bermain seharian. Bila anak mau bekerja sama, segalanya akan menjadi lebih mudah.

Bekerja sama atau cooperation berarti bersedia melakukan hal yang disepakati bersama menuju tujuan bersama. Bekerja sama merupakan perilaku EI yang tinggi, karena anak memahami perasaan orang lain dan berusaha untuk membina hubungan baik dengan pihak lain. Sekelompok guru TK dan SD pada awalnya juga mengalami kesulitan menjalin kerja sama dengan muridnya. Bahkan ada yang sempat frustasi karena tak dapat mengendalikan murid-muridnya. Sebuah simulasi lantas dilakukan lewat kegiatan bermain peran. Salah satu murid diminta berperan sebagai guru. Sang guru lantas diberikan sebuah keadaan yang murid-muridnya melakukan hal yang tak ia inginkan lalu diminta untuk memberi komentar. Sedangkan, para murid mencatat perasaan mereka pada saat sang guru memberikan komentar tersebut.

Waktu ’sang guru’ berceramah yang dirasakan oleh para guru yang berperan sebagai murid adalah “Wah, saya pasti anak nakal” atau “Bu guru bicara terus, saya tidak mendengarkan.” Contoh lainnya, bila orangtua melarang anak dan berkata, “Hati-hati dengan korek itu, kamu ingin tanganmu luka?” Hal yang dipikirkan anak justru bisa yang sebaliknya, misal, “Ibu salah, tidak akan terjadi apa-apa.” Atau, ’’Ibu tiap hari sakit kepala karena ulahmu.” Ternyata yang dipikirkan anak bisa berupa, “Bagaimana caranya supaya saya tidak usah mendengar keluhan-keluhan ini?” Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun bisa merasakan hal-hal seperti itu.

Adele Faber dan Elaine Mazlish dalam bukunya What Every Parent and Teacher Needs to Know: How to Talk So Kids Can Learn At Home and in School, mengatakan bahwa cara orangtua mengatakan sesuatu pada anaklah yang amat menentukan apakah anak akan mendengarkan (dan terlebih lagi melakukan) apa yang diminta orangtua. Keduanya memberikan tips yang dapat digunakan orangtua untuk membuat anak mau bekerja sama.


Contoh di bawah ini situasinya adalah anak menumpahkan cat di lantai. Daripada berkata, “Siapa yang menumpahkan cat ini?” lalu dilanjutkan dengan omelan, lebih baik orangtua melakukan salah satu tips ini:


1. Menjelaskan masalahnya. “Ibu melihat cat basah di lantai.” Bila orangtua menjelaskan masalah
dibandingkan dengan menuduh atau memberi perintah, anak akan lebih bersedia untuk bertanggung jawab.


2. Memberikan informasi. “Lebih mudah membersihkan cat saat masih basah dari pada sewaktu sudah kering.” Bila orangtua memberikan informasi tanpa menghina, lebih mudah bagi anak untuk mengubah tingkah laku mereka.


3. Menawarkan pilihan. “Kamu bisa membersihkan cat itu dengan lap pel atau sponge.” Ancaman dan perintah dapat membuat anak merasa tidak berdaya. Pilihan-pilihan akan membuka kesempatan baru.


4. Mengatakan dengan sebuah kata atau gerakan tubuh. Anak tidak suka mendengarkan ceramah panjang. Sebuah kata atau gerakan tubuh membuat mereka lebih berpikir mengenai masalah yang dihadapi dan cara mengatasinya.


5. Menuliskannya di kertas. “Harap mengembalikan lantai seperti kondisi semula sebelum meninggalkan ruangan.”  Dengan menuliskan di kertas, anak akan lebih merasa dihargai dibandingkan bila kesalahannya diumumkan di hadapan orang banyak. Mereka juga lebih punya waktu untuk memikirkan masalah tersebut.


6. Menjelaskan perasaan kita. “Ibu tidak suka lantai yang penuh cat.” Saat orangtua menjelaskan perasaannya tanpa menyerang atau memandang rendah anak, mereka akan mendengar dan merespon lebih koperatif.


7. Menjadikannya permainan, seperti dengan menggunakan aksen atau suara lain. “Cat...cat... kenapa kamu ada di lantai?” (sambil bernyanyi). Baik orang dewasa maupun anak senang bermain. Dengan membuat suasana permainan atau paling tidak suasana yang lebih menyenangkan, anak akan lebih mudah menjalankan apa yang diminta orangtua.