Share Like
Simpan

Senang ya Bu, melihat perkembangan balita setiap harinya.Terutama melihat si Kecil dan kakaknya kini sudah bisa saling bergaul tanpa berkelahi seperti dulu. Bicara soal akurnya anak-anak, saya punya sedikit cerita nih, Bu.  Dulu sewaktu si Kecil masih berusia lima dan tiga tahun, rumah kami masih terbilang mungil dan hanya memiliki dua kamar. Berhubung biaya rumah baru belum terkumpul semua, alhasil saya dan suami memutuskan supaya si Kecil saling berbagi kamar. 

Selain karena keterbatasan ruangan, kondisi seperti ini diharapkan dapat membuat anak-anak menjadi lebih akrab dan bisa saling mendukung. Namun hal ini ternyata tidak sesederhana itu yang kami bayangkan. Setelah dipraktikkan, ternyata saya sempat merasa kesulitan bahkan hal ini menjadi salah satu topik yang sering dibahas dalam sesi konsultasi masalah anak saat sedang berkumpul. 

Sebetulnya, berbagi kamar itu baik untuk si Kecil, karena keduanya bisa belajar menghormati dan menghargai, tidak hanya sebagai kakak dan adik, tapi juga sebagai teman sekamar. Namun, ada beberapa hal yang sebaiknya Ibu perhatikan ketika kakak dan adik saling berbagi kamar.

Apakah si Kecil dan kakaknya akan menjadi teman sekamar yang baik? Hal itu tergantung dari usia dan kadar temperamental keduanya. Dilihat dari sisi psikologi anak, jika si Kecil masih balita, tentunya akan agak lebih sulit baginya untuk menjadi teman sekamar yang baik. Pasalnya, usia balita adalah usia aktif si Kecil untuk mengeksplorasi apapun, dan kebiasaan ini bisa dengan mudah mengganggu ketenangan sang kakak. Sebaliknya, jika si Kecil sudah memasuki usia awal sekolah, ia akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan, sehingga tingkah lakunya tentu akan lebih tenang dan terjaga. 

Seakur-akurnya si Kecil dengan kakaknya, tidak menutup kemungkinan keduanya akan terlibat pertengkaran. Pasalnya, keduanya pasti memiliki pola perilaku dan pemikiran berbeda. Maka dari itu, demi kebaikan tumbuh kembang balita Ibu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika kakak dan adik saling berbagi kamar.

Membuat peraturan

Peraturan bermanfaat bagi perkembangan balita. Hal ini tidak hanya membuat kakak dan si Kecil menjadi disiplin, tapi juga dapat melindungi keduanya. Misalnya, jika akan tidur, ajari kakak dan si Kecil untuk merapikan mainan mereka agar tidak berantakan di lantai. Hal ini bisa membuat mereka belajar untuk membuat kamar lebih teratur 

Konsisten dan tegas

Sebagai orang tua, kita harus bersikap konsisten dan tegas ketika Ibu sudah menerapkan sebuah peraturan kepada si Kecil dan kakaknya. Jangan melunak atau membuka diri untuk tawar-menawar, karena kondisi tertentu. Sebagai contoh, ketika kakak dan adik saling berbagi kamar, tentunya akan lebih mudah bagi keduanya untuk terus bermain. Dalam kondisi tesebut, demi kebaikan tumbuh kembang si Kecil, Ibu harus tegas terhadap aturan yang sudah dibuat, misalnya 15 menit setelah lampu kamar dimatikan, si Kecil dan kakaknya harus langsung tidur.

Ruang pribadi tiap anak

Mengingat si Kecil dan kakaknya tetaplah dua pribadi berbeda, ada baiknya ketika mereka saling berbagi kamar, masing-masing dari keduanya tetap memiliki ruang pribadi. Ibu bisa membuat partisi antara wilayah si Kecil dan kakaknya, menyiapkan dua lemari atau kotak mainan berbeda untuk keduanya. Hal ini baik untuk perkembangan balita Ibu, karena dapat melatih si Kecil dan kakaknya untuk tetap saling menghargai privasi, bertanggung jawab terhadap barang masing2 dan tidak ada salah satu yang akan mendominasi kamar.

Secocok apapun keduanya ketika kakak dan adik berbagi kamar, Ibu perlu memahami bahwa si Kecil dan kakaknya akan bertambah usia, dan kebutuhan privasi keduanya akan berubah. Hal ini akan jelas terlihat, terutama jika si Kecil dan kakaknya berbeda jenis kelamin. Keduanya biasanya memiliki hobi dan minat berbeda. Jika itu terjadi, dengarkan keinginan mereka ya, Bu. Berikan mereka privasi lebih jika memang itu yang mereka perlukan, sehingga perkembangan balita Ibu bisa lebih maksimal.