Share Like
Simpan

Hai Ibu! Di hari yang cerah ini, saya punya cerita menarik, lho. Dulu, waktu si Kecil masih berusia 4 tahun, dia sering bermain dengan teman khayalannya. Saya serius lho, Bu. Yuk, baca pengalaman saya berikut ini!

Pada suatu pagi, saya sedang menjemur pakaian di halaman rumah. Dari kejauhan, saya melihat si Kecil sedang duduk di teras sambil menghadap ke arah bangku lain di sebelahnya, seakan-akan sedang berbicara dengan seseorang.

Usai menjemur pakaian, saya menghampirinya dan bertanya, “Kamu tadi ngobrol sama siapa sih, sayang?” Kemudian dia menjawab, “Sama Nancy, tapi sekarang dia udah pulang, kok.”

Mendengar jawaban tersebut, saya sempat terkejut dan berusaha langsung mencari tahu lebih lanjut. Esoknya, seorang kerabat memberikan saya sebuah buku berjudul Imaginary Companions and the Children Who Create Them yang ditulis oleh Marjorie Taylor, Ph.D. Setelah membaca buku tersebut, lega rasanya waktu tahu bahwa wajar bila si Kecil memiliki teman khayalan di usianya saat itu. Menariknya lagi, dalam bukunya, dijelaskan pula kalau teman khayalannya itu bahkan bisa sakit juga. Itulah yang pernah saya alami ketika dia bercerita kalau teman khayalannya sedang demam waktu si Kecil mengalami sakit yang sama.

Perlu Ibu ketahui, hampir separuh anak-anak di dunia pasti punya teman khayalan. Kebiasaan tersebut wajar, seiring dengan perkembangan imajinasi mereka Teman khayalan ini juga bisa dibilang sebagai teman bermainnya di kala sedang bosan.

Sekarang, bagaimana cara Ibu menanggapi aksi si Kecil yang sedang asyik berinteraksi dengan teman khayalannya? Supaya tidak bingung, saya akan berikan tips tentang bagaimana cara menghadapi hal tersebut. Yuk, kita baca sama-sama!

  • Beri tanggapan positif

Biarkan si Kecil menyampaikan apa yang terjadi dalam imajinasinya ya, Bu. Berikan tanggapan positif dengan bertanya seperti, “Lalu, apa yang terjadi pada temanmu?” Jangan mematahkan pendapatnya, misalnya mengatakan bahwa ceritanya sangat tidak masuk akal.

  • Tidak melebih-lebihkan imajinasinya

Jangan mendramatisasi cerita imajinatif yang  dibuat oleh si Kecil. Tujuannya, agar dia tidak ‘keasyikan’ dalam dunia khayalan. Jika Ibu merasa si Kecil sudah terlalu asyik bermain dengan teman khayalannya, Ibu bisa mengalihkan perhatiannya dengan mengajak si Kecil untuk bermain yang lain, misalnya menyanyi bersama atau bermain di halaman rumah.

  • Ajak bermain di luar rumah

Agar perhatian si Kecil untuk bermain bersama teman khayalannya dapat teralihkan. Ibu bisa mengajaknya bermain di luar rumah bersama teman-temannya. Pasalnya, salah satu penyebab ia sering menghabiskan waktu dengan teman khayalannya adalah rasa kesepian dan kurang bersosialisasi.

  • Jangan membuatnya takut

Hindari berbincang tentang segala sesuatu yang berbau mistis saat si Kecil sedang asyik bermain bersama teman khayalannya. Misalnya dengan bertanya, “Kamu ngobrol sama siapa, sayang? Wajahnya pucat dan menyeramkan, ya?” Sebaliknya, Ibu bisa membangun citra positif dari teman khayalannya, misalnya dengan menyebutkan sosok hewan yang lucu seperti kancil atau penguin.

Nah, begitulah cara Ibu menghadapi si Kecil yang sedang ‘beraksi’ dengan teman khayalannya. Sebenarnya, memiliki teman khayalan ada manfaat positifnya juga, lho. Hal tersebut menandakan bahwa dia punya daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi.  Namun, jika ia terlalu sering menghabiskan waktu dengan teman khayalannya. Ibu juga bisa mengonsultasikan hal tersebut pada ahli psikologi dan perkembangan anak.

Semoga informasi tersebut bermanfaat ya, Bu! Selalu bersemangat, bersabar, dan berpikir positif adalah kunci sukses dalam mendukung perkembangan si Kecil sejak dini!