Whatsapp Share Like Simpan

Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Oleh karenanya, cara mendidik anak pun akan berbeda pula, tergantung pada karakter sang anak. Hal ini juga berlaku pada cara mendidik belajar puasa ya, Bu. Dikarenakan puasa merupakan sebuah ibadah wajib bagi umat Islam, anak-anak pun sebaiknya mulai diperkenalkan dengan puasa saat usianya sudah mencukupi dan mampu menjalankan puasa. Kenalilah karakter buah hati Ibu terlebih dulu, lalu coba terapkan cara-cara berikut ini:

Pada Anak yang Penurut

Anak yang memiliki karakter penurut akan mudah tertarik pada hal baru. Hal ini pun akan mempermudah Ibu dalam memperkenalkan puasa pada buah hati. Ibu tak perlu bersusah payah membujuk anak untuk mau aktif beribadah. Ia dengan senang hati mau belajar atas keinginannya sendiri.

Pada Anak yang Acuh

Jika anak Ibu cenderung berkarakter acuh, maka perlu pendekatan khusus agar ia tertarik belajar puasa. Anak perlu diberi penjelasan tentang apa itu berpuasa, maknanya, serta tujuannya. Menjelaskannya pun harus dengan cara yang menarik minatnya. Dengan begitu, anak pun akan memiliki rasa penasaran dan ingin ikut berpuasa bersama Ibu.

Pada Anak yang Keras Kepala

Suka membantah dan tidak mau menuruti perintah adalah ciri-ciri anak yang berkarakter keras kepala. Saat disuruh untuk berpuasa pun ia tidak akan mau menurutinya meski sudah susah payah dibujuk oleh Ibu maupun keluarga lainnya.

Bagi Ibu yang memiliki anak berkarakter semacam ini, cara yang bisa Ibu lakukan adalah dengan memberikan reward jika ia mau berpuasa. Reward ini bukan berarti harus berupa uang atau hadiah ya, Bu. Reward boleh berupa pujian atau makanan favorit anak untuk menunya saat berbuka.

Artikel Sejenis

Pada Anak Berkarakter Keras

Menyuruh anak yang berkarakter keras agar mau belajar puasa dengan kata-kata cenderung tidak akan ampuh, Bu. Semakin disuruh ia mungkin malah akan semakin menolak. Lantas, bagaimana caranya?

Anak yang berkarakter keras memang akan sulit untuk diberitahu dan dibujuk dengan cara biasa. Cara mendidik anak seperti ini bukan dengan cara dibujuk, tapi dengan diperlihatkan bahwa puasa itu adalah aktivitas yang menyenangkan.

Ciptakanlah suasana sahur dan berbuka yang semarak serta menghidangkan makanan favorit anak. Pada awalnya ia mungkin akan merasa gengsi untuk ikut dalam suasana tersebut. Namun perlahan-lahan hatinya pun pasti akan luluh dan dengan senang hati mau belajar puasa juga.

Semua Tipe Kepribadian Anak

Namanya juga anak-anak, mereka belum diwajibkan untuk puasa. Ia masih dalam tahap belajar, sehingga Ibu sebaiknya tidak terlalu keras padanya dan langsung menyuruhnya untuk berpuasa penuh. Cara mendidik anak untuk belajar puasa memang harus dilakukan secara bertahap.

Pada anak berumur 3-5 tahun, sebaiknya berpuasa selama 3-4 jam saja terlebih dulu. Awalnya ia mungkin akan menangis ingin makan cemilan selama puasa. Siasati hal ini dengan mengalihkan perhatiannya. Bisa dengan menonton film kesukaannya atau mengajaknya bermain. Seiring bertambahnya usia anak, maka waktu berpuasanya bisa ditambah menjadi setengah hari, lalu akhirnya bisa berpuasa penuh hingga maghrib.

Pentingnya Mengajarkan Anak Puasa

Anak perlu diajari berpuasa sejak dini. Mengapa? Inilah beberapa alasannya:

  • Membuat pola hidup yang lebih sehat. Saat puasa, pola makan anak akan lebih teratur. Menjalani sahur di saat fajar dan berbuka saat maghrib akan membuat proses metabolismenya lebih lancar. Lambung anak juga bisa beristirahat tanpa harus bekerja secara terus-menerus.
  • Mempercepat pertumbuhan. Penelitian yang dilakukan oleh Americans College of Cardiology di New Orleans menyebutkan bahwa puasa bisa memicu peningkatan hormon pertumbuhan yang dihasilkan kelenjar pituitary. Hormon ini berperan dalam mengontrol pertumbuhan tinggi badan serta membentuk tulang dan otot.
  • Mengembangkan kecerdasan emosional. Selain kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional juga akan ikut berkembang. Selama menjalankan puasa, anak akan dilatih untuk menahan lapar, haus, emosi, dan hawa nafsu lainnya. Sebagai dampaknya, pengendalian diri anak pun akan terbentuk secara perlahan dan terus berkembang seiring kemampuannya melaksanakan puasa.
  • Meningkatkan kecerdasan spiritual. Anak yang dilatih berpuasa sejak dini dapat menambah tingkat keimanannya pada Tuhan. Saat Ramadhan anak juga akan melakukan shalat tarawih bersama. Hal ini pun akan membuat ketaatan anak dalam menjalankan perintah agama semakin meningkat.
  • Mengembangkan kecerdasan interpersonal. Kecerdasan ini memungkinkan anak agar bisa memahami perasaan, keinginan, temperamen, dan suasana hati orang lain. Momen Ramadhan merupakan kesempatan yang pas bagi Ibu mengajarkan anak untuk berbagi pada teman-temannya yang kurang mampu, seperti di panti asuhan, kawasan kumuh, atau tetangga sekitar. Cara ini membantu memunculkan rasa peduli dan empati anak pada sesamanya.
  • Mengembangkan kecerdasan intelektual. Penelitian menunjukkan bahwa puasa mampu meningkatkan hormon pertumbuhan yang akan meningkatkan fungsi otak dan mengatur proses metabolisme. Selain itu puasa dikatakan dapat meningkatkan produksi protein di dalam otak yang akan membantu regenerasi dan peremajaan sel induk otak serta meningkatkan fungsi memori. Alhasil, kemampuan otak untuk berkreasi, berpikir, dan bernalar pun turut meningkat.

Kalau buah hati Ibu memiliki karakter yang seperti apa? Bagaimanapun karakter yang dimiliki oleh buah hati, kunci dalam mengajarkannya berpuasa adalah dengan bersabar. Teruslah konsisten membimbing dan membangkitkan rasa cinta anak terhadap bulan Ramadhan supaya ia bersedia belajar puasa dan melaksanakan ibadah lainnya dengan tulus ikhlas. Selamat mencoba cara mendidik anak dalam belajar puasa di atas ya, Bu. Semoga berhasil.

Ibu masih memiliki pertanyaan dan ingin berkonsultasi seputar anak? Bisa langsung berkunjung ke halaman Tanya Pakar ya, Bu. Di sana ada para ahli yang akan membantu Ibu. Untuk bisa menggunakan fitur tersebut, pastikan Ibu sudah registrasi terlebih dahulu.

Sumber:

OramiParenting, Kompas