Share Like
Simpan

Marah pada anak yang kelewat nakal tentu diperbolehkan dengan maksud untuk mengingatkan dia agar tak mengulangi kenakalannya. Tetap harus diingat, jangan sampai terlewat marah hingga memukul anak. Menampar/memukul anak saat berumur 5 tahun justru akan membuat dia menjadi nakal dan agresif, meskipun itu dilakukan sesekali. Anak selalu mencontoh apapun yang dia lihat dan alami. Disiplin yang agresif akan menularkan perilaku yang agresif pula pada orang lain, termasuk teman-temannya.

Keagresifan adalah reaksi alami pada anak untuk mengontrol tubuh dan lingkungannya.

Perilaku agresif anak muncul manakala ia merasakan adanya ancaman, marah, gusar, atau frustrasi. Tugas terpenting yang perlu diperhatikan orang tua adalah biarkan anak mengembangkan kemampuan untuk mengelola agresif dan mengubahnya dengan reaksi lain yang lebih bisa diterima oleh orang lain.

Ajarkan anak untuk mengontrol dirinya sejak dini. Begitu ia marah meledak-ledak untuk pertama kalinya, segera ajak ia untuk mengobrol tentang situasi dan emosi lain yang dia timbulkan. Misalnya Ibu bisa mengatakan, “Kamu boleh saja marah kalau mainanmu rusak, tapi jangan malah membanting gelas susumu, Nak.” Ingat, Ibu jangan berteriak saat berbicara padanya, karena berteriak justru merupakan suatu bentuk agresi.

Saat anak sedang meledak marah, jangan didiamkan. Segera tenangkan dan biarkan ia menyendiri sesaat, sebelum mendiskusikan mengapa ia berlaku seperti itu. Saat menghadapi kemarahannya itu, fokuslah hanya pada dirinya. Karena jika tidak, justru bisa memperkuat/menambah perilaku agresifnya.

Ajarkan si Kecil untuk tegas sebagai pengganti sikap agresif dan menuntut. Misalnya, ia melempar gelas susunya yang sudah kosong, segera tanyakan, “Kamu ingin tambah susu lagi, Sayang? Lain kali minta langsung pada Ibu ya, jangan melempar begitu.”

Sisihkan waktu Ibu hanya berdua dengan si Kecil agar ia bebas mengungkapkan perasaan dan emosinya. Alihkan setiap sikap agresifnya menjadi hal-hal yang lebih bertanggung jawab setiap kali ia marah. Sadarkan si Kecil tahu kalau sikap agresif tidak bisa diterima oleh siapapun dan tidak bisa diperbolehkan.

Sikap yang yang bisa Ibu tunjukkan padanya agar bisa ia contoh, misalnya:

  • Saat Ibu marah, segera minta maaf pada si Kecil. Jelaskan padanya bahwa tingkah lakunyalah yang telah membuat Ibu marah.
  • Perhatikan nada suara yang rendah dan postur tubuh yang tidak kaku saat sedang mendisiplinkan si Kecil. Anak-anak mudah sekali terpengaruh bahasa tubuh verbal maupun nonverbal yang dilihatnya, dan kadang-kadang ‘termakan’ kemarahan Ibu.
  • Tunjukkan perasaan Ibu setiap kali si Kecil dapat mengerem kemarahannya, misalnya dengan menciumnya secara spontan.

Kebanyakan anak saat masuk ke sekolah dasar sudah memiliki kemampuan sosial dan pengendalian diri, sehingga ia tetap bisa tenang dan kooperatif bahkan saat dihadapkan dengan keadaan yang kurang menyenangkan. Dan yang menguntungkan, sikap seperti itu tidak mencegahnya dari kesempatannya untuk bersaing dan bekerja keras untuk meraih kompetensi.