Share Like
Simpan

Kesehatan balita merupakan satu dari sekian banyak hal yang menjadi prioritas setiap orang tua. Mulai dari memberikan imunisasi hingga memerhatikan asupan nutrisi si Kecil. Saya dulu juga begitu, Bu. Sebisa mungkin, saya mencoba untuk mengikuti jadwal imunisasi yang dianjurkan oleh pemerintah, diimbangi dengan berusaha memberikan ASI eksklusif dan MPASI sehat untuk mendukung kebutuhan gizinya.

Namun kondisi si Kecil tidak sepenuhnya sehat terus, Bu. Suatu hari, saya mendapati si Kecil mengalami batuk dan pilek yang tak kunjung sembuh. Sebagai salah satu cara menjaga kesehatan balita, saya sempat memberikannya obat alami seperti madu sebagai pertolongan pertama, namun tidak berhasil dengan baik. Akhirnya, saya memutuskan untuk memeriksakan ke dokter agar ia mendapat penanganan lebih lanjut dan segera diberikan obat atau antibiotik untuk meredakan sakitnya. Sedihnya melihat ia tak nyaman dengan kondisinya saat itu.

Nah, tepat sebelum saya membawa si Kecil ke dokter, saya sempat membaca sebuah artikel mengenai perlu atau tidaknya memberikan antibiotik kepada balita saat sakit. Artikel tersebut menyebutkan bahwa antibiotik hanya dapat mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri, jamur, atau parasit. Saat melihat tulisan tersebut, saya jadi tahu bahwa tak semua penyakit perlu dirawat dengan antibiotik, seperti:

1. Pilek atau flu

Kondisi yang sering menyerang orang dewasa dan anak-anak ini merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus. Oleh sebab itu, gangguan kesehatan balita ini tak membutuhkan antibiotik untuk meredakannya. Sebaliknya, Ibu bisa memberikan si Kecil obat khusus pilek atau flu yang dijual di apotek dan khusus untuk anak di bawah tiga tahun.

2. Gangguan pernapasan (batuk atau bronkitis)

Berdasarkan info kesehatan balita yang saya baca di internet, jika si Kecil mengalami batuk, biasanya kondisi ini disebabkan oleh virus dan bukan bakteri. Berbeda jika ia mengalami batuk yang terjadi selama lebih dari 3 minggu, kemungkinan besar si Kecil alami adalah gangguan pernapasan yang disebabkan oleh bakteri dan bisa jadi butuh antibiotik sebagai salah satu tindak penanganannya.

3. Sakit tenggorokan

Tenggorokan sakit sering kali menjadi awal mula gelaja pilek. Biasanya rasa sakit yang dialami pada bagian ini akan mereda seiring dengan sembuhnya penyakit pilek yang ia alami. Mengingat kondisi ini disebabkan oleh virus yang berasal dari alergi, polusi, ataupun udara kering, Ibu tak perlu memberikannya antibiotik sebagai obat.

Berbeda dengan radang tenggorokan yang sering kali disalahartikan dengan sakit tenggorokan. Dua hal ini merupakan kondisi yang berbeda karena penyebabnya pun tidak sama. Supaya lebih akurat, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan seperti melihat adanya bercak putih atau pembengkakan pada amandel dan kelenjar di bagian leher atau rahang.

4. Radang telinga tengah ringan

Pada umumnya, penyakit radang yang dialami balita akan disertai dengan demam.Untuk gejala radang telinga tengah ringan, demam biasanya akan berangsur membaik selama satu hingga dua hari. Jika kondisi seperti ini yang dialami oleh si Kecil, itu tandanya ia tak membutuhkan antibiotik. Sebaliknya, apabila demam yang dialaminya tak kunjung membaik selama dua hingga tiga hari sejak munculnya gejala, maka Ibu perlu segera membawanya ke dokter untuk mendapatkan antibiotik.

Nah, itulah empat jenis penyakit yang tak membutuhkan antibiotik sebagai perawatan pertama. Perlu dicatat pula, apabila Ibu memberikan antibiotik untuk si Kecil tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, ia berisiko mengalami resistensi antibiotik, yaitu kondisi di mana tubuhnya menolak efek dan fungsi obat tersebut. Semoga informasi dari saya bermanfaat ya, Bu. Tetap semangat dalam menjaga kesehatan balita!