Hai Bunda, daftar disini

Aulia Saputri

Aulia Saputri

Umum

Bayi Sakit Tak Selalu Disertai Demam

Lantas bagaimana mengenali sakit pada bayi jika tak muncul demam?
"Memang, semua anak, tak terkecuali bayi, memiliki sensor atau kemampuan menaikkan suhu tubuh sebagai reaksi melawan penyakit akibat kuman ataupun virus yang menyerang tubuhnya," kata dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Akan tetapi, lanjutnya, seringkali pada bayi, terlebih bayi berusia di bawah 3 bulan, tidak menunjukkan gejala naiknya suhu tubuh. Sekalipun sebenarnya tubuh si bayi sedang berperang melawan serangan virus atau kuman. "Hal ini dikarenakan sistem sensor panas di tubuh bayi belum sempurna. Jadi, sekalipun penyakit sudah berada di dalam tubuh bayi atau si kecil sudah mengalami dehidrasi, tetapi karena chip atau pusat otak belum menerima sinyal melakukan tindakan, otomatis tubuh si kecil tidak memberitahukan bahwa dirinya sedang dalam bahaya," papar Zakiudin.

Syukur-syukur "tentara" di tubuh si kecil bisa menang memerangi "makhluk asing" yang bisa merugikannya itu. Jadi sekalipun tak terpantau, si kecil bisa tetap sehat dan tidak terjadi hal yang tak diinginkan. Namun bila yang terjadi sebaliknya, kita seringkali kecolongan. "Saat datang kontrol, penyakit yang diderita si bayi sudah parah. Kondisi ini terjadi karena orang tua menganggap, selama bayinya tidak panas, ya, tidak sakit. Tidak mau makan dianggap wajar, namanya juga bayi. Padahal seharusnya tidak demikian."

KENALI BAYI ANDA
Karena itulah, anjur Zakiudin, dalam merawat bayi, orang tua hendaknya tidak melulu berpatokan pada termometer alias ada-tidaknya demam. Orang tua harus mampu mengenali bayinya.

Untuk itu, orang tua perlu melakukan pengamatan sebagai berikut:
1. Apakah hari itu si kecil minum ASI-nya masih seperti hari-hari kemarin?
2. Apakah nafsu makannya (Makanan Pendamping-ASI) masih tetap tinggi seperti hari-hari sebelumnya?
3. Apakah si kecil cerewetnya tidak berubah alias tidak mendadak menjadi pendiam?
4. Apakah sorot matanya tetap tajam dan lincah?
5. Apakah tetap aktif dan lincah dalam bergerak?
6. Apakah fisik bayi tak ada yang berubah atau ada sesuatu yang janggal (tidak seperti biasanya)?
7. Apakah BAB dan BAK normal dan lancar?
Nah, jika jawaban yang muncul dari hasil pengamatan kita adalah kebalikannya, "Jangan tunggu besok, atau melakukan 'upacara adat' ini-itu. Saat itu juga lekas bawa ke dokter atau rumah sakit sekalipun si bayi tidak mengalami demam!" tegas Zakiudin.
Memang, bisa jadi si kecil menolak makan cuma karena sariawan. "Tetapi apakah orang tua bisa memeriksa sampai sedetail itu? Jadi, daripada kondisi anak bertambah parah dan diagnosa orang tua meleset, kenapa tidak lebih baik ditangani oleh ahlinya saja?"

PENGOBATAN FISIOLOGIS
Sebaliknya, jika si kecil tetap aktif, lincah, nafsu makan bagus, minum susu oke, kondisi fisik baik, buang air besar dan kecil lancar, tapi suhu tubuhnya naik kurang lebih 37,50C, menurut Zakiudin, orang tua bisa melakukan tindakan-tindakan untuk mengobatinya sendiri di rumah secara fisiologis, yakni:
1. Berikan keleluasan suhu tubuh si kecil untuk bisa bersirkulasi dengan baik. Hindari pengenaan selimut atau baju tebal. Malah jika perlu telanjangi saja si kecil. Pendingin udara sangat boleh kita aktifkan. Justru dengan adanya pendingin udara bisa memberi keleluasaan yang lebih besar bagi panas tubuhnya untuk keluar.
2. Berikan minum yang banyak. Dengan cara ini diharapkan si kecil bisa BAK sebanyak-banyaknya, sehingga bisa membantu kelancaran sirkulasi suhu tubuh.
3. Lakukan kompres air hangat. Menurut hasil penelitian dan penemuan terbaru di dunia kedokteran, pemberian kompres air hangat paling baik di area tubuh yang mudah terekspos, seperti dada, perut atau dahi. Dengan demikian pembuluh darah akan melebar dan ini tentunya mempermudah serta memperlancar sirkulasi suhu tubuh.
Sebaiknya tidak mengompres di area pembuluh darah besar karena pembuluh darahnya tidak bisa melebar lagi, di ketiak dan selangkangan, misalnya. "Memang dulu ada anggapan kompres dengan air dingin hingga pengompresan dilakukan di area pembuluh darah yang banyak, tapi cara tersebut sudah tidak berlaku lagi," kata Zakiudin. Kompres dengan air dingin justru semakin mengerutkan pembuluh darah dan bisa terjadi pembohongan tubuh. Maksudnya, kompres air dingin memang bisa mendinginkan suhu tubuh, tapi itu hanya beberapa saat saja. "Malah setelah itu bisa jadi suhu tubuh anak semakin panas, karena sensor suhu tubuh di otak akan menaikkan panas tubuh. Berbeda jika kompres dengan air hangat, sensor akan memerintahkan tubuh untuk menurunkan suhu tubuhnya."

Nah, dengan pengobatan fisiologis ini, lanjut Zakiudin, pertahanan tubuh bayi akan terstimulasi menjadi lebih kuat. Tetapi ingat, cara-cara tersebut dilakukan selama si kecil tidak mengalami kejang! "Kalau sudah kejang, tak ada kata lain, usahakan lidah bayi tak tergigit dan saat itu juga bawa ke dokter," anjurnya.

BERIKAN OBAT PENURUN PANAS
Jika dengan penanganan fisiologis ternyata suhu tubuhnya tak kunjung reda atau sembuh dalam 1x24 jam, bisa jadi panas tubuh si kecil itu karena faktor nonfisiologis. Penanganan yang harus orang tua lakukan adalah:
1. Tetap menjalankan penanganan secara fisiologis.
2. Berikan obat penurun panas. Jika tidak kunjung reda setelah diberi obat, atau panasnya naik kembali selang 2 jam setelah minum obat, atau panasnya tambah tinggi, dan si anak rewel, menolak makan-minum, "Lekas larikan ke dokter. Nanti dokter akan mencari penyebabnya untuk diobati," kata Zakiudin.
3. Sebaliknya jika kondisi bayi cenderung membaik, "Orang tua boleh melihat perkembangannya hingga dua hari ke depan." Jika semakin membaik dengan ciri tidak panas lagi atau berangsur-angsur menurun, aktivitas hingga makan dan minum kembali seperti semula, bersyukurlah. Tetapi jika di hari ketiga si bayi kembali panas dan aktivitasnya menurun, lekas bawa ke dokter.

Dalam kaitan dengan penanganan demam pada bayi ini, Zakiudin menyarankan orang tua untuk selalu menyediakan termometer, pakaian yang menyerap keringat dan tidak bikin gerah, termos air panas dan dingin, serta obat penurun panas.

Untuk obat penurun panas kita bisa menyediakan obat dari golongan parasetamol dan ibuprofen. "Obat-obat ini relatif aman sebagai obat pertolongan pertama menurunkan demam pada bayi." Yang perlu diketahui, parasetamol hanya mampu dan efektif menurunkan panas tubuh yang biasa atau tidak terlalu tinggi, 38-390 C. Sedangkan ibuprofen ampuh menurunkan panas tubuh yang tinggi. "Tapi keduanya cuma memiliki kemampuan menahan panas tubuh selama 8 jam."

Jika si kecil tak bisa atau susah mengonsumsi obat lewat mulut, "Orang tua boleh menyediakan di rumah obat penurun panas yang dimasukkan lewat anus." Justru obat seperti inilah yang daya kerjanya lebih cepat karena lebih mudah diserap oleh tubuh. Tapi ingat, harus dengan sepengetahuan dokter.

Kita boleh saja menyediakan 3 tiga jenis obat tersebut di rumah. Akan tetapi yang harus diingat, kata Zakiudin, "Orang tua tak boleh lantas percaya bayinya sudah sembuh walau panas tubuhnya turun setelah minum obat." Sembuh tidaknya baru bisa dilihat jika bayi tak diberi obat suhu tubuhnya normal, tetap ceria, tetap aktif, makan-minumnya normal dan banyak.
Bila si kecil mengalami demam/panas hampir setiap minggu, jelas tak wajar. "Ini harus diperiksa lebih jauh lagi dengan saksama." Tak menutup kemungkinan, kekebalan tubuhnya tidak baik. Karena wajarnya, demam pada bayi terjadi 2 bulan sekali atau paling cepat 1 bulan sekali, selama lingkungannya sehat.

DUA PENYEBAB DEMAM
Menurut Zakiudin, demam bisa dikarenakan faktor fisiologis atau faktor akibat.
1. Demam karena faktor fisiologis
Panas atau demam yang terjadi adalah reaksi tubuh melawan kuman yang menyerang. Jadi, panas tubuh si kecil itu tanda bahwa sistem imunitas tubuhnya sedang bekerja membunuh penyakit yang datang. "Jadi kalau tubuh anak atau bayi panasnya baru 38 derajat Celcius dan tidak rewel, lebih baik jangan diberi obat penurun panas. Biarkan saja, karena dengan suhu tubuh tertentu penyakit yang menyerang bisa mati."
Dalam otak manusia, termasuk bayi, mempunyai sensor/pusat pengatur suhu. Karena inilah kenapa tubuh kita tak terpengaruh dengan suhu lingkungan, alias bisa menyesuaikan diri. Berbeda dengan ikan, jika di air dingin maka suhu tubuhnya dingin, dan jika di air yang panas suhu tubuhnya pun panas.
Jadi, panas tubuh anak/bayi yang meningkat itu mungkin disebabkan kondisi suhu lingkungan yang terlalu dingin. "Karena itulah suhu tubuh manusia pada malam hari cenderung lebih panas."

2. Demam karena faktor akibat
* Akibat infeksi
Saat imunitas bekerja memerangi kuman, dia mengeluarkan zat-zat tertentu yang merangsang panas tubuh menjadi meningkat. Begitu juga kala imunitas tubuh si anak/bayi kalah, dia akan megeluarkan zat tertentu yang juga merangsang naiknya suhu tubuh. Sebaliknya, kuman yang mati oleh imunitas tubuh pun akan mengeluarkan zat tertentu yang merangsang naiknya suhu tubuh.
Biasanya panas tubuh atau demam karena faktor inilah yang bisa menyentuh level menghawatirkan, di atas 39 derajat Celcius, bahkan bisa di atas 40 derajat Celcius. "Nah, di sini umumnya jika si anak tidak kuat atau mempunyai riwayat kejang, dia akan kejang-kejang." Karena itu, lanjut Zakiudin, jika panasnya tinggi perlu diberikan obat penurun panas.

* Akibat dehidrasi atau kurang cairan
Anak/bayi yang mengalami diare, kurang minum, hingga kekurangan cairan tubuh bisa mengalami demam juga. "Cirinya, suhu tubuhnya paling tinggi 380 C." Ciri lainya: mencret-mencret, sering BAB, loyo, lemah, letih lesu, dan tak bergairah.
Jika dehidrasinya dibarengi komplikasi lain, semisal ada serangan virus, jelas suhu tubuhnya akan semakin tinggi. Bisa saja menyentuh level di atas 400 C.

MENANGANI KEJANG
Jika anak punya riwayat kejang, pesan Zakiudin, jangan tunggu hinga tiga hari. Lekas detik itu juga bawa ke dokter. Kecuali bila kita mempunyai obat penurun panas dari dokter yang sudah ada obat antikejang, "Orang tua bisa sedikit lega karena boleh saja membawa anak ke dokter beberapa saat kemudian setelah minum obat tersebut."

Penanganan pertama yang bisa dilakukan orang tua adalah:
1. Buka seluruh pakaiannya untuk memudahkan sirkulasi panas tubuh anak/bayi.
2. Hati-hati, cegah jangan sampai lidahnya tergigit. Caranya, ganjal gigi anak/bayi dengan dengan benda yang tak membahayakan.
3. Berikan obat antikejang/penurun panas lewat anus.

Komentar
0 Komentar