Hai Bunda, daftar disini

Herlya Inda

Herlya Inda

Umum

ASI eksklusif usai, saatnya bunda memilih susu fprmula yang tepat.


Teknologi pembuatan sufor (susu formula) boleh dibilang maju pesat; kandungan nutrisinya diiklankan makin mendekati ASI. Apa pun isinya, yang pasti komposisi susu formula harus mengikuti aturan yang dibuat badan dunia yang disebut Codex Alimentarius Comission. Menurut Codex, senyawa tambahan yang telah terbukti secara ilmiah bermanfaat serta aman dikonsumsi bayi adalah DHA, nukleotida dan taurin.

“Melengkapi” Codex, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI juga membuat aturan berkaitan dengan susu formula. Dalam Peraturan Kepala Badan POM RI Nomor HK.00.05.1.52.3572, Juli tahun 2008 yang dikeluarkan oleh KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA Dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, MS, MKes, SpFK tentang penambahan zat gizi dan non-gizi dalam produk pangan, di antaranya adalah:

* Penambahan Arachidonic Acid (ARA) dan Docosahexaenoic Acid (DHA) pada Formula Bayi wajib memenuhi persyaratan rasio ARA : DHA = 1-2 : 1
* Kandungan Eicosapentaenoic Acid (EPA) yang mungkin terdapat dari sumber-sumber Long Chain Poly Unsaturated Fatty Acid (LC-PUFA) tidak boleh melebihi kandungan DHA.
* Sumber DHA dan ARA yang dibolehkan adalah single cell oil dari ganggang Cryptocodium cohnii (DHASCO) dan single cell oil dari fungus Mortierella alpina (ARASCO).

Peraturan tersebut juga menyebutkan, informasi tentang kandungan ARA dan DHA hanya dapat dicantumkan dalam informasi nilai gizi. Selain itu, produsen susu formula juga dilarang menambahkan senyawa lutein, sphingomyelin dan gangliosida pada produknya, karena sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang membuktikan zat itu bermanfaat (klik http://www.pom.go.id).

“Bahkan di negara asal produsen susu formula tersebut, bahan-bahan tambahan seperti itu tidak digunakan,” demikian Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) dari Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik RSUPN Ciptomangunkusumo Jakarta. Lebih lanjut dr. Damayanti mengingatkan, penggunaan zat probiotik dalam susu formula juga sia-sia. “Karena, berdasarkan peraturan WHO (2009), pembuatan susu formula bubuk harus dengan air panas bersuhu 70°C untuk mencegah berkembangnya kuman E. sakazakii. Padahal, suhu 70°C justru merusak kandungan probiotik.”

Sebagai alternatif, Anda dapat memberikan yoghurt sebagai minuman yang mengandung probiotik. Jika bayi masih di bawah setahun, berikan saja yoghurt khusus untuk bayi. Di pasaran dijual yoghurt untuk anak usia 6-12 bulan dengan merek Yoplait ‘Petit Miam”. Di atas setahun dapat diberikan yoghurt berbahan dasar susu biasa.

Perlu diingat:

* Anak usia di bawah 1 tahun tidak boleh minum susu sapi segar karena kandungan natrium, protein dan elektrolitnya tinggi sekali. Organ ginjal bayi di usia ini belum berfungsi sempurna, sehingga jika dipaksa bekerja keras bisa rusak.
* Kebutuhan susu anak usia di atas 1 tahun juga bisa dari susu sapi cair (pasteurisasi dan UHT). Komposisi asupan makanan pada anak di usia ini adalah 2/3 dari makanan keluarga dan 1/3 dari susu.

sumber:ayahbunda

Komentar
0 Komentar