Ketika si kecil melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah dasar, biasanya berbagai kekhawatiran mulai menghinggapi pikiran orangtua. Bisakah ia beradaptasi dengan lingkungan barunya? Siapkah ia menerima pembelajaran? Apakah ia (masih) bisa melewatkan hari-harinya dengan riang gembira?
Jenjang sekolah dasar (SD) menjadi pijakan pertama bagi anak-anak dalam proses belajar formal. Karena pendidikan formal biasanya dimulai ketika anak berusia 6 tahun. Sebelum masuk pada jenjang pendidikan ini, anak-anak umumnya ‘hanya’ bermain dan mengeksplorasi segala aspek kecerdasannya di preschool dan Taman Kanak-Kanak (TK). Berbagai aspek kecerdasan ini meliputi kecerdasan motorik halus, kasar, kognitif, sosial, bahasa, dsb.

Akan tetapi begitu memasuki jenjang SD, umumnya anak-anak diharapkan sudah bisa membaca. Tuntutan ini kemudian membuat banyak orangtua yang ‘membombardir’ anak-anaknya untuk berusaha keras belajar membaca saat duduk di bangku TK. Berbagai cara pun ditempuh, seperti memasukkannya ke berbagai kursus agar kemampuan membaca, menulis maupun berhitung, bisa cepat dikuasai anak. Hal ini dilakukan dengan harapan begitu memasuki bangku SD, si kecil sudah mampu membaca dengan lantang dan memiliki kemampuan memahami bacaan dengan sangat jelas. Meskipun demikian, cara ‘membombardir’ seperti ini ternyata tidak bisa membantu mencapai harapan dan keinginan para orangtua.

Belajarlah Sedini Mungkin
Mulailah mengajarkan anak membaca sejak dini. Ada banyak alasan yang mendukung agar program pembelajaran ini bisa dilakukan sedini mungkin, bahkan bukan tidak mungkin untuk dilakukan oleh bayi baru lahir sekalipun. Salah satu alasannya adalah karena masa ini merupakan periode Brain Growth Spurt. Otak merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai pusat kontrol dan kendali atas semua sistem di dalam tubuh. Pusat kecerdasan atau pusat kemampuan berpikir ini mulai dibentuk selang beberapa saat setelah terjadinya proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma (konsepsi). Dalam perkembangan otak ada periode yang dikenal sebagai periode pacu tumbuh otak (brain growth spurt) yaitu saat dimana otak berkembang sangat cepat. Periode pacu tumbuh otak kedua terjadi setelah si kecil lahir hingga ia berusia 36 bulan.

Proses pertumbuhan otak berjalan sesuai dengan pertumbuhan badan. Ketika seorang anak berusia 5 tahun, pertumbuhan otaknya sudah 80% sempurna. Sehingga, saat anak mencapai usia 6 tahun proses pertumbuhan otaknya bisa dikatakan sudah sempurna.

Brain growth spurt ini bisa dioptimalkan apabila didukung oleh asupan nutrisi yang tepat. Saat janin di kandungan, tentu asupan gizi yang diberikan Ibu sangat menentukan optimalisasi pertumbuhan otaknya. Setelah melahirkan pun, pemenuhan nutrisi bisa dilakukan dengan memberikan ASI eksklusif sejak hari pertama kelahirannya hingga usia 6 bulan. Selain membutuhkan nutrisi yang cukup untuk merangsang pertumbuhan, Si Kecil juga membutuhkan rangsangan berupa stimulasi. Dengan memberikan stimulasi sejak dini pada bayi, artinya kita telah membantu merangsang otak melalui kelima indera yang dimiliki si kecil, seperti indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan dan penciuman.

Dari segi perkembangan organisasi dan fungsi otak, stimulasi dini dapat mempercepat semua aspek perkembangan anak sehingga dapat meningkatkan potensi otak anak. Hal penting yang perlu diingat adalah dua tahun pertama kehidupan anak adalah masa pertumbuhan sel-sel otak tercepat di masa tumbuh-kembangnya. Jadi, jangan sampai orangtua kehilangan kesempatan emas untuk memaksimalkan kecerdasan si kecil.

Dengan memulai proses pembelajaran sedini mungkin, sel-sel otak si kecil pun akan berkembang secara optimal.

Begitu dilahirkan ke dunia, si kecil sudah belajar mengisap puting susu ibunya untuk memperoleh ASI pertamanya. Seiring dengan pertumbuhannya, ia mulai belajar mengenali suara ibunya dan orang-orang di sekitarnya. Si kecil pun mulai menjelajahi ‘dunianya’ dengan caranya sendiri yaitu dengan berguling, merangkak, kemudian berjalan.

Pendek kata, tiada hari tanpa belajar! Karena balita sangat senang belajar.


Belajarlah dengan Cara Menyenangkan

Karena balita senang mempelajari apa saja, tentunya ia akan menyukai aktivitas belajar seperti membaca. Karena sebenarnya proses belajar membaca pada bayi akan menstimulasi indera penglihatannya. Begitu lahir, seorang bayi hanya bisa melihat terang dan gelap. Ia belum bisa melihat suatu bentuk ataupun warna-warna lain yang lebih beragam. Dalam jam-jam pertama kehidupannya, dia mulai bisa melihat secara samar suatu bentuk dalam waktu yang singkat. Pada masa ini orangtua sangat berperan untuk meningkatkan kemampuan penglihatan bayi dengan melakukan berbagai stimulasi, comtohnya dengan memperlihatkan benda-benda dengan bentuk dan warna yang mencolok.
Cara lain untuk menstimulasi penglihatan adalah dengan memperlihatkan bentuk kata-kata pada bayi dengan huruf besar. Dengan melakukan stimulasi secara terus-menerus, si kecil akan menjadi terbiasa untuk mengembangkan kemampuan visualisasinya secara detil. Optimalisasi kemampuan ini semata-mata hasil dari stimulasi dan pemanfaatan kesempatan belajar, dan tidak berhubungan dengan masalah genetika.

Ketika Anda memperlihatkan karton yang berisikan kata tunggal yang ditulis dengan huruf-huruf besar. Anda sebenarnya sedang menumbuhkan daya penglihatannya. Stimulasi visual memiliki banyak keuntungan, antara lain meningkatkan keingintahuan, konsentrasi, dan kemampuan memperhatikan objek tertentu.

Dukungan Lingkungan yang Kaya Stimulus

Para orangtua harus memahami bahwa semua balita mempunyai potensi dan kemampuan yang luar biasa. Karenanya kita harus yakin bahwa anak-anak bisa mempelajari berbagai hal, apabila kita memberikan kesempatan belajar yang optimal untuk mereka. Dengan memberikan stimulus artinya kita sebagai orangtua harus cukup pintar untuk mengajari si kecil dengan benar. Cinta, perhatian, pelukan merupakan kebutuhan utama anak-anak. Cinta dan kasih sayang Anda yang nyaris tak terbatas akan mendorong kepercayaan diri dan meningkatkan perkembangan sirkuit otak bayi. Peluk dan belailah si kecil sesering mungkin dan komunikasikan segala sesuatunya dengan nada bicara yang lembut, karena sebenarnya suara lembut Anda adalah suara favoritnya.
Bayi yang mendapatkan stimulasi secara tepat dan berkesinambungan tentu akan menghasilkan perkembangan otak yang lebih optimal. Dengan memberikan lingkungan yang kaya akan berbagai stimulus otak dan rangsangan, diharapkan perkembangan fisik, mental dan intelektual si kecil akan meningkatkan kemampuan dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri anak Anda. Karena pengalaman dan stimulasi yang diterima pada tahun pertama kehidupan akan sangat berpengaruh pada perkembangan dan fungsi otaknya di kemudian hari.

Sumber:2006. World Book's Childcraft - Guide And Index. Chicago: World Book, Inc.