Anak kreatif bukan dilihat dari apa yang mereka lakukan, melainkan cara mereka melakukannya.

Cerdas saja dirasa kurang untuk meraih keberhasilan atau memecahkan masalah. Anak juga harus kaya ide dan kreatif, selain memiliki kematangan emosi. Yang menjembatani antara tahap pengelolaan kognisi dan tahap eksekusi agar memiliki prestasi atau hasil yang meyakinkan adalah kreatifitas .Bagaimana orang tua mendidik anak agar memiliki kreativitas adalah susah-susah gampang .

Psikolog perkembangan anak Universitas Paramadina, Alzena Masykouri MPsi, mengatakan, kreativitas adalah istilah yang sangat sering digunakan dalam dunia pengasuhan dan juga pendidikan . Secara definitif, awalnya kreativitas mengacu pada kemampuan seseorang untuk menghasilkan suatu karya yang belum pernah dipikirkan dan dibuat orang lain (orisinil) juga bermanfaat. Kini istilah kreativitas sudah semakin meluas maknanya. Kreatif dan kreativitas lebih mengacu pada pada kemampuan membuat sesuatu yang bernilai seni atau melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh kebanyakan orang.

Menurut Sri Syamsiah,Amd.OT, terapis okupasi dari klinik perhimpunan peduli anak, anak yang kreatif adalah anak yang bermain secara fungsional artinya mampu mengembangkan permainan dan juga menciptakan metode baru dalam permainan tersebut. Anak kreatif juga cenderung eksploratif dan dinamis, tidak selalu terpaku pada pola rutin atau satu pola saja. ”Umumnya anak kreatif cenderung fleksibel dalam cara berpikirnya,” katanya.

Alzena menjelaskan, kreativitas merupakan salah satu aspek kecerdasan. Namun,tak semua anak cerdas dikatakan kreatif. Anak dengan nilai IQ tinggi tak selalu memiliki kreativitas yang tinggi. Tes IQ mengukur pemikiran konvergen, yaitu anak berpikir hanya pada satu jawaban yang benar saja .


Jenis pemikiran ini diperlukan untuk proporsi yang amat besar dari tugas sekolah. Anak yang ber-IQ tinggi cenderung mendapat hasil yang baik di ujian sekolah. Sri menambahkan, anak cerdas belum tentu kreatif namun anak kreatif sudah pasti cerdas. Karena semakin banyak anak melakukan sesuatu yang bisa menstimulasi otak,maka kemampuan memori dan kognitifnya pun akan terus terasah. ”Besar kemungkinannya anak kreatif juga pandai di sekolah,” kata ahli terapi yang juga berpraktek di klinik Akita ini.

Berpikir Lateral

Kreativitas berkaitan dengan kemampuan berpikir divergen (devergent thinking). Yaitu kemampuan untuk berpikir, dari berbagai macam sudut pandang, memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan (berpikir lateral). Dengan kemampuan ini, anak memiliki berbagai cara penyelesaian saat menghadapi persoalan. ”Mungkin saja cara yang dipikirkannya belum pernah terpikir dan dicoba orang lain, sehingga berpotensi sebagai anak yang kreatif,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Alzena , selayaknya kecerdasan, kreativitas biasanya menonjol pada suatu area tertentu dan bidang lainnya yang berkaitan. Bidang non-eksakta bisa memberikan kesempatan yang lebih luas dalam penerapan kreativitas, misalnya bidang seni. Meskipun bidang eksak pun membutuhkan kemampuan berpikir divergen dan kreativitas dalam langkah-langkah penyelesaian masalahnya. Untuk dapat menyelesaikan persoalan matematika yang rumit, dibutuhkan kemampuan berpikir divergen dan kreativitas dalam menciptakan langkah-langkah penyelesaian.

Menurut Dorothy Einon, psikolog dari Universitas Colloge, London,dalam bukunya Creative Child, kreativitas pada anak bukanlah didapat dari sumbangan genetik orang tua atau keluarganya. Namun, budaya pola pengasuhan anak serta lingkungan yang memelihara keterampilan kita bisa diturunkan pada anak. Sayangnya, sering kali lingkungan menghalangi kreativitas anak, dan berulang terus.

Alzena menjelaskan, sejalan dengan kemampuan berpikirnya, anak dapat mulai distimulasi dan mengembangkan kemampuan berpikir divergen serta kreativitasnya mulai dari usia 2 tahun.

Pada usia tersebut, kondisi otak anak mulai mengalami peningkatan sampai 70-90 persen dari berat otak manusia dewasa. Di masa ini anak mengembangkan keterampilan yang bervariasi, termasuk di dalamnya kemampuan berpikir logis dan imajinasi. Dua kemampuan ini sangat berperan penting dalam berkembangnya kreativitas.

Menurut Alzena, berpikir konvergen berkembang secara alami, sedangkan divergen tidak berkembang dengan sendirinya. Namun, dengan bantuan dari lingkungan, yaitu orang tua dan metode pengasuhannya. Tugas orang tua yang paling penting adalah memberikan fasilitas dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya sesuai dengan tahapan perkembangan yang dimiliki. Berikut ini adalah kegiatan yang dapat dilakukan orang tua dalam mengembangkan kemampuan berpikir sekaligus kreativitas anak sesuai tahapan usianya.


Usia Prasekolah (2-5 tahun)

Alzena mengatakan, tugas utama dari anak-anak usia prasekolah adalah bermain. Melalui aktivitas bermain anak mempelajari berbagai konsep dasar yang akan sangat berguna dalam menjalani pendidikan formal kelak. Dengan bermain, kemampuan berpikir anak dikembangkan. Salah satunya dengan bermain pura-pura (make believe play).

Beri kesempatan pada anak untuk bermain pura-pura. Sediakan alat-alat yang menunjang permainan pura-pura. Tidak perlu mahal atau baru. Gunakan yang ada di sekitar kita. Sepatu ayah yang sudah tidak terpakai, kalung manik-manik ibu yang sudah ketingglan mode, panci bocor dari dapur, semuanya bisa menjadi alat permainan yang menarik bagi anak. Kotak-kotak bekas produk makanan pun bisa menjadi gedung atau benteng yang menarik bagi anak. Silinder bagian dalam tisu gulung pun bisa jadi teleskop seru bagi anak.

Ajak anak untuk bermain bersama. Pancing dengan topik menarik, misalnya perjalanan ke luar angkasa atau berkelana di padang pasir. Beri kesempatan pada anak untuk mengemukakan ide-idenya. Di sini saatnya orang tua hanya menjadi pengamat. Jangan kendalikan anak untuk bermain sesuai kehendak kita . Biarkan, tahankan diri anda untuk mengomentari. Beri kesempatan anak berimajinasi secara bebas. Bila perlu, pancing imajinasi dan kemampuan berpikir anak dengan pertanyaan. Biarkan mereka menjelaskan jawabannya.

Sikap menerima anak apa adanya dan bersikap sebagai fasilitator akan sangat bermanfaat bagi anak dalam mengembangkan kemampuannya untuk melihat berbagai kemungkinan dalam menyelesaikan persoalan. Jangan lupa, beri penghargaan atau pujian yang konstruktif setiap kali anak menunjukkan kemampuannya.

Usia Sekolah (7-12 tahun)

Alzena menjelaskan, suasana yang menunjang perkembangan kreativitas anak adalah perasaan bebas pada anak untuk mengemukakan pendapatnya. Ciptakan kebiasaan untuk bertanggung jawab. Anak-anak bebas untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan atau menantang pendapat, tetapi dengan tetap menghormati pendapat yang diajukan orang lain. Beri pula kesempatan dan fasilitas bagi mereka untuk mencari referensi yang mendukung pendapat mereka.

Anak perlu diberi semangat untuk berpikir kreatif dan mengeksplorasi berbagi situasi atau kemungkinan atas suatu persoalan. Metode brainstorming atau mind mapping merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif. Biarkan ide-ide mereka tampil secara bebas, tanpa kritikan.

Lakukan diskusi dengan tema-tema yang menarik. Misalnya, apa yang akan terjadi di dunia bila manusia bisa terbang? Atau apa yang akan kita lakukan kalu adik bayi jadi dinosaurus?

Menciptakan Dunia Anak

Membuat kostum ksatria:
Cara membuat:
A. Buat pedang yang aman dari surat kabar yang digulung.
B. Buat perisai dari kotak kardus bekas.Potong bagian sisi kardus kemudian bentuk menjadi sebuah perisai. Buat celah di bagian tengah lembar karton tersebut sebagai pegangan tangan anak.
C. Buat baju perang sederhana dari dua bagian karton yang dihubungkan dibagian bahu . Menggunakan pita. Potong lengkungan untuk leher dan lengan. Lalu cat dengan warna abu-abu atau perak.

Yang dipelajari anak:
Membangkitkan imajinasi anak serta meningkatkan keterampilan menuturkan cerita, mengekspresikan diri, dan komunikasi.

Ekspresi Lewat Seni Musik

Simfoni botol selai:
Cara membuat:

• Carilah enam buah botol selai atau gelas.
• Masukkan air dalam volume yang berbeda-beda ke dalam masing-masing botol.
• Tunjukkan pada anak cara mengetuk setiap botol dengan sendok kayu untuk mengeluarkan not bunyi.

Yang dipelajari anak:
Anak bisa mengubah jumlah volume air untuk mengubah not dari botol sesuka hatinya . Biarkan anak Anda menyetel botolnya. Melalui permainan ini anak dapat mengekspresikan dirinya melalui musik serta mendorong kreativitasnya ketika ingin menghasilkan alunan nada yang di inginkan.

Dengan mempunyai kreativitas, anak akan tumbuh menjadi anak yang berani, percaya diri, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan mudah membuat keputusan yang sesuai saat menghadapi suatu masalah. Berikut tips bagi orang tua untuk mengembangkan kemampuan anak berpikir kreatif.

1. Memilihkan jenis mainan yang sesuai keinginan anak, terutama yang merangsang kemampuan anak berimajinasi, misalnya Lego.
2. Memberikan media atau permainan sebanyak-banyaknya.
3. Berikan penguatan dan dukungan untuk hal-hal baru yang ditemukannya.
4. Gunakan metode Mind Mapping karena akan mempunyai gambaran atau rencana dalam membuat hasil karya sehingga mampu bekerja secara terstruktur.