Ibu tentu sering mendengar istilah intelegensi atau IQ dan memahaminya sebagai ‘kecerdasan’. Mungkin Ibu pernah berkomentar bahwa si Kecil banyak akal, memiliki rasa ingin tahu yang besar dan cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Apakah ini merupakan tanda si Kecil cerdas?

Di balik kecerdasan, ternyata banyak hal yang terkait di dalamnya. Oleh ahli psikologi, IQ dikaitkan dengan suatu penilaian akal praktis, kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan, berpikir rasional dan kemampuan menangani masalah dengan efektif, kemampuan merencanakan, suatu perilaku yang terstruktur, serta kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah atau kesulitan. Jadi, bila Ibu berkomentar bahwa si Kecil banyak akal dan dapat mengatasi masalah yang dihadapinya, misalnya ia dapat menggeser meja di hadapannya saat akan berjalan dan meraih mainan di atas meja, atau mencari mainan yang disembunyikan di genggaman Ibu, apakah itu termasuk cerdas? Bagaimana kecerdasan atau IQ diukur?

Selama bertahun-tahun, tes intelegensi atau tes IQ sering menjadi tolok ukur kesuksesan di sekolah. Hal-hal yang diujikan dalam tes intelegensi memiliki penilaian yang kompleks dan skornya menunjukkan sejauh mana seseorang mendapatkan informasi dan pembelajaran, namun hendaknya tidak disamakan secara langsung dengan kecerdasan seseorang.

Parameter dalam tes IQ terus diperbarui dan salah satu yang digunakan hingga sekarang adalah metode Stanford Binet yang memfokuskan pada rentang usia tertentu. Skor normal metode tes IQ ini adalah 100. Metode tes intelegensi lainnya adalah menurut Wechsler, yang mempertimbangkan intelegensi merupakan bagian besar dari suatu kepribadian. Metode ini berdasarkan faktor analisis dan diproses menggunakan komputer.

Ahli lainnya, Louis Thurstone, mengemukakan pembagian IQ dalam sejumlah kemampuan dasar, yaitu pemahaman verbal (memahami arti kata), kelancaran kata (kemampuan menemukan kata dengan cepat), kemampuan berhitung dan memecahkan soal hitungan, kemampuan yang berkaitan dengan bentuk dan ruang, kemampuan mengingat, kecepatan memahami detil yang dilihat, dapat melihat persamaan dan perbedaan benda, dan penalaran.

Dengan mengukur intelegensi seseorang, berarti menilai secara kuantitatif (dengan angka) sejauh mana ia dapat memahami, menilai, dan berpikir lebih lanjut (penalaran) mengenai kenyataan yang ada dalam lingkungannya. Sedangkan dari segi pendidikan, intelegensi merupakan kemampuan menggunakan potensi seseorang untuk belajar, termasuk ingatan yang diperoleh dari pengalaman penglihatan, pendengaran, imajinasi dan penalaran. Jadi seorang anak dikatakan cerdas apabila ia memiliki pengamatan yang tajam, daya imajinasi yang kuat, dan penilaian yang tepat serta penalaran yang lurus dan daya konsentrasi serta daya ingat yang kuat.

Nah ibu, walau hasil skor tes IQ mungkin memang merupakan suatu petunjuk kemampuan seseorang, tetapi juga merupakan cerminan dari sikap dan karakteristik yang dipelajari dari pengalaman. Perkayalah pengalaman si Kecil agar kecerdasannya berkembang optimal. Untuk menunjang perkembangan kecerdasan si Kecil, berikanlah stimulasi dan nutrisi yang terbaik baginya.