Menerapkan disiplin sejak dini merupakan salah satu bagian penting dari parenting, dan juga paling sulit. Agar lingkungan keluarga menjadi nyaman, terapkanlah disiplin yang sehat sedini mungkin. Bagaimana caranya?

Disiplin yang positif mengajarkan dan menjadi acuan bagi si Kecil, yang akan membantu si Kecil tumbuh bahagia, peduli, percaya diri, menghormati orang lain serta mampu membantu mengatasi masalah dan menghadapi kehidupan.

Disiplin positif juga membantu si Kecil membangun kemampuan berpikir dan bersosial, dan membangun keyakinan akan kemampuannya. Penerapan disiplin pada si Kecil dipengaruhi oleh usia, tahap perkembangan, kepribadian dan banyak faktor lainnya. Kenali perkembangan yang terjadi pada si Kecil agar Ibu dapat menerapkan disiplin sesuai dengan pemahamannya di tahap tersebut.

Berikut hal-hal yang bisa membantu Ibu mempermudah penerapan disiplin pada si Kecil :

Jangan berharap terlalu tinggi, pahami tahap perkembangan si Kecil, sehingga Ibu akan mengetahui perilaku apa yang bisa Ibu harapkan pada anak seusia si Kecil. Jika Ibu memahami tahapan perkembangan si Kecil, maka Ibu tidak akan terlalu frustrasi menghadapi perilaku si Kecil. Harus diingat bahwa tingkat kematangan setiap anak berbeda.

Bersabar, merupakan kunci utama. Ibu ibarat sedang menanamkan benih disiplin, yang tentunya tidak akan tumbuh dalam waktu sekejap. Strategi disiplin yang Ibu terapkan mungkin tidak akan langsung membuahkan hasil. Terkadang si Kecil ingin mencari tahu terlebih dahulu mengapa Ibu melarangnya melakukan sesuatu. Si Kecil akan melakukannya dan melihat konsekuensinya. Jika memang ternyata tidak menyenangkan, barulah dia akan menuruti kata-kata Ibu.

Menghargai perasaan si Kecil. Ketika menerapkan disiplin sebaiknya Ibu bersikap tegas tetapi tetap hangat. Dengarkan pendapat si Kecil, hargai perasaannya dan tentukan batasan ketika perilakunya tidak baik. Selalu tanyakan alasan si Kecil melakukan hal-hal yang kurang baik. Hal ini mengajarkan empati dan kasih sayang.

Mendengar. Jangan hanya mengatakan keinginan Ibu, tapi dengarkan juga alasan si Kecil. Hal ini akan membantu mengembangkan rasa percaya diri si Kecil.

Berikan contoh yang baik. Sangat penting untuk memberikan contoh yang baik. Melihat orangtua berperilaku santun, anak pasti akan meniru. Demikian pula sebaliknya, melihat orangtua berperilaku tidak baik, bisa dijadikan alasan si Kecil untuk juga berperilaku negatif. Jika suatu waktu tanpa disadari Ibu melakukan hal negatif di depan si Kecil, katakan bahwa “Itu tidak baik, tidak seharusnya Ibu bersikap seperti itu, seharusnya begini”.

Tentukan batasan. Untuk mengajari si Kecil mengikuti aturan yang berlaku, lakukan tindakan jika si Kecil melanggar aturan itu. “Ayo matikan televisinya, sekarang waktunya Adek tidur siang”. Jika si Kecil tetap asyik menonton, katakan “Ibu akan matikan televisinya ya. Kalau besok Adek masih seperti ini, Ibu tidak akan membolehkan Adek nonton acara kesukaan kamu”.

Hindari kata “jangan”. Menghadapi sikap si Kecil yang kurang baik, Ibu cenderung untuk memberikan pernyataan negatif seperti “jangan nakal”, “jangan berdiri di kursi” dan banyak lagi “jangan” lainnya. Sebaiknya tidak demikian. Orangtua seringkali mengatakan ‘jangan begitu’ tetapi tidak memberitahukan ‘harus bagaimana’. Katakan sikap yang ingin Ibu lihat. Jadi ketika melihat si Kecil berdiri diatas kursi, katakan “Ayo duduk yang manis, nanti Adek bisa jatuh loh kalau berdiri di kursi seperti itu”.

Abaikan hal tertentu. Jika si Kecil dan kakaknya kejar-kejaran dalam rumah, jangan langsung melarangnya. Anak kadang melakukan sesuatu karena mereka mengeksplorasi ketrampilan baru atau mungkin karena mencari perhatian. Jika yang dilakukannya tidak membahayakan dirinya, biarkan saja, tapi tetap diawasi. Biasanya si Kecil akan berhenti dengan sendirinya jika Ibu tidak memberikan respon, dan Ibu pun akan merasa lebih tenang, tidak perlu teriak-teriak melarang si Kecil.

Tidak setiap anak sama. Jika kakaknya cukup dengan diberitahu secara lisan bahwa sikapnya tidak baik, mungkin si Kecil tidak demikian. Bersikap tegas dengan si sulung tetapi bersikap lembut dengan si bungsu, bukan berarti tidak konsisten atau pilih kasih. Setiap anak memiliki kebutuhan dan gaya pembelajaran sendiri, sehingga respon Ibu pun harus disesuaikan dengan watak/tabiat anak.